Kepala kerbau di sini bukan sekadar hewan. Ia melambangkan kekuatan, kemakmuran, sekaligus sifat-sifat duniawi yang harus ditinggalkan seorang pemimpin.
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
SEMAKI sekali saya TIDAK berniat membela apalagi mendukung sebab saya hanya berusaha menelaah tafsir makna yang memang bisa saling beda dalam pro dan kontra. Tulisan ini adalah upaya membaca tanda, bukan membela tokoh apalagi tokoh politik yang niscaya penuh beban kepentingan kekuasaan.
Ritual Presiden ke-7 RI, Joko Widodo menginjak kepala kerbau saat dikukuhkan sebagai Baginda Pemuka Bangsa oleh lima kerajaan adat Lampung pada 27 Juni 2026 di Kedatun Keagungan, Bandar Lampung, memicu beragam tafsir publik. Agar tidak terjebak pada tafsir harfiah, kita dapat mendekatinya dengan ilmu yang membaca makna falsabiah di balik rupa.
Dalam semiotika, tubuh adalah huruf. Kaki yang menapak ke bawah adalah kalimat paling tua di dunia. Ia berarti: “Ini yang kutundukkan, agar aku bisa berdiri tegak.” Ternyata, bahasa tubuh ini tidak hanya dipakai oleh masyarakat adat Lampung.
Dalam prosesi adat Saibatin-Pepadun, ritual menginjak kepala kerbau disebut Mesol Kibau. Kepala kerbau di sini bukan sekadar hewan. Ia melambangkan kekuatan, kemakmuran, sekaligus sifat-sifat duniawi yang harus ditinggalkan seorang pemimpin. Menginjaknya adalah simbol penyucian diri sebelum menerima amanah besar. Pada hakikatnya, ini adalah amanah Jihad Al Nafs, jihad melawan hawa nafsu diri sendiri. Ia juga ajaran Ojo Dumeh, larangan Jawa untuk tidak sombong, tidak merasa paling hebat, dan tidak lupa daratan.
Maknanya adalah penanggalan ego: kesombongan, amarah, iri hati, dan kepentingan pribadi. Tokoh adat Lampung menyebutnya sebagai tanda kerendahan hati dan kesiapan mengayomi masyarakat. Dengan demikian, yang diinjak bukanlah martabat hewan, melainkan cermin sifat buruk di dalam diri pemimpin itu sendiri.
Patung Shiwa Nataraja, Sang Penari Kosmik, selalu digambarkan dengan satu kaki menginjak sosok kerdil bernama Apasmara. Apasmara adalah personifikasi kebodohan, kelupaan, dan kegelapan batin.
Shiwa tidak menghancurkannya, melainkan menari di atasnya. Tafsirnya: kesadaran harus selalu menari di atas ketidaktahuan. Ilmu tidak boleh diperbudak lupa. Tanpa menginjak Apasmara, tarian penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan semesta tidak akan seimbang.
Ganesha, Dewa Penyingkir Rintangan, kerap digambarkan menginjak atau menunggangi tikus bernama Mushika. Tikus melambangkan nafsu, keserakahan, dan pikiran yang menggerogoti diam-diam. Dengan menginjaknya, Ganesha menegaskan satu hukum spiritual: akal budi harus mengendalikan nafsu. Sebelum memulai karya besar, manusia harus menundukkan rintangan terbesarnya, yaitu diri sendiri.
Ketiga peristiwa ini memakai tata bahasa simbol yang identik. Kepala kerbau, Apasmara, dan tikus adalah tiga nama berbeda untuk satu makna: bagian diri yang rendah yang harus ditaklukkan terlebih dahulu.
Maka, menginjak dalam konteks ini bukanlah arogansi. Ia adalah kerendahan hati yang aktif. Ia adalah janji seorang pemimpin untuk meletakkan egonya di bawah kakinya, sebelum ia mengangkat amanah di atas kepalanya.
Jokowi menginjak kerbau karena masyarakat adat Lampung memintanya melepas ego melalui Jihad Al Nafs dan Ojo Dumeh. Shiwa menginjak Apasmara karena dharma menuntutnya menolak kebodohan. Ganesha menginjak tikus karena hikmah memerintahnya mengendalikan nafsu. Tiga tradisi, satu epistel: sebelum menaklukkan dunia, taklukkan dirimu dulu.
Simbol hanya dapat dibaca jika kita membaca juga niat yang menghidupinya. Menertawakan simbol tanpa memahami ekspresi maknanya sama dengan buta huruf. Sebab dari sebuah injakan, manusia mampu jika mau belajar cara berdiri sebagai pemimpin yang sejati.




KOMENTAR ANDA