Tim penyelamat di Venezuela kini tengah berpacu dengan waktu, membongkar tumpukan puing-puing bangunan demi menyelamatkan nyawa para korban setelah dua gempa bumi dahsyat mengguncang wilayah dekat ibu kota Caracas.
Bencana alam ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 188 orang dan melukai lebih dari 1.500 lainnya. Di Caracas dan kota pesisir terdekat, La Guaira, suasana mencekam menyelimuti kepanikan warga seiring terdengarnya jeritan histeris dari para korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan gedung yang ambruk.
Menurut laporan dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa pertama bermagnitudo 7,2 terjadi sangat dangkal dengan kedalaman 20,3 km, diikuti hanya beberapa detik kemudian oleh gempa susulan yang jauh lebih kuat bermagnitudo 7,5 pada kedalaman 10 km. Karena kedua gempa tersebut terjadi sangat dekat dengan permukaan bumi, daya hancur yang dihasilkan menjadi berkali-kali lipat lebih parah. Banyak pihak mengkhawatirkan jumlah korban tewas akan melonjak drastis, sementara ribuan warga lainnya kini telantar di jalanan karena kehilangan tempat tinggal atau terlalu takut untuk kembali ke rumah mereka yang retak dan tidak aman.
Peristiwa mengerikan ini terjadi pada Rabu pukul 18:04 waktu setempat (22:04 GMT), tepat pada hari libur nasional di Venezuela. Momentum libur tersebut membuat jumlah korban berpotensi lebih tinggi karena sebagian besar warga sedang berada di dalam rumah bersama keluarga mereka, alih-alih beraktivitas di luar pada hari kerja normal. Hingga Kamis, Presiden Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodríguez, mengonfirmasi peningkatan jumlah korban jiwa setelah Presiden Interim negara tersebut, Delcy Rodríguez, secara resmi mengumumkan status darurat nasional.
Dampak kehancuran paling parah dilaporkan terjadi di kota pesisir La Guaira. Jorge Rodríguez menyatakan bahwa sekitar 250 bangunan telah rusak parah atau rata dengan tanah, termasuk sebuah hotel berlantai 10 di La Guaira yang terekam kamera runtuh menjadi tumpukan debu. Di lokasi tersebut, keputusasaan warga sangat terasa saat mereka menggali puing-puing secara manual untuk mencari anggota keluarga yang hilang. Salah seorang warga, Juan Ortiz, mengungkapkan rasa frustrasi dan syok yang mendalam setelah mengetahui salah satu temannya tewas, sementara puluhan kenalannya di kawasan pesisir masih belum ditemukan.
Kerusakan masif tidak hanya berpusat di pesisir, tetapi juga meluas ke beberapa wilayah penting lainnya. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello mengonfirmasi bahwa sejumlah gedung di ibu kota Caracas turut ambruk, dengan wilayah seperti Trujillo, Yaracuy, Carabobo, Aragua, dan Miranda ikut terdampak hebat.
Di distrik Chacao yang merupakan bagian dari metropolitan Caracas, Walikota Gustavo Duque melaporkan 11 orang tewas dan 23 orang berhasil diselamatkan dari satu bangunan yang hancur. Ia menegaskan bahwa tim spesialis terus berupaya membersihkan material beton agar dapat menjangkau korban yang diharapkan masih bertahan hidup di bawah reruntuhan.
Aktivitas transportasi dan logistik negara tersebut juga mengalami lumpuh total setelah Bandara Internasional Maiquetía, bandara utama yang terletak di pinggiran Caracas, terpaksa ditutup akibat kerusakan struktural yang sangat serius. Rekaman video dari dalam terminal memperlihatkan kepulan debu tebal dan material atap yang berjatuhan menimpa lantai bandara. Kerusakan serupa juga terjadi sekitar 250 km di barat laut Caracas, di mana sebuah bangunan bertingkat yang dilaporkan sebagai hotel di kota pantai Tucacas runtuh seketika akibat guncangan hebat tersebut.
Situasi di lapangan kian mencekam lantaran gempa susulan terus mengguncang wilayah tersebut tanpa henti. Delcy Rodríguez menyampaikan melalui siaran televisi negara, Venezolana de Televisión (VTV), bahwa sedikitnya ada 30 gempa susulan yang tercatat setelah dua gempa utama terjadi. Berdasarkan kalkulasi matematis dari data historis gempa serupa, USGS memperkirakan kemungkinan adanya dampak yang jauh lebih mengerikan.
Lembaga tersebut merilis adanya peluang sebesar 42 persen korban jiwa dapat melampaui 10.000 orang, dan bahkan ada peluang 33 persen jumlah kematian menembus angka 100.000 jiwa, tergantung pada kualitas bangunan dan kecepatan respons evakuasi.
Secara geologis, Venezuela berada di atas titik pertemuan dua lempeng tektonik aktif, dan gempa bumi kali ini dipicu oleh pelepasan friksi secara mendadak di antara kedua lempeng tersebut. Jurnalis lokal di Caracas, Luis Hernandez, menjelaskan bahwa upaya penilaian skala kerusakan saat ini menghadapi kendala yang sangat berat akibat pemadaman listrik massal dan putusnya jaringan internet di tengah krisis ekonomi yang sedang melanda negara tersebut. Kawasan Altamira dan Los Palos Grandes di Caracas disebut sebagai wilayah perkotaan yang menerima dampak paling merusak, mengulang memori kelam gempa besar tahun 1967 silam yang menewaskan 200 orang di lokasi yang sama.
Berdasarkan catatan sejarah USGS, gempa kedua bermagnitudo 7,5 ini merupakan gempa bumi terkuat yang pernah melanda Venezuela sejak tahun 1900. Saking dahsyatnya getaran yang dihasilkan, guncangan dilaporkan dapat dirasakan oleh warga Kolombia di ibu kota Bogotá yang terletak ratusan kilometer dari pusat gempa.
Koresponden BBC Mundo di Caracas, Nicole Kolster, yang tinggal di lantai tujuh sebuah apartemen, menggambarkan pengalamannya dengan penuh trauma, menyatakan bahwa itu adalah gempa terkuat yang pernah ia rasakan seumur hidupnya hingga ia mengira gedung tempat tinggalnya akan runtuh seketika.
Di tengah situasi darurat ini, solidaritas internasional mulai mengalir ke Venezuela untuk membantu proses evakuasi dan pemulihan. Pemimpin oposisi María Corina Machado menyampaikan pesan duka dan doa mendalam bagi seluruh keluarga di Venezuela yang sedang mengalami masa-masa penuh penderitaan ini.
Sementara itu, bantuan darurat berupa tim pencari (SAR) dan pasokan medis telah dikirimkan oleh negara-negara sahabat seperti Amerika Serikat, Meksiko, Republik Dominika, El Salvador, dan Qatar. Pemerintah AS bahkan telah menjanjikan bantuan dana kemanusiaan sebesar $150 juta, menandai babak baru hubungan diplomatik kedua negara di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang berkomitmen penuh untuk bergerak cepat membantu rakyat Venezuela.




KOMENTAR ANDA