Kedutaan Besar Republik Bolivarian Venezuela di Jakarta mengumumkan pembukaan Buku Kondolensi resmi sebagai bentuk penghormatan atas jatuhnya ribuan korban jiwa dalam bencana gempa bumi kembar dahsyat yang melanda negara Amerika Latin tersebut baru-baru ini.
Pengumuman ini disampaikan secara resmi kepada seluruh rekan diplomatik dan masyarakat internasional di Indonesia.
Pemerintah Venezuela menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya atas tragedi kemanusiaan yang memilukan ini. Melalui pernyataan resminya, pihak kedutaan mengundang seluruh pihak yang ingin menyatakan solidaritas dan pesan duka bagi para keluarga korban serta masyarakat terdampak untuk hadir dan menandatangani buku amanat tersebut.
Buku Kondolensi ini dijadwalkan akan terbuka untuk umum selama dua hari berturut-turut, yakni pada hari Selasa, 7 Juli 2026, dan Rabu, 8 Juli 2026. Sesi penandatanganan dibagi menjadi dua waktu dalam sehari, yaitu pagi hari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, serta siang menjelang sore hari pada pukul 14.00 hingga 16.00 WIB.
Bagi masyarakat maupun perwakilan diplomatik negara sahabat yang ingin menyampaikan rasa belasungkawa, prosesi ini dilaksanakan langsung di kantor Kedutaan Besar Venezuela. Lokasinya bertempat di Plaza Kuningan, Gedung Menara Utara (North Tower), Ruang 302, Lantai 3, Jalan H.R. Rasuna Said, Karet Kuningan, Jakarta Selatan.
Selanjutnya pada Rabu sore, pukul 18.00 WIB, Kedutaan Venezuela akan menggelar doa bersama untuk menghormati korban jiwa dalam bencana tersebut di Katedral Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga di Jalan Katedral, Jakarta Pusat.
Kehadiran serta pesan-pesan dukungan moril dari masyarakat di Indonesia dinilai akan sangat berarti dalam memberikan kekuatan bagi bangsa Venezuela yang tengah berada dalam masa berkabung nasional. Langkah ini menjadi jembatan diplomasi kemanusiaan di tengah situasi darurat yang memporak-porandakan stabilitas dalam negeri mereka.
Bencana itu sendiri dipicu oleh gempa bumi kembar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang wilayah utara-pusat Venezuela pada 24 Juni 2026 lalu. Menurut laporan Survei Geologis Amerika Serikat (USGS), kedua guncangan hebat tersebut bersumber dari sistem sesar San Sebastián dan terjadi hanya dalam selang waktu sangat singkat, yakni 39 detik.
Dampak dari fenomena seismik langka ini terbukti sangat masif dan meluluhlantakkan infrastruktur di sedikitnya tujuh negara bagian. Wilayah pesisir La Guaira di utara ibu kota Caracas serta wilayah bagian Yaracuy menjadi episentrum kerusakan paling parah, di mana ratusan gedung bertingkat dan kompleks apartemen rata dengan tanah dalam hitungan menit.
Berdasarkan data resmi terbaru yang dirilis pemerintah Venezuela, jumlah korban meninggal dunia telah menembus angka 3.342 jiwa, sementara lebih dari 16.740 orang lainnya mengalami luka-luka. Situasi krisis semakin diperparah karena puluhan ribu orang masih dinyatakan hilang, dan PBB memperkirakan ada sekitar 50.000 warga yang nasibnya belum diketahui.
Kondisi di lapangan saat ini digambarkan sangat berat karena hancurnya jaringan pasokan air bersih, aliran listrik, dan fasilitas sanitasi. Rumah sakit dan layanan darurat di kota-kota terdampak mengalami tekanan hebat akibat membeludaknya pasien patah tulang serta trauma kepala, di tengah rusaknya beberapa infrastruktur medis setempat.
Guna mempercepat proses penanganan pascabencana, Venezuela telah mengerahkan lebih dari 29.000 personel gabungan dan puluhan ribu relawan, serta mendapat dukungan dari 4.088 tim penyelamat internasional dari berbagai negara. Upaya pencarian terus berkejaran dengan waktu guna mengevakuasi korban yang masih terjebak di bawah puing-puing reruntuhan.




KOMENTAR ANDA