Produsen pesawat regional terkemuka di dunia, ATR, telah mengidentifikasi 209 rute penerbangan domestik baru di Indonesia yang layak secara ekonomi jika dilayani oleh pesawat turboprop regional.
Total potensi permintaan pada rute-rute tersebut mencapai 16 juta penumpang per tahun, dan infrastruktur bandar udaranya telah tersedia.
Potensi pengembangan rute penerbangan domestik baru di Indonesia sangat besar, karena 70 dari 180 bandar udara di Indonesia yang memiliki landasan pacu beraspal saat ini belum melayani penerbangan penumpang berjadwal.
ATR mengidentifikasi rute-rute penerbangan baru yang layak secara ekonomi menggunakan platform MobilityMonitor miliknya, yang menganalisis pola perjalanan 35 juta penduduk Indonesia. Kelompok ini—yang merupakan sampel representatif dari populasi Indonesia secara keseluruhan—melakukan 780 juta perjalanan antarkota dalam satu tahun.
Perjalanan tersebut dilakukan dengan berbagai moda transportasi, termasuk mobil, sepeda motor, bus, kapal feri, kereta api, dan pesawat. Sekitar 90% dari perjalanan tersebut menempuh jarak 100 hingga 800 kilometer, rentang yang sangat ideal untuk dilayani oleh pesawat turboprop seperti ATR.
Dengan memetakan perjalanan-perjalanan paling populer ke dalam jaringan bandar udara di Indonesia, lalu mengekstrapolasi data dari sampel representatif tersebut untuk memperkirakan total ukuran pasar, ATR mengidentifikasi 209 rute penerbangan yang berpotensi dikembangkan.
Menariknya, 88% dari rute penerbangan potensial tersebut—yang mewakili volume penumpang sebesar 14 juta per tahun—merupakan rute intrapulau. Selain itu, 90% dari rute penerbangan potensial baru tersebut berada di luar Pulau Jawa, yakni di Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Papua, dan Maluku.

Pulau Jawa memiliki infrastruktur jalan yang baik, sedangkan pulau-pulau lainnya memiliki jaringan jalan yang lebih terbatas dan waktu tempuh yang lebih lama. Pulau Jawa hanya mencakup sekitar 7% dari luas wilayah Indonesia, tetapi memiliki sekitar 58% dari total jaringan jalan tol di Indonesia. Sebagai perbandingan, Kalimantan memiliki luas wilayah empat kali lebih besar daripada Pulau Jawa, tetapi hanya memiliki sekitar 5% dari total jaringan jalan tol di Indonesia.
Data MobilityMonitor milik ATR menunjukkan adanya kesenjangan mobilitas yang signifikan di seluruh kepulauan Indonesia. Kecepatan rata-rata perjalanan darat di Pulau Jawa mencapai sekitar 65 km/jam berkat jaringan jalan dan kereta api yang lebih luas. Sementara itu, di wilayah lain, kecepatan perjalanan hanya berkisar antara 26 hingga 37 km/jam. Rata-rata jarak tempuh di pulau-pulau yang lebih besar ini umumnya jauh lebih panjang, sering kali melebihi 350 kilometer dan bahkan mendekati 480 kilometer di beberapa wilayah Papua.
MobilityMonitor milik ATR mengidentifikasi Sumatra dan Sulawesi sebagai pasar potensial terbesar bagi penerbangan regional, didukung oleh tingginya permintaan perjalanan pada sejumlah besar pasangan kota baru.
Salah satu contohnya adalah rute Bengkulu–Pekanbaru (BKS–PKU) di Sumatra. Perjalanan darat dapat memakan waktu lebih dari 18 jam, sedangkan penerbangan langsung hanya memerlukan waktu sekitar satu jam. ATR memperkirakan bahwa permintaan penumpang cukup untuk mendukung pengoperasian dua penerbangan setiap hari.
“Temuan kami menunjukkan adanya pasar yang sangat besar dan belum tergarap. Permintaannya sudah ada, begitu pula infrastruktur bandar udaranya. Yang dibutuhkan sekarang adalah pesawat yang tepat,” ujar Alexis Vidal, Senior Vice President, Commercial ATR.
“MobilityMonitor kami juga telah mengukur perbedaan tingkat mobilitas di seluruh kepulauan Indonesia, namun layanan penerbangan ATR dapat menjembatani kesenjangan tersebut,” ujar Vidal.
“Dengan menghubungkan berbagai komunitas di seluruh kepulauan Indonesia melalui layanan penerbangan regional, layanan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas akses terhadap layanan esensial, serta menciptakan lebih banyak peluang bagi masyarakat,” tambahnya.
ATR merupakan produsen pesawat regional nomor satu di dunia dengan pesawat ATR 42 dan ATR 72, yang menjadi pesawat terlaris di segmen pasar berkapasitas di bawah 90 kursi. Visi utama perusahaan adalah mempercepat terwujudnya konektivitas yang berkelanjutan bagi masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha, di mana pun mereka berada, termasuk di wilayah terpencil.
Dioperasikan oleh sekitar 200 maskapai di lebih dari 100 negara, pesawat ATR rata-rata membuka 120 rute baru setiap tahun, sehingga mendukung pengembangan wilayah dan memperluas akses terhadap layanan esensial seperti layanan kesehatan dan pendidikan. Berkat fokus ATR pada inovasi berkelanjutan serta efisiensi inheren teknologi turboprop, pesawat ATR menjadi pesawat regional paling canggih, serbaguna, hemat biaya, dan beremisi paling rendah di pasar.
Dibandingkan pesawat jet regional berukuran serupa, pesawat ATR menghasilkan emisi CO₂ 45% lebih rendah. Pada Januari 2022, kami menerbangkan pesawat komersial pertama di dunia yang menggunakan 100% SAF pada kedua mesinnya. ATR merupakan perusahaan patungan antara Airbus dan Leonardo.



KOMENTAR ANDA