Maskapai penerbangan nasional Selandia Baru, Air New Zealand, terpaksa membatalkan dan menunda penerbangan jarak jauhnya setelah dua orang pilot dikabarkan terlibat dalam perselisihan serius. Insiden yang terjadi di luar tugas ini memicu efek domino yang mengganggu jadwal penerbangan internasional serta merugikan ratusan penumpang.
Peristiwa tersebut bermula ketika penerbangan NZ7 milik Air New Zealand dengan menggunakan armada Boeing 787-9 yang dijadwalkan terbang dari Bandara Internasional San Francisco (SFO) menuju Bandara Auckland (AKL) mendadak dibatalkan. Para penumpang yang sudah bersiap di bandara awalnya hanya diberikan informasi singkat bahwa keberangkatan mereka terpaksa ditunda akibat masalah kesehatan mendadak pada pilot.
Namun, alasan "pilot sakit" yang disampaikan pihak maskapai tidak berlangsung lama menjadi satu-satunya penjelasan resmi. Berbagai laporan internal dan media penerbangan mulai mengungkap realita berbeda di balik layar, di mana ketidaksiapan kru bertugas bukan karena faktor medis biasa, melainkan akibat perselisihan antar-pilot.
Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan komunitas penerbangan, ketegangan di antara kedua pilot tersebut disinyalir sudah mulai terasa sejak penerbangan awal dari Auckland menuju San Francisco. Perselisihan tersebut kemudian memanas dan berujung pada konfrontasi fisik saat mereka menjalani masa istirahat (layover) di hotel tempat mereka menginap di Amerika Serikat.
Akibat insiden pribadi di luar jam kerja ini, kedua pilot tersebut dinyatakan tidak dapat bekerja bersama atau menerbangkan pesawat dalam satu kokpit yang sama. Keadaan darurat operasional ini memaksa manajemen Air New Zealand memutar otak dengan cepat karena ketiadaan kru cadangan di lokasi transit luar negeri.
Maskapai akhirnya harus mendatangkan pilot pengganti dari tempat lain untuk mengambil alih penerbangan tersebut. Kendati demikian, aturan ketat mengenai waktu istirahat wajib (mandatory rest periods) bagi awak pesawat membuat sang pilot pengganti tidak bisa langsung menerbangkan pesawat sesampainya di San Francisco.
Situasi pelik ini menyebabkan para penumpang harus mengalami penundaan perjalanan yang sangat panjang hingga lebih dari 14 jam. Sebagian besar penumpang akhirnya harus dijadwalkan ulang ke penerbangan pemulihan berikutnya sembari diberikan fasilitas akomodasi serta dukungan penanganan kompensasi oleh pihak maskapai.
Menanggapi kehebohan publik ini, Chief Safety and Risk Officer Air New Zealand, Nathan McGraw, angkat bicara memberikan klarifikasi. Ia mengonfirmasi bahwa pihak maskapai sedang menyelidiki "suatu perkara" yang melibatkan dua anggota kru dalam status di luar tugas (off-duty) di Amerika Serikat, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada insiden apa pun yang terjadi di dalam kabin pesawat.
Otoritas Penerbangan Sipil Selandia Baru (Civil Aviation Authority atau CAA) juga dilaporkan telah menerima informasi resmi terkait insiden ini. Meskipun demikian, pihak regulator menyatakan masih memantau situasi dan meninjau informasi yang masuk guna menentukan apakah tindakan regulasi lanjutan diperlukan terhadap lisensi para pilot tersebut.
Kasus ini menjadi sorotan tajam industri penerbangan global mengenai bagaimana masalah perilaku personal kru di luar jam tugas dapat berdampak langsung pada keandalan operasional maskapai. Air New Zealand menegaskan akan terus merampungkan investigasi internal secara mendalam guna mengambil langkah tegas demi menjaga keselamatan serta profesionalisme standar penerbangan mereka.



KOMENTAR ANDA