post image
Ketua Dewan Pakar JMSI Hendry Ch. Bangun
KOMENTAR

Oleh: Hendry Ch. Bangun, Ketua Dewan Pakar JMSI

HARI-HARI ini di Amerika Serikat sedang ramai dibicarakan soal Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, sekembalinya dari Pertemuan Puncak (NATO Summit) di Turkiye, awal Juli 2026 lalu. Menurut laporan media besar ternyata Trump terbang dari negara tuan rumah tanpa menggunakan Air Force One, yang biasanya menjadi pesawat andalan negara adidaya itu. Tetapi memakai pesawat pengganti C232 Angkatan Udara AS (USAF).

Analisis intejelen menyimpulkan adanya ancaman nyata bahwa Air Force One hadiah dari Qatar yang digunakan dari Washington ke Ankara, rawan terhadap serangan udara karena belum dilengkapi standar pengamanan prima seperti Air Force One asli. Seperti diketahui Gedung Putih Terbang itu dilengkap berbagai senjata penangkis, bahkan dari dampak serangan nuklir, sehingga sangat aman dipergunakan Presiden AS sebagai kantor dalam kondisi darurat. Dari sana dia bisa menjalin komunikasi dengan staf di darat, memerintahkan penggunaan kekuatan militer, berkordinasi dengan pemimpin negara lain tanpa interupsi dan bebas dari sadapan.

Awalnya berita bahwa Air Force One rawan dan belum memenuhi standar keamanan muncul di Washington Post Juli lalu sehingga pemerintah AS langsung bahkan melaporkan adanya pelanggaran sebab membocorkan keamanan nasional. Tetapi dengan munculnya fakta baru maka kemungkinan laporan itu akan dimentahkan.

Untuk mengelabui masyarakat, Trump, sungguh-sungguh naik dengan tangga ke pesawat Air Force One sebagaimana lazimnya pada 8 Juli itu. Terlihat dia kemudian melambaikan tangan, dan setelah sampai di atas dia menghilang di balik pintu yang ditutup. Setelah itu tentu saja pintu pesawat ditutup sesuai standar. Tetapi rupa-rupanya, tidak lama kemudian, sebuah truk pengangkut makanan (catering)  Turkish Dopco muncul di sisi lain dari pesawat. Di sinilah dilaporkan Trump dimasukkan ke dalam truk catering, setelah itu dia dibawa ke pesawat lain, pesawat USAF C232, yang biasanya mendampingi Air Force One.

Yang belakangan ditanyakan wartawan ke Presiden Trump beberapa waktu lalu, mengapa kok jendela pesawat harus ditutup ketika Air Force One bersiap terbang dari bandara Ankara, tidak seperti biasanya. Apakah ada ancaman khusus? Tanya wartawan. “Selalu ada ancaman dari Iran. Dan saya nomer satu dalam daftar mereka,” katanya bercanda.

Trump akhirnya turun dari Air Force One setibanya di Amerika Serikat, dan belum diperoleh info kapan Trump dipindahkan kembali dari USAF C232. Spekulasi menyebutkan bahwa itu terjadi di Inggris, karena pesawat sempat mampir sana sebelum pulang ke Washington. 

Sejauh ini belum ada penjelasan berupa rekaman yang disampaikan pemerintah AS untuk membantah spekulasi Trump diselundupkan dengan truk catering dan menggunakan pesawat lain. Menurut informasi, operasi rahasia  itu hanya diketahui sedikit orang seperti Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Cain dan Menteri Peperangan Peter Hegseth. Pejabat lainnya tetap merasa mereka terbang bersama Donald Trump dari Ankara seperti biasanya.

Tetapi di media sosial, olok-olok atas peristiwa itu semakin ramai.  Aneka macam pemberitaan, dibantu AI, memberi gambaran dan narasi yang lucu dan menohok. Ada yang menyebut inilah pertama kalinya ditunjukkan bagaimana pengecutnya seorang presiden AS, sampai bersedia naik truk catering untuk mengelabui lawan. Ada yang menyebut, betapa tega dia membiarkan para pejabat dan staf, seperti dikorbankan sementara dia sendiri terbang dengan aman menggunakan pesawat lain. 

Dari sisi keamanan tentu saja, wajar bahwa apapun caranya pengamanan seorang presiden tidak boleh spekulatif. Meskipun ancaman adanya peluang rudal ke Air Force One belum pasti, tetapi antisipasi harus jalan. Presiden harus aman. 

