post image
Kapal-kapal yang berada di Selat Hormuz terlihat dari Musandam, Oman./CNN
KOMENTAR

Timur Tengah kembali memanas setelah sebuah kapal kargo dilaporkan terkena serangan drone Iran di Selat Hormuz pada hari Kamis, 25 Juni 2026. Insiden ini dikonfirmasi oleh seorang pejabat Amerika Serikat, meskipun rincian lebih lanjut mengenai serangan tersebut masih belum diungkapkan secara mendalam oleh pihak otoritas terkait.

Hingga saat ini, pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi maupun mengakui tanggung jawab atas serangan tersebut. Di sisi lain, United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan bahwa proyektil tak dikenal menghantam sisi kanan kapal kargo, menyebabkan kerusakan pada bagian anjungan kapal.

Beruntung, nakhoda kapal melaporkan bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut maupun dampak kerusakan lingkungan yang berarti. Meski demikian, pihak berwenang telah mengeluarkan peringatan bagi kapal-kapal lain yang melintas di wilayah tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan segala aktivitas yang mencurigakan.

Serangan ini memaksa International Maritime Organization (IMO) untuk mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasi evakuasi. Padahal, hanya beberapa hari sebelumnya, IMO baru saja mengumumkan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang memungkinkan evakuasi bagi lebih dari 11.000 pelaut yang terjebak di kawasan Teluk Persia.

Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menyatakan bahwa keputusan jeda ini diambil demi meninjau ulang jaminan keamanan bagi kapal-kapal yang masuk dalam daftar evakuasi. Langkah ini dilakukan agar seluruh pihak dapat memastikan kembali bahwa keselamatan para pelaut tetap menjadi prioritas utama di tengah situasi geopolitik yang memanas


Dominguez menjelaskan bahwa dirinya menerima laporan adanya serangan lain di Teluk Oman terhadap sebuah kapal yang baru saja melintasi Selat Hormuz. Meskipun kapal tersebut tidak berada di bawah kerangka evakuasi IMO, insiden tersebut menjadi sinyal kuat bagi IMO untuk menunda operasional hingga situasi dinyatakan benar-benar aman.

Pemberhentian sementara ini dirasa sangat krusial bertepatan dengan momen peringatan Hari Pelaut. IMO menekankan bahwa ribuan pelaut yang terjebak di Teluk Persia tidak boleh menjadi korban tambahan atau "korban tidak langsung" dari konflik geopolitik yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.

Sementara itu, Organisasi Manajemen Jalur Laut Teluk Persia milik Iran mengeluarkan pernyataan melalui platform X, memperingatkan bahwa kapal yang melintas di luar rute resmi tidak akan mendapatkan jaminan keamanan. Pihak Iran menegaskan bahwa tanggung jawab penuh atas risiko atau kerugian yang terjadi berada di tangan pemilik serta operator kapal tersebut.

Peristiwa ini terjadi di tengah upaya diplomatik Amerika Serikat, di mana Menteri Luar Negeri Marco Rubio tengah berada di kawasan Teluk. Kunjungannya bertujuan untuk meyakinkan negara-negara sekutu mengenai kesepakatan diplomatik yang baru saja dirintis oleh Washington bersama Teheran terkait krisis di Selat Hormuz.

Sebelum insiden ini, Amerika Serikat telah merilis draf nota kesepahaman 14 poin yang mencakup rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dan pelonggaran sanksi keuangan tertentu bagi Iran. Kesepakatan ini sempat memberikan optimisme bagi pasar global, terutama setelah harga minyak sempat melonjak akibat penutupan jalur vital tersebut selama perang berlangsung.


Update Gempa Kembar Venezuela: Korban Tewas Sementara 188 Orang

Sebelumnya

Gegara Tergantung pada Rusia, India Terganjal di Fase Krusial

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia