post image
KOMENTAR

Di meja makan itulah hadir satu pengusaha yang pabriknya tidak ditinjau Renard karena tidak ada kaitan dengan bisnisnya. Mereka berkenalan. Cerita-cerita. Sampailah pada pertanyaan dari mana asal usul Renard. Mereka kaget bahwa Renard orang Tionghoa. Bahkan bercerita punya keluarga di Yantai. Renard bilang ia tidak tahu di mana itu Yantai. Juga tidak tahu apa-apa mengenai hubungan keluarga mereka.

"Saya juga dari Yantai," ujar pemilik pabrik yang tidak ada hubungan dengan bisnis Renard itu.

Mulailah pembicaraan beralih dari bisnis ke soal asal-usul keluarga. Tentu waktu tidak cukup. Untuk memperdalam pencarian itu Renard diminta ke Shanghai. Ke kantor pengusaha itu. Renard pun mengundurkan jadwal pulang ke Semarang.

Di Shanghai semuanya terungkap. Mereka berdua masih satu keluarga. Diceritakan, sudah tidak banyak lagi yang tinggal di desa kecil itu. Sudah banyak yang merantau –termasuk ia sendiri yang sukses jadi pengusaha di Shanghai.

Ketika mendengar Renard akan ke Amerika ia pun memberikan tiket nonton sepak bola itu ke Renard.

Yantai adalah di bagian paling utara provinsi Shandong. Jarang orang Shandong melakukan perjalanan xia nan-yang sampai ke Nusantara. Umumnya orang Tionghoa Indonesia dari provinsi Fujian atau Guangdong.

Tapi di zaman yang lebih awal bisa saja hubungan Shandong-Nusantara sudah terjalin lebih dulu. Di Shangdong-lah Kong Hu-chu mengajarkan pikiran-pikiran bijaknya. Di dekat padepokan Kong Hu-chu itu ada satu desa bernama 泗水. Ejaan maupun bunyinya sama dengan 泗水 yang kita kenal sekarang ini. 泗水 adalah nama Surabaya dalam bahasa Mandarin。

Renard sendiri merasa keberuntungan demi keberuntungan itu berkat kebaikan budi leluhur mereka. Demikian pula pendapat keluarganya yang di Shanghai itu: "Leluhur kita di Yantai adalah orang yang dicintai rakyat berkat kepedulian pada nasib rakyat jelata di sana".

Kata-kata itu terus terngiang di pikiran Renard. Ia merasa sudah benar ketika menempuh jalan sebagai aktivis sejak dari masa mudanya.

Bahkan belum lama ini Renard menulis artikel khusus untuk mengingatkan sesama alumni SMA Taruna Nusantara: "Kita sedang diuji sejarah, apakah alumni tetap pada idealisme membela bangsa".

Renard melihat begitu banyak alumni Taruna Nusantara yang kini pegang posisi penting di pemerintahan. Maksudnya: apakah pemerintah bisa lebih baik. Sejarah akan mencatatnya.

SMA Taruna Nusantara yang didirikan Jenderal Benny Moerdani 26 tahun lalu memang dimaksudkan untuk mengader calon pemimpin nasional. Dengan banyaknya alumnus SMA Taruna Nusantara tampil di pemerintahan sekarang, Renard menulis: Apakah ini bentuk politik identitas baru berbasis almamater atau justru merupakan sebuah manifestasi dari kontribusi almamater terhadap kepemimpinan nasional?


Kambing Verde

Sebelumnya

Model Polytron

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway