Ruang udara Amerika Serikat ternyata menyimpan risiko keselamatan yang jauh lebih besar daripada yang diketahui masyarakat umum. Chris Sununu, CEO sekaligus Presiden dari asosiasi maskapai penerbangan terkemuka Airlines for America (A4A), mengungkapkan fakta mengejutkan di hadapan Kongres AS.
Ia menyatakan bahwa ada ratusan insiden "nyaris tabrakan" (near misses) antarpesawat yang terjadi hampir setiap hari di wilayah udara negara tersebut.
Pernyataan yang membuka mata ini disampaikan Sununu dalam rapat dengar pendapat dengan Subkomite Perdagangan Senat untuk Penerbangan, Ruang Angkasa, dan Inovasi. Rapat yang bertajuk "Close Calls: Improving Safety Across the National Airspace System" tersebut diadakan khusus untuk mengevaluasi sistem keselamatan penerbangan nasional. Menurut Sununu, ada jurang pemisah yang besar antara insiden yang sempat menjadi sorotan media dan data riil di lapangan.
Pernyataan keras ini muncul hanya berselang beberapa hari setelah insiden menegangkan di Bandara Internasional Boston Logan (BOS). Dalam peristiwa tersebut, kru pesawat Delta Air Lines yang sedang dalam proses mendarat terpaksa mengambil keputusan cepat untuk membatalkan pendaratan (go-around). Langkah darurat ini diambil setelah mereka melihat sebuah pesawat American Airlines yang sedang bersiap lepas landas di landasan pacu yang sama.
Ketika dicecar oleh anggota komite mengenai seberapa sering insiden berbahaya seperti itu terjadi, Sununu menegaskan bahwa kasus yang viral di media hanyalah puncak gunung es. Berdasarkan data internal industri, ada ribuan kejadian serupa yang tidak pernah terekspos ke publik. Ia meyakinkan para senator bahwa angkanya mencapai ratusan kejadian dalam satu hari saja.
Situasi ini memicu alarm bagi otoritas terkait. Kementerian Transportasi AS (DOT) kini tengah mengucurkan dana miliaran dolar untuk memodernisasi sistem keselamatan penerbangan. Di sisi lain, Badan Penerbangan Federal AS (FAA) juga terus menekankan komitmennya untuk mencapai target "zero close calls" atau meniadakan sama sekali insiden nyaris tabrakan di seluruh bandara dan wilayah udara mereka.
Selain masalah kepadatan lalu lintas udara, rapat tersebut juga menyoroti kendala koordinasi. Todd Hauptli, CEO dari American Association of Airport Executives, yang turut memberikan kesaksian, menyatakan adanya masalah dalam distribusi informasi. Menurutnya, pilot, petugas pengatur lalu lintas udara (air traffic controller), dan pihak pengelola bandara saat ini belum mendapatkan pertukaran data yang cukup untuk menjaga ruang udara tetap aman.
Data statistik yang dipaparkan dalam rapat tersebut juga menunjukkan angka yang mencengangkan di beberapa titik padat. Senator Jerry Moran mengungkapkan bahwa di Bandara Nasional Ronald Reagan Washington (DCA) saja, tercatat ada sekitar 15.000 insiden nyaris celaka selama periode tiga tahun terakhir. Kekhawatiran di bandara ini semakin memuncak setelah terjadinya tabrakan nyata antara pesawat American Airlines Flight 5342 dan helikopter Black Hawk milik Angkatan Darat AS pada Januari 2025 lalu.
Jika melihat data tahunan yang dirilis oleh FAA, tren pelanggaran di landasan pacu (runway incursion) memang masih fluktuatif. Pada tahun 2026 ini, AS sudah mencatat tiga insiden pelanggaran kategori A, yaitu kategori yang paling serius dan berisiko tinggi memicu kecelakaan fatal. Angka ini hampir menyamai total empat insiden serius yang terjadi sepanjang tahun 2025.
Meskipun jumlah insiden serius masih tinggi, FAA mencatat adanya sedikit perbaikan pada rasio total pelanggaran. Angka rata-rata pelanggaran landasan pacu per satu juta aktivitas lepas landas dan pendaratan berhasil turun dari angka 30 pada tahun 2025 menjadi 25 pada pertengahan tahun ini. Namun, penurunan ini dirasa belum cukup menenangkan jika melihat potensi fatalitas dari setiap insiden.
Salah satu kecelakaan paling parah yang disoroti terjadi pada Maret lalu, ketika pesawat Air Canada Express menabrak mobil pemadam kebakaran di Bandara LaGuardia, New York, setelah kendaraan darurat tersebut salah menerima instruksi masuk ke landasan. Kongres berharap target modernisasi teknologi keselamatan, seperti kewajiban penggunaan sistem navigasi ADS-B In pada Desember 2031, dapat menjadi solusi permanen untuk mencegah bencana udara di masa depan.




KOMENTAR ANDA