Ratusan migran yang baru saja melintasi perbatasan menuju wilayah enklaf Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, menggelar aksi unjuk rasa di sepanjang pantai perkotaan pada Minggu, 18 Agustus 2026. Dalam aksi tersebut, para migran mendesak pihak berwenang Spanyol agar memberikan mereka suaka politik dan perlindungan hukum, alih-alih memulangkan mereka kembali ke Maroko.
Reuters melaporkan, para pengunjuk rasa ini merupakan bagian dari sekitar 5.000 hingga 8.000 migran yang masih bertahan di Ceuta. Keberadaan mereka merupakan sisa dari gelombang penyeberangan massal dua minggu sebelumnya, di mana lebih dari 72.000 orang secara mengejutkan menerobos wilayah kecil berpopulasi 80.000 jiwa tersebut. Meskipun sebagian besar dari mereka telah kembali ke Maroko secara sukarela, ribuan lainnya memilih bertahan.
Kondisi hidup para migran yang tersisa di Ceuta kini berada pada titik yang sangat memprihatinkan. Dengan fasilitas penampungan lokal yang melebihi kapasitas, mayoritas migran terpaksa tinggal di area terbuka seperti Pantai El Trampolin maupun pinggiran kota. Mereka bertahan hidup dalam kondisi serba terbatas sambil berharap mendapatkan kesempatan untuk menyeberang ke daratan utama Eropa.
Ayoub Elarroud, seorang migran asal Tetouan, Maroko, menyuarakan penderitaan yang dialaminya bersama para migran lain. Ia mengungkapkan bahwa mereka terpaksa tidur di tepi laut dengan cuaca dingin dan bau yang menyengat, sementara akses menuju pusat kota diblokir oleh aparat kepolisian.
Di tengah aksi unjuk rasa, para migran mengibarkan bendera Spanyol dan membentangkan spanduk bertuliskan pesan seperti "Kami tidak ingin kembali ke Maroko" dan "Kami juga manusia". Sambil menyerukan yel-yel tuntutan seperti "Kami lelah" dan "Kami butuh solusi", beberapa migran lainnya tampak mencuci pakaian di bebatuan pantai atau memancing menggunakan alat seadanya demi bertahan hidup.
Aksi protes ini dipicu oleh ketegangan atas kebijakan ketat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat Spanyol. Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, menyatakan bahwa migran yang masuk secara tidak resmi tidak akan diizinkan menetap di Ceuta, melanjutkan perjalanan ke daratan Spanyol, atau memperoleh status hukum, kecuali dalam kasus-kasus ekstrem yang melibatkan kerentanan khusus.
Di sisi lain, lonjakan jumlah migran ini menempatkan layanan kesehatan di Ceuta dalam tekanan yang sangat hebat. Ketua Ikatan Dokter Ceuta, Enrique Roviralta, mengindikasikan bahwa para tenaga medis berada dalam kondisi sangat lelah dan mengkritik respons pemerintah pusat yang dinilai lambat. Ia juga memperingatkan munculnya wabah penyakit seperti diare infeksius dan kudis (scabies), serta meningkatnya cedera fisik akibat konflik antar-migran.
Menanggapi situasi kesehatan di lapangan, Menteri Kesehatan Spanyol, Mónica García, membantah klaim bahwa sistem layanan kesehatan lokal telah lumpuh total, meskipun ia mengakui beban kerja tenaga medis memang sangat tinggi. García menegaskan agar publik tidak mengaitkan isu migrasi dengan penularan penyakit karena hal tersebut bersifat xenofobia, seraya menambahkan bahwa risiko wabah epidemi bagi warga lokal masih dalam kategori rendah.
Faktor ekonomi menjadi pendorong utama sebagian besar migran asal Maroko untuk mempertaruhkan nyawa menyeberang ke Spanyol. Mohammed Ouanzar (39), seorang spesialis otomasi dari Fez, menjelaskan bahwa gaji bulanan di negaranya yang rata-rata hanya 3.000 dirham (sekitar $324) tidak cukup untuk membangun masa depan. Ketika berhasil menginjakkan kaki di tanah Spanyol, ia merasa seperti terlahir kembali dan mengaku lebih baik mati daripada harus dipulangkan.
Kisah serupa dialami oleh migran dari berbagai negara lain yang melarikan diri dari konflik hingga persekusi. Emmanuel (30), seorang teknisi listrik asal Nigeria, nekat menempuh perjalanan berbahaya selama empat bulan demi menyelamatkan anak-anaknya dari ancaman penculikan di tanah airnya. Sementara itu, Ousmane dari Senegal mengaku memohon suaka karena mengalami persekusi atas identitas dirinya, dan kini ia hanya bisa menunggu kabar dari lembaga kemanusiaan dalam ketidakpastian.



KOMENTAR ANDA