Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
TEORI Planet Kembar digagas oleh Raymond Arthur Lyttleton pada tahun 1936. Teori ini menyatakan bahwa planet-planet di tata surya kita terbentuk dari sebuah bintang kembar yang meledak dan pecah menjadi beberapa bagian.
Menurut Lyttleton, bintang kembar ini memiliki massa yang hampir sama dengan Matahari, dan keduanya mengorbit satu sama lain. Namun, karena interaksi gravitasi antara keduanya, bintang kembar ini menjadi tidak stabil dan akhirnya meledak.
Ledakan ini menyebabkan sebagian besar massa bintang kembar tersebut terlempar ke luar angkasa, meninggalkan sisa-sisa yang kemudian membentuk planet-planet di tata surya kita. Lyttleton menduga planet-planet ini terbentuk dari sisa-sisa bintang kembar yang telah meledak, dan bahwa mereka kemudian mengorbit Matahari karena gravitasi.
Namun, teori ini tidak dapat menjelaskan beberapa fenomena yang ada di tata surya kita, seperti komposisi kimia planet-planet dan distribusi momentum sudut. Oleh karena itu, teori ini tidak lagi diterima sebagai penjelasan yang valid tentang pembentukan tata surya kita. Teori yang lebih diterima saat ini adalah Teori Nebula, yang menyatakan bahwa tata surya kita terbentuk dari awan gas dan debu yang runtuh dan mengorbit Matahari.
Namun, Teori Planet Kembar Lyttleton tetap menjadi sebuah kontribusi penting dalam sejarah perkembangan teori pembentukan tata surya.
Jika Anda merasa naskah “Planet Buma Kembaran Planet Bumi” pasti absurd dan Anda kebetulan punya kegiatan lebih bermakna ketimbang membaca naskah absurd ini maka sebaiknya Anda berhenti membaca naskah absurd ini sampai di sini saja.
Jika Anda memilih untuk lanjut membaca naskah absurd ini maka saya tidak bertanggung jawab atas dampak terhadap Anda sendiri. Saya jamin Anda merasa menyesal telah memubazirkan enerji untuk membaca naskah absurd yang saya paksakan untuk menulis ini!
Di masa kanak-kanak pada malam hari, saya gemar memandang langit sambil membayangkan apa saja yang terjadi di langit kelam bertabur bintang itu. (Siang hari tidak saya lakukan kecuali jika langit berawan mendung).
Kemudian saya merangkum segenap imajinasi saya untuk menggagas teori planet kembar agak laen dari gagasan Raymond Arthur Lyttleton. Akibat Lyttleton adalah astronom akademis dan profesional maka wajar bahwa astronom Inggris ini menggunakan kaidah kaidah astronomis dalam membentuk gagasannya.
Sementara saya yang awam astronomi namun sedikit berpengalaman bermain dengan logika dalam menggubah karya musik, kartun dan esai maka wajar jika saya menggunakan permainan logika dalam berspekulasi menggubah teori planet kembar saya sendiri. Adalah wajar di semesta astronomi , manusia berspekulasi sebab tidak mampu secara organoleptik membuktikan kebenaran maupun kekeliruan sebuah teori astronomi . Spekulasi terpaksa dilakukan akibat keterbatasn daya indera.
Dengan permainan logika saya mengagas hipotesa ultra spekulatif tanpa ambisi untuk disebut ilmiah plus sedikit bumbu eksistensialisme dan filsafat keberadaan. Logika saya meyakinkan saya bahwa Planet Bumi memiliki kembarannya yang terletak di balik matahari jika dipandang dari Planet Bumi.
Saya menamakan planet kembaran Planet Bumi itu sebagai Planet Buma hanya beda akhiran i dan a yang menempel pada kata bum. Planet Buma tidak pernah tampak di mata manusia biasa maupun lewat teleskop nuklir termutakhir sebab Planet Bumi tertutup Matahari yang terletak persis di tengah Planet Bumi dan Planet Buma. Baik Planet Bumi maupun Planet Buma memiliki kecepatan orbit yang sama persis plek dalam mengelilingi matahari. Maka Planet Buma tidak pernah tampak dari Planet Bumi dan sebaliknya.
Khayalan saya makin liar menjalar ke sana ke mari sehingga nekad berspekulasi bahwa Planet Bumi dan Planet Buma secara bersamaan dihuni oleh mahluk hidup yang saling sama persis plek. Maka saya berhipotesa pada pada saat saya menulis naskah ini di Planet Bumi pada saat bersamaan di Planet Buma juga ada mahluk hidup persis plek sama dengan saya, sedang menulis naskah yang persis plek dengan naskah ini.
Sama halnya pada saat Anda sedang membaca naskah saya ini di Planet Bumi maka di Planet Buma juga ada kembaran persis plek Anda sedang membaca naskah ini. Berarti saya dan Anda berbaur waktu yang sama atau beda pada ruang yang beda atau sama di tata surya ini. Agak nyrempet teori relavitas ruang dan waktu gagasan Einstein.
Saya tidak mampu membuktikan kebenaran teori saya tentang Planet Kembar selama saya belum berhasil berhasil mendarat di Planet Buma dengan pesawat ruang angkasa berkecepatan dua kali lipat lebih cepat ketimbang kecepatan cahaya.
Namun Anda atau siapapun, juga tidak mampu membuktikan kekeliruan teori saya tentang Planet Kembar selama belum ada manusia dari Planet Bumi mampu membuat pesawat luar angkasa dengan kecepatan minimal dua kali lipat kecepatan cahaya untuk mendarat di Planet Buma pada saat yang sama dengan saat pesawat ruang angkasa yang sama, tinggal landas dari Planet Bumi. Dan tentu saja sebaliknya.
Anda merasa bingung akibat pemelintiran logika secara tidak terstruktur serta tidak sistematis namun massif berlapis dan akumulatif di dalam Teori Planet Kembar saya? Tak masalah sebab saya sendiri terpaksa harus mengakui bahwa sebenarnya saya lebih bingung ketimbang Anda!
Dan jangan lupa saya sudah mengingkatkan Anda mengenai risiko dampak bingungologis akibat kesimpang-siuran dan kekacau-balauan hipotesa Planet Bumi kembaran Planet Buma.




KOMENTAR ANDA