post image
Ilustrasi
KOMENTAR

Ruang sidang Dewan Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) PBB di Roma menjadi panggung kemenangan diplomatik besar bagi Kuba. Negara pulau di kawasan Karibia tersebut berhasil mengamankan program bantuan kemanusiaan global yang krusial bagi kelangsungan hidup rakyatnya.

Kemenangan ini diraih setelah mayoritas negara anggota dewan sepakat untuk meloloskan draf program bantuan pangan jangka panjang untuk Kuba. Keputusan ini sekaligus mematahkan berbagai manuver politik dan intervensi yang dilancarkan oleh didelegasikan Amerika Serikat sepanjang jalannya pertemuan.

Sebelum ketukan palu sidang berbunyi, situasi di dalam forum sempat diwarnai ketegangan diplomatik. Delegasi AS dilaporkan melancarkan tekanan yang sangat masif dan agresif kepada negara-negara anggota dewan agar menolak usulan program bantuan kemanusiaan tersebut.

Namun, strategi Washington untuk menjegal bantuan ini justru menjadi bumerang. Alih-alih berhasil menekan Kuba, AS justru mendapati dirinya terisolasi secara politik di dalam ruang sidang karena tidak mendapatkan dukungan berarti dari komunitas internasional.

Saat proses pemungutan suara (voting) resmi digelar, perbedaan dukungan terlihat sangat kontras dan timpang. Sebanyak 29 negara anggota Dewan Eksekutif WFP dengan tegas memberikan suara setuju untuk mendukung hak ketahanan pangan rakyat Kuba.

Sebaliknya, kubu penolak yang dimotori oleh Amerika Serikat mengalami kekalahan telak. Hasil akhir menunjukkan hanya ada 2 negara yang memberikan suara menentang draf tersebut, mempertegas runtuhnya pengaruh AS dalam isu kemanusiaan ini.

Dengan hasil pemungutan suara yang mutlak tersebut, PBB secara resmi mengesahkan Program Negara (Country Programme) untuk Kuba. Program kerja sama strategis ini dijadwalkan akan berjalan selama lima tahun penuh, terhitung mulai dari tahun 2026 hingga 2030 mendatang.

Total anggaran yang dikucurkan WFP untuk program ini tidak main-main, yakni mencapai USD 116 juta atau setara dengan Rp1,8 triliun. Dana fantastis ini akan dialokasikan secara bertahap demi memastikan keberlanjutan pasokan pangan dan pemenuhan nutrisi bagi jutaan warga Kuba yang rentan.

Aliran bantuan komprehensif dari PBB ini datang di saat yang sangat krusial dan mendesak bagi pemerintahan di Havana. Saat ini, Kuba tengah berjuang menghadapi krisis domestik yang berat akibat penguatan blokade ekonomi global yang kian mencekik.

Kondisi tersebut diperparah oleh embargo energi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pihak AS, yang memicu kelangkaan bahan bakar dan krisis listrik di Kuba. Melalui dana USD 116 juta ini, rakyat Kuba diharapkan dapat memiliki jaring pengaman sosial yang kuat demi bertahan di tengah sanksi sepihak yang tak kunjung usai.


Kuba Ajukan Syarat Dialog dengan AS

Sebelumnya

Menteri LH Jumhur Hidayat Soroti Tantangan Pembiayaan Hijau RI di London

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia