Program pengembangan jet tempur generasi keenam global kini tengah memasuki fase krusial, namun India tampaknya telah kehilangan kesempatan emas untuk bergabung sebagai mitra pendiri. Meskipun memiliki potensi besar sebagai kekuatan udara utama, kombinasi antara kekhawatiran keamanan dari industri militer Barat serta doktrin "otonomi strategis" India yang kaku telah menutup pintu aliansi tersebut, bahkan sebelum India sempat mengajukan permohonan resmi.
Aliansi bentukan Barat seperti Global Combat Air Program (GCAP) yang digawangi oleh Inggris, Jepang, dan Italia, kini telah mengkristal dengan struktur yang sangat solid. Program-program ini dirancang sejak awal sebagai aliansi yang tangkas dan sangat terintegrasi berdasarkan kemitraan pertahanan yang sudah mapan. Posisi India yang berada di luar lingkaran ini membuatnya kemungkinan besar hanya akan menjadi pelanggan ekspor di masa depan, bukan sebagai co-developer atau produsen bersama.
Penyebab utama tersingkirnya New Delhi dari proyek canggih ini adalah ketergantungan militer dan industri pertahanan India yang sangat mendalam pada Rusia selama puluhan tahun. Program masa depan seperti GCAP atau Future Combat Air System (FCAS) bukan sekadar membangun jet tempur siluman fisik biasa. Proyek generasi keenam ini berfokus pada penciptaan "sistem dari sistem" yang mencakup jaringan transmisi data digital berkemampuan tinggi.
Untuk menjadi mitra industri penuh, negara-negara anggota diwajibkan untuk saling mentransfer data dan hak kekayaan intelektual (IP) yang sangat sensitif. Mengingat India masih terlibat sangat dalam dengan militer Rusia, negara-negara Barat melihat adanya risiko keamanan yang besar. Mereka khawatir bahwa teknologi mutakhir seperti sensor tingkat lanjut, mesin siklus variabel (variable-cycle engines), dan kecerdasan buatan (AI) dapat bocor secara tidak sengaja ke Moskow.
Faktor waktu juga menjadi penjara tersendiri bagi ambisi udara India. Antara tahun 2007 hingga 2018, Angkatan Udara India (IAF) mencurahkan sebagian besar energi, fokus, dan anggarannya untuk program pengembangan bersama Rusia yang dinamakan Fifth-Generation Fighter Aircraft (FGFA). Program ini didasarkan pada pengembangan prototipe Sukhoi T-50 atau PAK FA milik Rusia.
Ketika India akhirnya memutuskan mundur dari proyek FGFA pada tahun 2018 akibat perselisihan teknologi dan pembagian kerja, momentum penting telah hilang. Pada saat IAF menyadari kegagalan proyek tersebut, aliansi generasi keenam yang dipimpin oleh negara-negara Barat sudah mengkristal dan menutup struktur kemitraan inti mereka. India pun terlambat untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Kegagalan total proyek FGFA antara India dan Rusia semakin memperkuat pandangan skeptis dari para pelaku industri pertahanan Barat. Pembubaran program tersebut membuktikan bahwa India dan Rusia tidak dapat bekerja sama secara efektif, baik dari segi industri maupun politik. Hal ini memperkuat persepsi global bahwa India adalah klien ekspor produk jadi yang sangat kuat, namun merupakan mitra pengembangan bersama yang berisiko tinggi.
Dalam kerangka awal FGFA yang disepakati pada tahun 2007, India dijadwalkan untuk menanggung 50 persen dari total pendanaan proyek. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, basis industri milik negara India justru diturunkan statusnya dan hanya diberikan porsi untuk menangani tugas-tugas manufaktur minor. Kondisi ini memicu kritik keras dari internal militer India yang merasa dirugikan.
Angkatan Udara India melemparkan kritik tajam terhadap pengaturan tersebut dengan argumen bahwa India hanya diperlakukan sebagai "celengan" (piggy bank) berjalan untuk mendanai riset Rusia, ketimbang dianggap sebagai mitra teknologi yang setara. Ketika India menuntut peran riset dan pengembangan (R&D) yang lebih maju, pihak Rusia menolak keras dan bahkan mengubah strategi pengadaan domestik mereka secara sepihak di tengah jalan.
Berkaca dari pengalaman pahit tersebut, ditambah dengan rumitnya persetujuan anggaran domestik dan tekanan politik internal India, konsorsium internasional enggan mengambil risiko demi kelangsungan program mereka. Akibatnya, alih-alih menjadi pelopor teknologi udara masa depan yang ikut merancang sistem dari nol, India kini harus puas berdiri di luar pagar dan bersiap menjadi pembeli potensial produk jadi dari Barat.




KOMENTAR ANDA