***

Bagi saya, pemberitaan tentang Donalt Trump itu menunjukkan bagaimana upaya media-media di Amerika Serikat, begitu pula media kenamaan di Eropa, tidak mengenal lelah untuk  mencari tahu dan mendapatkan fakta-fakta penting untuk diberitakan terhadap seorang yang punya nilai berita besar. Karena itu menyangkut kepentingan publik, hak masyarakat untuk tahu dan transparansi penyelenggaraan negara.

Ini yang bisa menjadi acuan media massa di negara kita, begitu pula para wartawannya, untuk bekerja keras, betapa besarpun ancaman yang ada. Termasuk ancaman dari pihak pemerintah yang kurang menyukai berita kritis.

Tapi poin lagi bagi saya pribadi adalah peristiwa truk katering tadi. Sebab saya pernah mengalami sendiri kejadian serupa ketika meliput Asian Games Bangkok 1998, bulan Desember, hal yang rasanya tidak pernah dialami wartawan Indonesia lainnya.

Jadi ceritanya, kaki saya agak keseleo ketika meliput atletik di stadion utama Bangkok karena agak terpeleset di batu koral. Waktu itu Supriati Sutono yang dianggap  hanya kelas Asia Tenggara berhasil merebut medali emas nomer 5000 meter dengan mengalahkan atlet India Sunita Ran dan atlet Jepang Michiko Shimizu, di saat-saat terakhir. Saya menunggui dia yang menjalani tes urine, yang dilakukan karena Supriati tidak diperhitungkan dan ternyata menang.

Berjalan menuju press centre mungkin karena gembira, saya sembarang melangkah, sehingga keseleo. Tidak saya rasakan karena ada berita penting. Malamnya sesampainya di hotel, kaki saya mulai membengkak. Saya lalu membeli semacam balsam  dan mengurut-urut pergelangan kaki dengan tujuan agar bengkaknya mengkerut. Ternyata semakin bengkak. Pagi-pagi saya meriang.  Bahkan untuk memakai celana panjang pun susah.

Karena kaki sulit digerakkan, dari hotel menuju Bandara Don Muang, saya bersama rekan Irving Noor teman sekamar, pesan taksi limusin supaya punya ruang lebih leluasa. Sesampainya di bandara, kepada petugas saya meminta kursi roda dan menjelaskan sakit kaki saya. Atlet dan ofisial Indonesia yang melihat saya, banyak yang berkelakar. “Atlet yang bertarung di lapangan, kok  ini malah wartawan yang cedera,” ujar mereka. Saya tersenyum pahit saja, maklum rasa nyut-nyutan kaki sakitnya bukan kepalang.

Entah bagaimana awalnya, oleh petugas bandara saya kemudian dimasukkan ke jalur khusus untuk check ini, bersama rekan Irving Noor dan Zulfirman. Jadi seperti kru pesawat terbang. Cepat dan lancar sementara belasan wartawan lain masih antre.

Oleh petugas darat dan staf Singapore Airlines, ternyata saya diperlakukan Istimewa lagi. Karena dianggap bakal sulit berjalan dari gerbang menuju ke dalam pesawat, akhirnya saya dimasukkan dengan truk katering. Jadi saya bersama teman dibawa ke lantai dasar, menuju truk catering yang sudah disiapkan. Setelah itu kami masuk dan dibawa ke pesawat yang akan membawa ke Jakarta via Singapura.

Setelah mobil katering berada di sisi pesawat, truk itu naik, dan membuka sisi kanan jendela yang khusus untuk memasukkan makanan, di bagian depan. Saya pun tertatih-tatih melangkah mencari kursi sesuai hasil check ini. Alhamdulillah, saya malah lebih cepat masuk ke pesawat dibandingkan jalur normal. Ini pengalaman pertama dan tampaknya terakhir. Tentu berbeda dengan Presiden Donald Trump, yang melakukannya dengan alasan keamanan.

Saya menjadi penumpang Istimewa, karena saat pesawat SQ transit di Singapura, saya satu-satunya yang boleh duduk di kursi, sementara yang lain turun dan baru akan masuk lagi untuk terbang sesuai prosedur. Pengalaman unik, yang mungkin tidak akan saya ingat lagi kalau tidak ada peristiwa Trump di media Amerika Serikat.


Investasi di Air India, Singapore Airlines Hadapi Tantangan Finansial

Sebelumnya

Masih Dibicarakan, Tabrakan Mobil dan Jet Pribadi di Milan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews