Maskapai penerbangan nasional Spanyol, Iberia, resmi memulai penangguhan operasional rute penerbangan langsung yang menghubungkan Bandara Adolfo Suárez Madrid-Barajas (MAD) dan Bandara Internasional José Martí Havana (HAV) di Kuba. Keputusan ini menandai dimulainya masa hiatus panjang yang dijadwalkan berlangsung selama musim panas hingga musim gugur mendatang. Langkah drastis ini diambil maskapai sebagai respons langsung terhadap situasi ekonomi dan operasional di Kuba yang kian memburuk.
Penangguhan penerbangan ini menjadi cerminan nyata dari dampak fatal blokade bahan bakar yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap negara Amerika Latin tersebut. Akibat sanksi dan blokade pasokan minyak yang kian ketat, Kuba kini mengalami krisis energi parah yang membuat stok avtur domestik menipis drastis. Kelangkaan bahan bakar pesawat yang akut ini pada akhirnya memaksa berbagai maskapai internasional untuk memangkas atau bahkan menghentikan total kehadiran mereka di pulau tersebut.
Menurut laporan dari berbagai sumber industri penerbangan, Iberia mencatat penurunan permintaan tiket yang sangat signifikan pada rute menuju Havana dalam beberapa bulan terakhir. Keengganan wisatawan asing untuk berkunjung tidak lepas dari kondisi internal Kuba yang tidak menentu, mulai dari pemadaman listrik massal yang berkepanjangan hingga lumpuhnya sejumlah fasilitas publik. Akibat hilangnya minat pasar, keberlanjutan ekonomi dari rute transatlantik ini menjadi tidak lagi realistis bagi Iberia.
Sebelum keputusan penghentian total ini berlaku, maskapai anggota aliansi oneworld tersebut sebenarnya telah melakukan pengurangan frekuensi terbang secara bertahap sejak awal April. Dari yang semula melayani tiga rotasi penerbangan per minggu, Iberia memangkasnya menjadi hanya dua kali seminggu pada bulan Mei. Strategi pengurangan ini merupakan upaya awal mitigasi sebelum akhirnya manajemen memutuskan untuk menutup rute untuk sementara waktu.
Masalah operasional Iberia di Kuba sejatinya telah terjadi sejak awal tahun ini. Dalam pernyataan resminya, Iberia mengungkapkan bahwa sejak 9 Februari lalu, pesawat-pesawat mereka yang terbang kembali dari Havana menuju Madrid terpaksa harus melakukan transit teknis di Santo Domingo, Republik Dominika, hanya untuk melakukan pengisian ulang bahan bakar (refueling). Hal ini dikarenakan bandara-bandara di Kuba, termasuk Havana, sudah tidak mampu lagi menyediakan jaminan pasokan avtur bagi pesawat komersial berbadan lebar.
Guna meringankan dampak bagi para penumpang yang telah memiliki tiket untuk periode perjalanan Juni hingga Oktober, Iberia menawarkan kebijakan fleksibilitas yang cukup luas. Para penumpang diizinkan untuk mengubah rute penerbangan mereka ke destinasi alternatif terdekat di kawasan tersebut, seperti Miami, Mexico City, Panama City, atau Santo Domingo. Kendati demikian, seluruh biaya transportasi lanjutan dari dan menuju bandara alternatif tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing penumpang.
Mundurnya Iberia dari jalur Madrid-Havana dipandang sebagai pukulan telak bagi industri pariwisata Kuba yang saat ini sedang sekarat. Mengingat status Bandara Madrid-Barajas sebagai hub atau pusat transit utama bagi pelancong asal Eropa menuju kawasan Karibia, absennya maskapai premium Spanyol ini dipastikan memutus akses ribuan calon wisatawan yang hendak berkunjung ke Kuba, sehingga semakin memperparah keterpurukan ekonomi negara tersebut.
Meskipun Iberia keluar dari pasar untuk sementara waktu, koneksi udara antara Eropa dan Kuba tidak sepenuhnya mati total. Berdasarkan data analitik penerbangan dari Cirium, masih ada empat maskapai yang tetap menjadwalkan penerbangan ke Havana pada bulan Juni ini dengan kapasitas terbatas. Air China, misalnya, tetap mengoperasikan rute Beijing–Madrid–Havana sebanyak delapan kali sebulan, disusul oleh Air Europa yang mengamankan 12 rotasi penerbangan, serta maskapai Italia, Neos, yang terbang dari Milan dan Roma.
Maskapai nasional Kuba, Cubana de Aviación, juga tetap mencoba bertahan di tengah keterbatasan dengan merencanakan sembilan penerbangan dari Madrid ke Havana pada bulan ini menggunakan pesawat ikonik era Soviet, Ilyushin Il-96. Namun, para ahli penerbangan menilai bahwa kelangsungan operasional dari maskapai-maskapai yang tersisa ini akan tetap berada dalam ketidakpastian besar. Jika blokade energi terus berlanjut dan pasokan avtur lokal benar-benar habis, pemangkasan rute susulan diperkirakan akan kembali terjadi.
Berdasarkan rencana provisional maskapai, Iberia menargetkan untuk kembali mengoperasikan armada Airbus A330 miliknya di langit Kuba pada musim dingin, tepatnya mulai 25 Oktober yang bertepatan dengan dimulainya jadwal penerbangan baru IATA (Winter Schedule). Pihak maskapai telah mencadangkan beberapa jadwal penerbangan untuk akhir Oktober dan berencana meningkatkannya menjadi tiga kali seminggu pada November dan Desember. Walau demikian, realisasi dari rencana pemulihan ini tetap bergantung penuh pada perkembangan situasi politik dan kondisi pasokan energi di Kuba nantinya.




KOMENTAR ANDA