Pasukan keamanan dari Spanyol dan Maroko bergerak cepat memperkuat pagar perbatasan di sekitar wilayah kantong Spanyol, Ceuta. Langkah darurat ini diambil untuk membendung gelombang masuk migran massal yang terjadi secara mendadak dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Lonjakan luar biasa ini mencatat sekitar 49.000 migran berhasil melintasi perbatasan baik melalui jalur darat maupun laut. Di tengah kekacauan arus manusia tersebut, setidaknya 19 orang dilaporkan tewas di perairan pesisir saat berusaha melakukan perjalanan berbahaya tersebut.
Otoritas Maroko mengerahkan truk meriam air serta polisi antihuru-hara di gerbang perbatasan Ceuta untuk memukul mundur kerumunan massa. Bentrokan di dekat zona perbatasan itu bahkan sempat memicu kebakaran yang menghanguskan sebuah bus dan tujuh mobil.
Sebagai respons cepat atas krisis tersebut, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez bersama Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska mengatur kunjungan darurat ke Ceuta. Kunjungan ini bertujuan untuk menilai langsung situasi yang digambarkan pejabat setempat sebagai krisis perbatasan terparah sejak tahun 2021.
Menteri Kebijakan Teritorial Ángel Víctor Torres memberikan indikasi bahwa putusan Mahkamah Agung Spanyol baru-baru ini turut berkontribusi terhadap lonjakan mendadak ini. Putusan tersebut sebelumnya membatasi tindakan "penolakan perbatasan" secara ringkas bagi para migran yang dicegat di laut.
Torres menegaskan bahwa meskipun Spanyol akan tetap menghormati putusan pengadilan dan hak asasi manusia, pemerintah bertekad untuk melanjutkan proses pemulangan bagi mereka yang masuk secara ilegal.
Di sisi lain, asosiasi kepolisian seperti AUGC menyoroti bahwa kurangnya personel di sepanjang perimeter perbatasan pada hari sebelumnya membuat para petugas kewalahan membendung gelombang awal. Organisasi kemanusiaan setempat juga memperingatkan bahwa sumber daya kota di Ceuta telah lumpuh total.
Skala penyeberangan masif ini tidak hanya menciptakan krisis di dalam negeri, tetapi juga memicu perpecahan tajam di dalam Uni Eropa. Ketegangan diplomatik yang memanas kini terjadi secara terbuka antara Madrid dan Roma akibat perbedaan pandangan penanganan migran.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyatakan bahwa negaranya siap mengambil langkah luar biasa demi melindungi perbatasan mereka. Salah satu opsi ekstrem yang dipertimbangkan Italia adalah menangguhkan perjanjian bebas visa Schengen dengan Spanyol.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Spanyol José Manuel Albares secara tegas menolak pernyataan pihak Italia dan menyebutnya sebagai demagoguery yang tidak pantas. Pemerintah Spanyol bahkan mengumumkan rencana untuk memanggil Duta Besar Italia sebagai bentuk protes resmi atas komentar tersebut.



KOMENTAR ANDA