Cobra-nya Wani adalah singkatan: Collaborative Policing Readiness in Banking Cybercrime Assessment. Intinya penanganan atas pengaduan tidak bisa lagi seperti selama ini. "Kejahatannya seperti lari pakai Ford, penanganannya seperti naik angkot," kata Wani.
Penanganan selama ini, kata Wani, masih berbasis ad hoc. Juga hanya karena adanya hubungan personal yang baik. Belum berbasis kolaborasi antar lembaga. Enam lembaga yang terkait itu punya wewenang sendiri-sendiri, kadang tumpang tindih. Masing-masih juga punya ego sektor sendiri-sendiri.
Enam lembaga itu antara lain kepolisian, kejaksaan, Otoritas Jasa Keuangan dan Kementerian komunikasi dan digital. "Kepolisian, misalnya, bisa menindak orangnya, tapi yang bisa memblokade situsnya adalah Komdigi," katanyi.
Maka, atas pertanyaan tim penguji, Wani mengusulkan perlunya terbit sejenis Surat Keputusan Bersama antar enam lembaga itu.
Lalu siapa yang akan jadi leader di enam lembaga itu? "Saya tidak menyebutnya leader tapi sebagai dirijen yang mengorkestrasi enam lembaga. Yaitu kepolisian," ujar Wani.
"Kalau Anda diberi wewenang untuk merealisasikan Cobra, bagaimana cara melaksanakannya?" tanya seorang guru besar penguji.
Wani menyebut perlu tiga tahapan. Pertama, membangun fondasi. Mulai dari melahirkan SKB, menyepakati pembagian wewenang sampai memperjuangkan UU Siber sebagai lex specialist. Tahap ini perlu waktu 1,5 sampai dua tahun.
Kedua, standardisasi kualitas kompetensi di enam lembaga. Ini juga perlu dua tahun. Ketiga, evaluasi lima tahunan agar Cobra Index terus bisa memperbaiki diri. Dengan Cobra Index tingkat pengembalian penipuan bisa lebih besar. "Selama ini tingkat pengembalian itu hanya lima persen," kata Wani.
Kini, setelah kuliah S-3 selama dua tahun delapan bulan, Wani bergelar doktor ilmu kepolisian ahli kolaborasi. Dia jadi ilmuwan bidang yang paling sulit dilaksanakan di Indonesia: kerja sama dan kolaborasi.
"Saya ingin mengadopsi teori Cobra Index untuk penanganan perlindungan anak," ujar Veronica Tan yang duduk satu meja dengan saya. Anda sudah tahu: Vero kini menjabat wakil menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Lengkaplah karir Wani. Dari seorang auditor andal, bidan lahirnya HaloBCA yang sampai menjadi juara dunia (Disway 22 April 2026:Halo Wani) sampai kini menjadi ilmuwan ahli ilmu kolaborasi.
Ilmunya sudah lahir. Yang akan menerbitkannya sebagai buku sudah antre. Bahwa apakah ilmu itu akan bisa hidup dan menjadi sebesar HaloBCA tidak tergantung pada Armand Hartono. Itu lebih tergantung pada Anda, Anda dan Anda. Atau Anda yang justru akan membiarkan bayi Wani itu mati ditelan bumi birokrasi.




KOMENTAR ANDA