post image
Ketua GANNAS DPW Jawa Barat, Todi Ardiyansyah Prabu, dan Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman.
KOMENTAR

Ancaman peredaran dan penyalahgunaan narkotika  semakin membahayakan masa depan bangsa. Persoalan ini tidak lagi sekadar masalah kesehatan individu, melainkan ancaman nyata yang dapat merusak kehidupan sosial, keluarga, pendidikan, hingga kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan, tidak terkecuali di tatar Sunda.

Karena itulah Gerakan Anti Narkoba Nasional (GANNAS) DPW Jawa Barat menyerukan perlawanan bersama terhadap narkotika dan bahan aditif berbahaya. Peredaran gelap narkoba kini kian masif dengan berbagai modus operandi baru yang menyasar pusat-pusat keramaian dan tempat hiburan malam.

Ketua GANNAS DPW Jawa Barat, Todi Ardiyansyah Prabu, mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari Gubernur Jawa Barat beserta jajaran birokrasi, kepala daerah di 27 kabupaten/kota, para tokoh masyarakat, seniman, budayawan, pengusaha, akademisi, hingga tokoh agama—untuk bergerak masif membangun kesadaran publik.

Gerakan perlawanan ini juga harus melibatkan lintas generasi dan berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang sosial atau usia. GANNAS mendorong agar setiap individu memiliki kepedulian yang sama, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga masyarakat luas, guna memperkuat benteng pertahanan sosial dari bahaya penyalahgunaan zat terlarang yang kini menyasar anak-anak muda.

GANNAS DPW Jawa Barat memberikan apresiasi tinggi kepada tim gabungan yang terdiri dari Polda Jabar, BNNP Jawa Barat, Kogartap II/Bandung, Bea Cukai, serta BPOM atas langkah tegas menggelar razia mendadak di sejumlah tempat hiburan malam di Kota Bandung. Operasi penertiban yang dilakukan secara berkala demi memberikan efek jera ini menyasar kawasan strategis seperti Jalan Pasir Kaliki dan Jalan Buahbatu.

Dalam operasi yang digelar pada awal Agustus 2026 tersebut, misalnya, petugas mendapati sejumlah pengunjung terindikasi mengonsumsi obat keras tertentu seperti alprazolam dan tramadol tanpa resep medis. Temuan ini memperkuat bukti bahwa penyalahgunaan zat psikotropika semakin mudah diakses masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah penegakan hukum yang konsisten dari aparat gabungan sangat dibutuhkan guna memutus rantai pasok peredaran gelap di tempat-tempat hiburan.

Ancaman bahaya narkotika kini juga berkembang melalui media konsumsi yang semakin terselubung, salah satunya melalui rokok elektronik atau vape.

Kasus yang terjadi di negara tetangga, seperti temuan Kepolisian Diraja Malaysia dan Kementerian Kesehatan Malaysia pada 2026, mencatat ratusan kasus cairan vape yang terbukti dicampur dengan narkotika sintetis, ganja sintetis, hingga zat psikoaktif baru seperti MDMA dan methamphetamine. Perkembangan lintas negara ini menjadi peringatan keras bagi Indonesia agar meningkatkan kewaspadaan terhadap modus-modus baru pencampuran zat terlarang.

Menghadapi kompleksitas ancaman tersebut, GANNAS DPW Jawa Barat menegaskan bahwa upaya pemberantasan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum semata. 

Seruan perlawanan ini terasa semakin relevan menjelang momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Barat telah mencapai angka 75,90 dengan peningkatan pada usia harapan hidup dan rata-rata lama sekolah. Kemajuan pembangunan manusia ini harus dijaga bersama agar tidak tergerus oleh bahaya laten narkotika.

Dalam pandangan Todi Ardiyansyah Prabu, perang terhadap narkoba adalah pertaruhan atas masa depan bangsa. Melindungi generasi muda tidak cukup dilakukan setelah mereka terjerumus, melainkan harus dimulai dari pencegahan dini dan penguatan edukasi yang berkelanjutan. Masyarakat perlu diberikan pemahaman agar mampu mengenali risiko, berani menolak, serta sigap melaporkan segala bentuk penyalahgunaan zat terlarang di lingkungan sekitar.

Melalui semangat kampanye bertajuk #UnfollowNarkoba, GANNAS DPW Jawa Barat terus mengampanyekan pentingnya rehabilitasi, pencegahan, dan perlawanan kolektif. Kolaborasi yang erat antara masyarakat, pemerintah daerah, stakeholder, dan aparat penegak hukum menjadi kunci utama agar ruang gerak para pengedar narkoba semakin sempit.

Pada akhirnya, perlawanan terhadap narkoba bukan sekadar slogan semata, melainkan wujud nyata pengisian kemerdekaan untuk melindungi keselamatan bangsa. Ketika seluruh elemen masyarakat di Jawa Barat bergerak bersama, yang sedang diselamatkan bukan sekadar masa depan individu, tetapi masa depan peradaban bangsa Indonesia secara utuh.


Harga Telur & Keamanan Rantai Pasok MBG

Sebelumnya

Ilusi Daur Ulang Plastik dan Kebohongan Industri Plastik Sekali Pakai

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional