post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

TERVIRAL berita bahwa Pemprov DKI Jaya akan membangun Jembatan Cinta lengkap dengan Gembok Pasangan demi menambah daya tarik wisata domestik maupun internasional Ibukota Indonesia. Gagasan tersebut terkesan gemilang namun jelas tidak orisinil sembari perlu pertimbangan risiko malapetaka.

Jembatan Cinta apalagi dengan Gembok Pasangan sering dianggap sebagai simbol keabadian bagi sepasang kekasih. Namun, di balik narasi romantis tersebut, tersembunyi ancaman struktural yang nyata.

Paris sebagai kota perdana yang memopulerkan tradisi ini, telah memberikan early warning bagi seluruh kota di dunia bahwa cinta yang buta pada estetika bisa merobohkan infrastruktur kota.

Semua bermula di Pont des Arts, sebuah jembatan pedestrian ikonik di atas Sungai Seine, Paris. Sejak tahun 2008, ribuan wisatawan dari berbagai belahan dunia datang untuk mengunci gembok bertuliskan nama mereka di pagar kawat jembatan, lalu membuang kuncinya ke dalam sungai. Tradisi ini menular cepat ke berbagai belahan dunia, dari Seoul hingga sekarang segera menyusul Jakarta. Sayangnya, banyak yang lupa bahwa setiap gembok memiliki bobot material yang nyata.

Petaka struktural akhirnya terjadi pada Juni 2014. Akibat tidak kuat menahan beban ekstrem, sebagian pagar pembatas Pont des Arts sepanjang 2,4 meter ambruk total. Beruntung tidak ada korban jiwa, namun insiden ini menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kota Paris.

Setelah dievaluasi, angka yang ditemukan sangat mencengangkan. Petugas harus memotong dan mengangkut lebih dari 1 juta gembok dengan berat total mencapai 45 ton. Beban ini setara dengan bobot 20 ekor gajah yang berdiri bersamaan di atas sebuah jembatan gantung tua. Jika dibiarkan lebih lama, bukan lagi pagar jembatan yang copot, melainkan seluruh fondasi Pont des Arts yang terancam runtuh ke dasar sungai.

Langkah tegas pun diambil. Sejak Juni 2015, Pemerintah Paris resmi melarang keras pemasangan gembok di seluruh jembatan kota. Pagar kawat yang ramah gembok dicopot dan diganti dengan panel kaca tebal transparan. Wisatawan yang melanggar kini diancam denda berat demi keselamatan publik.

Tragedi Pont des Arts adalah sebuah peringatan dini bagi kota-kota lain di dunia yang berniat mengadopsi tren serupa demi mendongkrak pariwisata. Meniru sebuah ikon global tanpa memperhitungkan kalkulasi teknik sipil dan kapasitas beban struktur adalah resep menuju bencana. 

Daya tarik wisata tidak boleh mengorbankan keselamatan nyawa manusia. Gembok mungkin bisa dilepas, namun nyawa yang melayang akibat robohnya infrastruktur tidak akan pernah bisa kembali.

Apabila naskah ini terkesan khawatir berlebihan alias hiper-paranoid silakan diabaikan saja. Ibarat anjing menggonggong maka kafilah tetap berlalu. Jakarta pasti punya para perancang dan pembangun jembatan hebat yang mampu membangun Jembatan Cinta di Jakarta lebih kokoh dan aman-ambruk ketimbang Paris.

MERDEKA!

 


Koperasi dan Militer

Sebelumnya

Imajinasi John Lennon

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana