Amang juga bisa mengerjakan satu bayi dengan orang tua tiga atau empat orang. Tapi ia tidak mau mengerjakannya. Meski secara ilmu pengetahuan itu sudah bisa ia lakukan, nurani dokter asal Jember ini belum bisa menerima.
Misalnya: embrio dari satu orang dikawinkan di lab dengan sperma laki-laki siapa pun. Lalu benih itu ditaruh di kandungan wanita yang lain lagi yang ingin punya anak.
Kini, kata Prof Amang, juga sudah bisa dilakukan: embrio bibit unggul dari wanita tertentu disimpan. Siapa boleh memakainya.
Embrio unggul itu –setelah dibuahi sperma unggul– ditanam di kandungan seorang wanita yang ingin punya anak unggul.
Lantas, anak siapakah itu?
Tetap anaknyi yang menghamilkan. Karena bayi itu tidak akan hidup kalau tidak dihamilkan. Darah yang mengalir ke janin itu pun dari darah ibu yang mengandungnya.
Entahlah.
Etika lain yang tetap dijunjung Amang adalah: berapa jumlah embrio yang ditanam. Prof Amang tetap hanya mau menanam dua. Paling banyak tiga. Kemungkinannya: bisa gagal semua. Bisa berhasil satu. Berhasil dua. Atau kembar tiga.
Kini mulai ada wanita –atau suami istri– yang minta ditanam sebanyak yang bisa. Misalnya sampai tujuh embrio.
Kalau pun misalnya jadi semua ada jalan keluar. Si ibu akan memilih satu saja: yang mana yang akan dilahirkan. Tentu yang paling baik. Selebihnya digugurkan.
Proses menggugurkannya pun mudah. Janin itu disuntik. Akan mati sendiri. Mati dalam kandungan. Itu tidak bahaya bagi sang ibu. Kelak ''jenazahnya'' diambil bersamaan dengan proses kelahiran.
Yang seperti itu terjadinya di luar negeri. "Saya pernah diminta melakukan penyuntikan seperti itu," ujar Amang.
Yakni waktu ia memperdalam ilmu bayi tabung di luar negeri. "Saya tidak mau," ujar Amang sambil bergidik.
Di samping memiliki perusahaan RS Waron, Amang memiliki perusahaan bernama Asha: itulah perusahaan bayi tabung. Lokasinya di dalam RS Waron.
Tentu Amang tidak hanya memikirkan urusan wanita seperti itu. Di situ juga ada perusahaan andrologi: ilmu reproduksi laki-laki. Lokasinya dipilihkan di lantai yang lebih atas. Desainnya juga lebih tertutup.
"Laki-laki ternyata lebih pemalu," gurau Amang. Yakni kalau sudah menyangkut kelelakian mereka.
Satu jam kemudian tamu-tamu saya pun sudah selesai tur. Nano menyerahterimakan mereka ke saya. Obrolan bayi tabung pun berakhir seperti ejakulasi dini.
Tamu yang dari Singapura pun menyampaikan komentarnyi ke Amang: "Kalau saya ke Surabaya lagi bolehkah ambil kamar di rumah sakit ini. Daripada di hotel," ujarnyi.
Kami semua tertawa ngakak. Saya sendiri ikut tertawa sambil berlinang air mata bangga: Surabaya sudah bisa mengalahkan Singapura.


KOMENTAR ANDA