post image
Kim Jong Un dengan skuad tim sepak bola wanita Korea Utara.
KOMENTAR

Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, memimpin langsung perayaan kemenangan besar seiring tangis bahagia para pemain yang mengukuhkan posisi negara tersebut sebagai kekuatan baru dalam sepak bola wanita Asia. Klub asal Pyongyang, Naegohyang Women’s FC, berhasil mengangkat trofi Liga Champions Wanita Asia (AFC) setelah menundukkan Tokyo Verdy di Korea Selatan. Prestasi ini menyempurnakan dominasi negara sekuler tersebut yang saat ini juga memegang gelar juara dunia di level usia U-17 dan U-20.

Untuk merayakan pencapaian tersebut, sebuah laga ekshibisi digelar di ibu kota Pyongyang di bawah pengawasan ketat Kim Jong Un. Naegohyang menghadapi tim nasional U-17 yang baru saja menjuarai Piala Asia setelah melibas Jepang dengan skor telak 5-1. Atas dedikasinya, para pesepak bola wanita ini dianugerahi julukan sebagai "wanita yang dapat dipercaya" dan "putri kebanggaan ibu pertiwi" oleh pemerintah setempat.

Kantor berita resmi pemerintah, KCNA, melaporkan bahwa para pemain Naegohyang menyatakan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian dan kasih sayang dari Kim Jong Un. Mereka menegaskan bahwa dukungan sang pemimpin menjadi motivasi utama yang mendorong mereka untuk terus meraih kesuksesan olahraga yang lebih gemilang di kancah internasional. Langkah besar berikutnya bagi para atlet ini adalah mempersiapkan diri menghadapi Piala Dunia Wanita senior di Brasil.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan mencatat bahwa Kim Jong Un yang dikenal menyukai olahraga kembali berkomitmen penuh untuk mengembangkan bakat-bakat atletik. Kebijakan ini sengaja dirancang sebagai instrumen politik untuk mempromosikan citra Korea Utara di mata dunia. Meskipun sifat negara yang tertutup membuat pihak luar sulit menganalisis program internal mereka, wawancara dengan sejumlah pelatih internasional berhasil mengungkap potret sistem pembinaan tersebut.

Kunci keberhasilan mereka berakar dari program pembinaan usia dini yang sangat ketat. Kapten Naegohyang sekaligus striker bintang, Kim Kyong Yong, memulai perjalanan sepak bolanya sejak usia 10 tahun di Sekolah Sepak Bola Internasional Pyongyang. Akademi elite yang didirikan pada tahun 2013 atas ambisi olahraga Kim Jong Un ini telah melatih ratusan anak-anak berbakat usia 7 hingga 17 tahun, yang diproyeksikan langsung untuk mengisi skuad tim nasional.

Mantan pelatih asal Inggris yang pernah diundang FIFA ke Korea Utara pada tahun 2018, Stephen Constantine, menyoroti ketangguhan fisik luar biasa para pemain. Ia mengungkapkan bagaimana para atlet menjalani latihan fisik ekstrem seperti berlari sprint sambil menggendong rekan satu timnya dari garis gawang ke garis penalti. Selain ketahanan fisik yang masif, para instruktur akademi juga mulai memanfaatkan data sains olahraga modern dan menganalisis pertandingan internasional untuk menutupi kelemahan taktis mereka.

Mantan manajer timnas wanita Korea Selatan, Colin Bell, menambahkan bahwa para pemain Korea Utara dibentuk lewat metode latihan yang repetitif sejak dini (drill, drill, drill). Kedisiplinan tinggi dan pemahaman taktik yang matang membuat gaya permainan mereka mengalir dengan sangat rapi dan sulit dihentikan. Hal senada diakui oleh Rielly Chesna, bek asal Amerika Serikat yang bermain untuk Ho Chi Minh City FC, yang terpukau oleh akurasi operan dan pergerakan tanpa bola tim Naegohyang.

Selain faktor teknis, aspek mentalitas "putus asa" menjadi pembeda utama yang membuat mereka tampil tanpa beban. Menurut Bell, kemiskinan yang melanda sebagian besar masyarakat Korea Utara menjadikan jalur olahraga sebagai peluang emas bagi para gadis muda untuk mengangkat derajat dan perekonomian keluarga mereka. Ditambah lagi, motivasi besar berupa apresiasi langsung dari Kim Jong Un yang akan menyambut mereka di bandara jika berhasil menjadi juara, menjadi faktor krusial yang tidak bisa disimulasikan oleh negara lain.

Kini, fokus utama sepak bola Korea Utara beralih ke turnamen Piala Dunia Wanita mendatang setelah sempat melewati masa-masa sulit. Sejarah mencatat timnas mereka sempat dijatuhi sanksi larangan tanding akibat kasus doping di Piala Dunia 2011, serta sempat menarik diri dari kompetisi internasional akibat pandemi Covid-19. Namun, awal tahun ini mereka bangkit dengan merombak hampir separuh isi skuad dan menunjuk pelatih kepala baru demi mengamankan tiket ke putaran final.

Meski sempat kalah tipis dari Australia di perempat final Piala Asia Wanita tahun ini, penampilan impresif skuad muda Korea Utara menuai pujian dari pengamat sepak bola Asia, Gina Bagnulo. Komposisi tim senior yang kini mulai didominasi oleh lulusan akademi muda bertalenta membuat masa depan sepak bola mereka diprediksi sangat cerah. Pertanyaan besarnya kini adalah apakah skuad senior ini mampu mereplikasi kesuksesan tim junior mereka untuk mendominasi panggung dunia saat bersaing dengan tim-tim raksasa seperti Brasil dan Amerika Serikat.


Teguh Santosa: Kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang Momentum Jaga Stabilitas Kawasan

Sebelumnya

Netanyahu Abaikan Imbauan Trump, AS Terjebak Ketegangan Baru Israel dan Iran

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia