post image
KOMENTAR

Amerika Serikat menyebut serangan ke Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 lalu dan menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sebagai Operasi Epic Fury. Sementara  Israel menyebutnya sebagai Operasi Roaring Lion. 

Tapi bagi Republik Islam Iran, setidaknya bagi Kedutaan Besar Iran di Jakarta, serangan mendadak yang dilakukan “setan besar” dan “setan kecil” ini adalah Operasi Epstein.

Sebuah standing banner di depan pintu masuk kediaman Duta Besar Iran di kawasan Menteng bertuliskan “Operasi Epstein di Iran” pada bagian atasnya. Diikuti dengan penjelasan mengenai siswi sebuah sekolah di Minab, Hormozgan, yang tewas dalam serangan pertama. 

“200 siswi syahid setelah serangan Israel dan AS ke Sekolah Putri Shajareh Shaybeh di Minab, Hormozgan,” bunyi kalimat itu. Bagian lain yang menonjol dari banner itu adalah gambar sebuah rudal dengan bendera AS dan Israel yang menghantam tas sekolan anak-anak berwarna merah muda. Pada bagian bawah, Kedubes Iran menuliskan hashtag #IRAN_BENTENG_TERAKHIR_ISLAM.

Banner yang sama juga ditemukan di bagian dalam kediaman Dubes Iran.

Epstein yang dimaksud adalah Jeffrey Epstein yang namanya belakangan ini memenuhi jagad pemberitaan manca negara. Epstein adalah pemodal dan bankir kelahiran New York dari keluarga Yahudi. Dia memiliki hubungan yang begitu erat dengan banyak tokoh Amerika Serikat, tidak hanya dari kalangan politisi, tetapi juga ilmuwan, artis, militer, dan sebagainya.

Epstein menyimpan banyak rekaman dan catatan mengenai aktivitas tidak senonoh yang dilakukan oleh orang-orang yang pernah menggunakan jasanya. Terutama di Pulau Epstein di Karibia. 

Di bulan Juli 2019 Epstein didakwa melakukan kejahatan seksual yang melibatkan anak-anak di bawah umur. Sebulan kemudian dia dilaporkan bunuh diri di dalam selnya di penjara New York. Bulan November tahun lalu berkas Epstein atau Epstein’s Files dirilis secara publik sebagai bagian dari UU Transparansi Berkas Epstein yang disetujui secara bulat oleh Senat AS. 

Donald Trump dan sejumlah nama politisi papan atas AS lainnya disebutkan di dalam dokumen ini sebagai pihak yang memiliki hubungan baik dengan Epstein dan terlibat dalam kejahatan seksual yang dilakukannya. 

Menurut New York Times, nama Trump dan nama-nama lain yang terkait dengannya muncul setidaknya dalam 38 ribu dokumen setebal 3 juta halaman itu. 

“Nama presiden muncul beberapa kali dalam lembar informasi FBI terkait tuduhan pelecehan, termasuk satu kasus di mana sumber yang tidak dikenal menuduh Trump memaksa salah satu korban Epstein, yang diduga berusia 13 atau 14 tahun, untuk melakukan seks oral padanya, sekitar 35 tahun yang lalu di New Jersey,” tulis Trump.

Narasi yang mengaitkan keputusan Trump dengan Epstein’s Files semakin populer di media sosial.

 

 

 


Resonansi Timur Tengah di Indonesia: Solidaritas, Ideologi, dan Polarisasi

Sebelumnya

Tujuan IsAm

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Politik Global