Oleh: Dahlan Iskan, Wartawan Senior
SAYA jadi pemandu wisata. Kemarin. Tamu saya –dua dari provinsi Jiangshu, dua dari Singapura–ingin melihat rumah sakit butik yang ditulis Disway edisi Selasa kemarin.
Maka saya pandu mereka ke RS Kepiting –ups, RS Waron. Yang di Jalan Kali Waron –di seberang jalan Kali Kepiting. Saya tidak memberi tahu pemiliknya –Prof Dr Amang Surya Priyanto. Toh ini hanya tur dadakan.
Satpam di situ ternyata tahu kedatangan saya. Akibatnya, GM RS itu pun, Mr Nano Wartino, buru-buru menyambut kami di lobi –mirip lobi hotel bintang lima plus. Nano bukan dokter. Ia orang perhotelan. Berpengalaman puluhan tahun di hotel bintang lima. GM RS kelas butik justru merekrut GM dari dunia perhotelan.
Maka saya serahkan tamu-tamu saya ke Nano. Saya kepepet waktu: belum sempat menulis untuk Disway. Saya pun duduk di kursi panjang di lobi. Sambil memesan kopi gula aren di kafenya.
Tiba-tiba Prof Amang, pemilik RS butik ini, menyapa saya: "kok duduk di sini," katanya. Ia pun merayu saya ke ruangan khusus. Sebenarnya saya pilih sendirian. Agar bisa menyelesaikan tulisan. Tapi baik juga bisa ngobrol soal lain dengan Prof Amang: soal bayi tabung. Ia adalah satu dari sedikit pendekar bayi tabung di Indonesia. Tentu sudah banyak ahli bayi tabung, tapi yang level pendekar belum sampai 15 orang.
"Sudah meramu berapa bayi tabung?" tanya saya.
"Banyak sekali," jawabnya.
"Seribu?"
"Lebiiiih".
"Dua ribu?"
"Masih lebih sedikit".
"Dibanding 10 tahun lalu, seberapa lebih maju dunia bayi tabung sekarang?"
"Jauh lebih maju," kata Prof Amang.
Kini, katanya, sudah ada satu bayi yang orang tuanya tiga atau empat orang. Sudah pula ada anak kembar yang selisih umur mereka delapan tahun.
Saya sendiri punya cucu kembar. Selisih umur mereka hanya dua menit: Aliqa dan Aqila. Yang diceritakan Amang ini bayi kembar dengan selisih umur delapan tahun.
Itu hanya bisa terjadi melalui ilmu bayi tabung.
Amang sendiri pernah menangani kejadian seperti itu. Untuk wanita dari Semarang. Anak pertamanyi dulu bayi tabung ''made in'' Amang.
Dalam proses pengambilan embrionya, Amang mendapatkan beberapa embrio bagus dari wanita itu. Amang mengusulkan agar yang dibuahi dari sperma sang suami dua embrio saja. Ada kemungkinan salah satunya jadi bayi. Atau dua-duanya.
Embrio selebihnya jangan dibuang. Prof Amang bisa menyimpannya. Kapan saja, bila diperlukan, bisa dipakai untuk hamil lagi.
Si wanita tidak segera memerlukan embrio simpanan itu. Dia ingin suaminyi membuahi dengan hubungan cinta suami-istri. Tapi sampai delapan tahun kemudian tidak juga hamil lagi. Dia ingin punya anak kedua.
Maka si Semarang konsultasi dengan Prof Amang. Akhirnya diputuskan: bayi tabung lagi. Pakai embrio lama.
Embrio yang satu sudah jadi anak yang kini berumur delapan tahun. Embrio satunya dikeluarkan dari laci pembekuan.
Lahirlah anak kedua dari proses bayi tabung lagi –dengan embrio stok lama. Maka pada dasarnya anak pertama dan anak kedua itu anak kembar. Hanya selisih umur mereka delapan tahun.


KOMENTAR ANDA