post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

American Airlines baru-baru ini mencatatkan langkah maju dalam upaya dekarbonisasi industri penerbangan dengan mengoperasikan penerbangan komersial menggunakan bahan bakar yang terbuat dari limbah CO2. Menggunakan pesawat Embraer E175 milik American Eagle, maskapai tersebut terbang dari Bandara Internasional Corpus Christi menuju Bandara Internasional Dallas/Fort Worth dengan campuran bahan bakar eSAF (electro-Sustainable Aviation Fuel).

Teknologi ini dikembangkan oleh perusahaan asal California, Infinium, yang memanfaatkan tenaga listrik terbarukan serta penangkapan emisi CO2 untuk menciptakan bahan bakar sintetis. Proyek yang dijalankan di fasilitas "Pathfinder" di Texas ini menjadi terobosan penting karena tidak lagi mengandalkan bahan baku hayati seperti minyak goreng bekas yang selama ini menjadi sumber utama Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Meskipun secara teknis berhasil, tantangan terbesar dari bahan bakar eSAF terletak pada aspek ekonomi yang sangat brutal. Saat ini, biaya produksi eSAF diperkirakan mencapai 13 kali lipat dibandingkan bahan bakar jet konvensional dan sekitar tiga hingga empat kali lipat lebih mahal daripada bio-SAF tradisional.

Tingginya biaya tersebut terutama dipicu oleh kebutuhan energi listrik terbarukan yang masif untuk proses elektrolisis hidrogen, serta investasi besar dalam pembangunan infrastruktur fasilitas produksi. Analisis menyebutkan bahwa untuk skala produksi kecil, biayanya bisa mencapai $5,00 per liter, jauh melampaui harga bahan bakar fosil yang hanya berkisar di angka $0,80 hingga $1,00 per liter.

Di sisi lain, industri penerbangan global saat ini memang sedang berada di bawah tekanan besar untuk mencapai target net-zero emisi karbon pada tahun 2050. IATA mengakui bahwa meskipun target tersebut tetap menjadi ambisi utama, industri penerbangan saat ini dinilai "sedang melenceng dari jalur" karena hambatan dalam produksi bahan bakar berkelanjutan dan kendala pengiriman pesawat baru yang lebih efisien.

Perbedaan utama antara eSAF dan SAF berbahan baku minyak (HEFA) terletak pada ketersediaan bahan baku. Sementara pasokan lemak dan minyak nabati sangat terbatas dan diperebutkan oleh industri lain, eSAF menawarkan potensi skala produksi yang jauh lebih luas karena hanya membutuhkan air, CO2, dan listrik sebagai bahan utama.

Amerika Serikat saat ini terlihat lebih progresif dibandingkan Eropa dalam hal implementasi proyek eSAF skala besar. Proyek "Roadrunner" milik Infinium di Texas telah mencapai keputusan investasi final dan diharapkan mulai beroperasi pada 2027, dengan American Airlines telah mengamankan perjanjian pembelian jangka panjang dari fasilitas tersebut.

Di Eropa, kondisi justru lebih menantang di mana regulasi seperti ReFuelEU Aviation menargetkan produksi eSAF yang signifikan pada 2030, namun hingga saat ini belum ada fasilitas skala komersial besar yang mencapai keputusan investasi final. Investor menghadapi ketidakpastian tinggi mengenai pendanaan proyek-proyek infrastruktur masa depan.

Keberhasilan penerbangan American Airlines dari Corpus Christi membuktikan bahwa secara teknis, bahan bakar sintetis ini dapat digunakan pada mesin pesawat yang ada saat ini tanpa memerlukan modifikasi atau penanganan khusus. Namun, tantangan nyata tetap pada upaya menurunkan biaya produksi melalui peningkatan teknologi elektroliser dan stabilitas harga listrik.

Ke depan, efisiensi skala ekonomi menjadi kunci utama bagi masa depan eSAF. Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2050, jika teknologi terus berkembang dan harga listrik terbarukan menjadi lebih stabil, biaya produksi eSAF diharapkan bisa turun hingga ke kisaran $2,50 per liter, menjadikannya solusi yang lebih kompetitif bagi masa depan penerbangan bersih.


KOMENTAR ANDA

Baca Juga