Maskapai penerbangan nasional Korea Selatan, Korean Air, resmi menyelesaikan kesepakatan bernilai fantastis sebesar KRW 60 triliun (sekitar US$44,8 miliar atau setara Rp700 triliun lebih) untuk pengadaan armada pesawat generasi baru serta mesin pendukungnya.
Langkah besar ini menjadi tahap finalisasi dari rencana pengadaan skala masif yang sebelumnya sempat diumumkan di Washington D.C. pada Agustus 2025.
Perjanjian bersejarah tersebut diformalkan dalam sebuah seremoni penandatanganan megah yang digelar di Hotel Conrad Seoul pada 15 September 2026. Acara tersebut dihadiri langsung oleh jajaran eksekutif puncak dari Korean Air, Boeing, GE Aerospace, dan CFM International, serta perwakilan tingkat tinggi dari sektor keuangan dan pemerintahan Korea Selatan maupun Amerika Serikat.
Signifikansi kerja sama ini tercermin dari deretan tokoh diplomatik dan pejabat negara yang turut hadir dalam prosesi penandatanganan. Di antaranya mencakup Duta Besar AS untuk Korea Selatan Michelle Steel, Chairman sekaligus CEO AMCHAM Korea James Kim, Menteri Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korsel Jungkwan Kim, serta Presiden Export-Import Bank of Korea Ki-yeon Hwang.
Dari total nilai komitmen tersebut, porsi terbesar yakni senilai KRW 54,2 triliun (sekitar US$36,2 miliar) dialokasikan secara khusus untuk pembelian 103 unit pesawat komersial dan kargo buatan raksasa dirgantara Amerika Serikat, Boeing. Pengadaan ini menjadi salah satu investasi armada terbesar yang pernah dicatatkan maskapai kawasan Asia Timur dalam beberapa tahun terakhir.
Secara rinci, 103 unit pesawat Boeing yang dipesan terbagi ke dalam berbagai segmen kebutuhan operasional. Rincian armada tersebut meliputi 20 unit Boeing 777-9, 25 unit Boeing 787-10 untuk rute jarak jauh (widebody), 50 unit Boeing 737-10 untuk rute domestik dan regional (narrowbody), serta 8 unit pesawat kargo Boeing 777-8F (freighter) guna memperkuat lini logistik udara global.
Sementara itu, sisa anggaran sekitar KRW 12,9 triliun (setara US$8,6 miliar) dialokasikan untuk kontrak mesin dan layanan pendukung bersama GE Aerospace serta CFM International. Kesepakatan terpisah ini mencakup penyediaan 21 mesin cadangan (spare engines) beserta kontrak pemeliharaan dan perawatan mesin komprehensif berdurasi 15 tahun untuk 28 armada pesawat.
Chairman sekaligus CEO Korean Air dan Hanjin Group, Walter Cho, menegaskan bahwa pencapaian ini melampaui sekadar transaksi komersial biasa. Cho menekankan bahwa perjanjian tersebut merupakan bukti nyata dari tingginya rasa saling percaya serta kokohnya aliansi strategis antara Korea Selatan dan Amerika Serikat di kancah ekonomi global.
Dalam keterangannya, Cho juga menganalogikan kolaborasi industri kedirgantaraan tersebut dengan harmonis. Ia mengungkapkan bahwa jika Boeing berperan menyediakan sayap bagi penerbangan Korean Air, maka mesin buatan General Electric (GE) bertindak sebagai detak jantung utama armada, yang menjamin keandalan, efisiensi bahan bakar, serta konektivitas antarnegara yang berkelanjutan.
Investasi ekspansif ini dipersiapkan secara matang guna menopang kapasitas jangka panjang maskapai pasca-merger besar dengan Asiana Airlines. Kehadiran pesawat-pesawat baru ini akan memberikan kepastian jadwal peremajaan armada modern secara bertahap, sekaligus memastikan transisi integrasi rute kedua maskapai berjalan optimal.
Selain mendorong peningkatan kapasitas penumpang dan kargo, modernisasi armada ini ditujukan untuk mencapai target keberlanjutan lingkungan dan efisiensi operasional. Pihak Korean Air menggarisbawahi bahwa efisiensi bahan bakar dari pesawat generasi mutakhir ini memegang peranan kunci dalam menekan jejak emisi karbon maskapai menuju masa depan penerbangan hijau.



KOMENTAR ANDA