post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Dinamika keamanan kawasan Indo-Pasifik kembali menjadi sorotan setelah Taiwan menyampaikan kecaman pada latihan bersama Passing Exercise (Passex) yang diselenggarakan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dan Angkatan Laut Republik Rakyat Tiongkok (PLA Navy).

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, menilai, kerja sama dan latihan militer taktis semacam ini harus dibaca melalui kacamata diplomasi pertahanan modern serta peta jalan geopolitik global yang semakin kompetitif.

Dalam pandangan Dr. Teguh Santosa, latihan militer bersama yang dilakukan oleh negara-negara berdaulat di masa damai memiliki fungsi fundamental yang bersifat ganda. Pertama, latihan bersama berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan profesionalisme, interoperabilitas, serta penguasaan teknis operasional antar-militer negara sahabat.

Fungsi kedua dari latihan di masa damai adalah sebagai instrumen confidence building measures atau langkah-langkah membangun kepercayaan timbal balik. Melalui komunikasi langsung di atas laut dan perjumpaan personel diharapkan potensi kesalahpahaman taktis antar-negara dapat direduksi secara signifikan guna menjaga stabilitas kawasan.

Kendati demikian, Dr. Teguh Santosa tidak menafikan bahwa setiap pergerakan aliansi atau latihan militer bilateral yang melibatkan kekuatan besar kerap memicu gesekan psikologis dan kekhawatiran geopolitik dari pihak ketiga. Hal ini, menurutnya, sangat wajar terjadi dalam konstelasi hubungan internasional yang anarkis.

Secara khusus, Dr. Teguh Santosa menanggapi posisi Taiwan yang kerap merasa keberatan dan terancam dengan kehadiran serta aktivitas militer Tiongkok di kawasan sekitar Selat Taiwan dan Laut Tiongkok Selatan. Menurutnya, rasa keberatan dan kekhawatiran pihak Taiwan tersebut adalah sesuatu yang sangat dapat dipahami.

“Sebagai entitas yang berada di tengah tekanan geopolitik masif dari Beijing, Taiwan tentu memantau setiap latihan militer, termasuk Passex antara TNI AL dan Tiongkok, dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Dinamika historis dan klaim kedaulatan yang selama ini menjadi sengketa membuat rasa terancam tersebut menjadi realitas harian bagi otoritas di Taipei,” ujar dosen Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Namun demikian, Dr. Teguh Santosa menegaskan bahwa latihan militer bersama antara Indonesia dan Tiongkok tersebut tentu dilakukan dalam kerangka kerja sama bilateral yang independen, transparan, dan tidak dimaksudkan untuk menekan atau menginfiltrasi wilayah kedaulatan Taiwan.

“Indonesia, melalui politik luar negeri bebas aktifnya, senantiasa menjaga jarak yang proporsional dengan semua kekuatan besar dunia. Keikutsertaan TNI AL dalam latihan bersama murni didasarkan pada kepentingan pertahanan nasional, peningkatan kapasitas maritim, serta upaya merawat perdamaian kawasan,” sambung Teguh.

Latar belakang dari hubungan pertahanan Indonesia dan Tiongkok sendiri terus berkembang dalam kerangka kemitraan strategis komprehensif. Sebagai sesama negara penting di Asia, kerja sama di sektor maritim dipandang krusial untuk memastikan jalur perdagangan internasional tetap aman dan terbuka.

Di sisi lain, kawasan Indo-Pasifik saat ini tengah menghadapi persaingan ketat antara Amerika Serikat dan sekutunya melawan kebangkitan militer dan ekonomi Tiongkok. Dalam pusaran persaingan inilah Indonesia dituntut untuk menerapkan prinsip kehati-hatian tingkat tinggi agar tidak terjebak dalam kepentingan hegemonik salah satu pihak.

Bagi Indonesia, latihan militer seperti Passex dengan Tiongkok maupun negara-negara adidaya lainnya bukanlah bentuk konfrontasi terhadap pihak manapun. Kegiatan tersebut merupakan wujud nyata implementasi diplomasi pertahanan yang merangkul semua pihak demi terciptanya kawasan yang stabil.

“tabilitas kawasan regional sangat bergantung pada transparansi niat baik (good faith) dari negara-negara yang terlibat. Komunikasi militer yang terbuka diharapkan mampu meredakan ketegangan tanpa harus mengorbankan prinsip kedaulatan negara lain,” masih ujar Teguh.

Oleh karena itu, respons defensif atau rasa cemas dari pihak seperti Taiwan harus disikapi oleh negara-negara kawasan dengan terus mengedepankan dialog dan prinsip penghormatan terhadap hukum internasional. Transparansi tujuan latihan militer bersama menjadi kunci utama untuk mencegah salah tafsir strategis.

Sebelum mengakhirnya pernyataanya yang diterima redaksi, Teguh menggarisbawahi bahwa diplomasi pertahanan Indonesia di bawah doktrin bebas aktif sudah berada di jalur yang semestinya. Latihan rutin seperti Passex dengan Tiongkok harus dilihat secara proporsional sebagai instrumen teknis militer dan diplomasi damai, alih-alih diseret ke dalam spekulasi konflik terbuka.

Dengan pemahaman geopolitik yang matang, Indonesia diharapkan mampu terus memainkan peran konstruktifnya sebagai poros maritim dunia, sekaligus menjadi penyeimbang damai di tengah dinamika perebutan pengaruh kekuatan global di kawasan Asia Pasifik.


C-17 Globemaster III yang Rusak Parah Dihantam Badai Kembali Mengudara

Sebelumnya

Rudal Ukraina Salah Tembak, Jet Tempur MiG-29 Hancur

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer