post image
KOMENTAR

Oleh: Abdullah Rasyid, Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN dan Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan

KEMENANGAN Abdul El-Sayed dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi Senat Amerika Serikat dari Michigan patut diperhatikan dari Jakarta. Bukan semata-mata karena latar belakangnya sebagai Muslim, melainkan karena isu yang dibawanya menyentuh salah satu wilayah paling sensitif dalam politik Amerika: hubungan dengan Israel.

El-Sayed belum menjadi senator. Jalan menuju pemilihan November masih terbuka dan hasil akhirnya belum dapat dipastikan. Tetapi kemenangan di Michigan sudah menyampaikan pesan penting. Seorang kandidat yang terang-terangan mengkritik kebijakan Israel di Gaza, menolak bantuan militer Amerika yang tidak bersyarat, dan mengambil jarak dari kelompok lobi yang selama puluhan tahun berpengaruh di Washington ternyata tetap bisa memenangkan kontestasi politik penting.

Beberapa waktu sebelumnya, Zohran Mamdani juga mengguncang politik New York. Kemenangannya, disusul kemunculan sejumlah kandidat progresif lain, memperlihatkan perubahan yang sulit dianggap kebetulan. Politik Amerika sedang mengalami pergeseran generasi, isu, bahkan cara pemilih melihat dunia.

Palestina menjadi salah satu penandanya.

Dukungan kepada Israel selama bertahun-tahun hampir menjadi konsensus di Washington. Partai Republik dan Demokrat memang berbeda dalam gaya serta kadar dukungan, tetapi jarang ada politisi arus utama yang bersedia mengambil risiko besar dengan mempertanyakan fondasi hubungan tersebut.

Gaza membuat batas itu mulai bergeser.

Kehancuran kota, korban sipil, pengungsian massal dan penderitaan kemanusiaan yang disaksikan setiap hari melalui telepon genggam mengubah cara sebagian masyarakat Amerika memahami konflik. Generasi muda tidak lagi menerima begitu saja kerangka lama bahwa seluruh persoalan Timur Tengah harus dilihat melalui kepentingan keamanan Israel.

Perubahan tersebut tidak berarti Amerika tiba-tiba menjadi pro-Palestina. Terlalu sederhana jika dibaca demikian. Struktur politik Washington, industri pertahanan, kepentingan geopolitik dan jaringan lobi tetap sangat kuat.

Namun sesuatu telah bergerak.

Dan dalam politik, pergeseran opini publik sering lebih penting daripada perubahan kebijakan yang langsung terlihat.

Michigan memberi contoh menarik. Negara bagian ini bukan wilayah yang secara politik aman bagi salah satu partai. Donald Trump pernah memenanginya, Joe Biden merebutnya kembali, kemudian Trump kembali unggul. Michigan adalah salah satu tempat terbaik untuk membaca perubahan suasana politik Amerika.

Karena itu, kemenangan El-Sayed membawa arti lebih besar daripada sekadar pergantian kandidat Demokrat.

Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan dengan cara Presiden Prabowo Subianto membangun politik luar negeri.

Prabowo sejak awal pemerintahannya memilih sikap yang cukup terang: Indonesia ingin bersahabat dengan semua pihak tanpa menjadi pengikut siapa pun. Politik bebas aktif tidak diletakkan sebagai slogan sejarah, melainkan sebagai kebutuhan praktis menghadapi dunia yang semakin terfragmentasi.

Indonesia menjaga hubungan dengan Amerika Serikat, tetapi pada saat yang sama memperkuat komunikasi dengan China, Rusia, negara-negara Timur Tengah, Eropa dan kekuatan Global South.

Tidak ada kewajiban bagi Indonesia untuk memilih satu kubu.

Pada persoalan Palestina, garis Prabowo juga relatif jelas. Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara. Bahkan ia pernah menyatakan bahwa Indonesia siap membuka hubungan diplomatik dengan Israel apabila Israel mengakui negara Palestina.

Pernyataan itu sempat menimbulkan perdebatan. Padahal, bila dibaca sebagai strategi diplomasi, pesannya justru cukup kuat.

Indonesia tidak memusuhi suatu bangsa. Yang ditolak adalah pendudukan dan pengingkaran terhadap hak rakyat Palestina untuk memiliki negara sendiri.

Posisi seperti ini membuat Indonesia mempunyai ruang yang lebih luas untuk berbicara.

Kita dapat tetap keras terhadap tragedi kemanusiaan di Gaza tanpa harus memutus kemungkinan dialog. Kita bisa mempertahankan dukungan kepada Palestina sambil menawarkan jalan keluar yang realistis. Diplomasi membutuhkan prinsip, tetapi juga membutuhkan pintu yang tidak seluruhnya ditutup.

Di sinilah perubahan politik Amerika memberi peluang.

Selama ini tekanan terhadap kebijakan Washington mengenai Palestina lebih banyak datang dari luar Amerika: negara-negara Arab, dunia Islam, negara berkembang, organisasi kemanusiaan dan forum internasional.


Trump Batasi Hak Kewarganegaraan Lewat Kelahiran dan Larang “Wisata Bersalin”

Sebelumnya

Masuki Fase Penting, Ini Posisi Iran, AS, dan Oman dalam Perjanjian Selat Hormuz

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia