post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Sekali salah pahat, tidak bisa diperbaiki. Dua-duanya butuh iman lebih besar dari palu.

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

DI dua ujung dunia, dua peradaban tanpa internet dan tanpa buldoser melakukan hal mustahil yang sama: mengubah gunung jadi kuil. Satu di Elora, Maharashtra, India. Satu lagi di Lalibela, Ethiopia. Bedanya 4000 km dan 400 tahun, tapi imannya sama: batu bisa berdoa.

Kuil Kailasa di gua Elora abad 8 M adalah kuil Siwa monolitik terbesar di dunia. Raja Krishna I dari dinasti Rashtrakuta memerintahkan: buang 200.000 ton batu basalt. Hasilnya kuil 30 meter tinggi dengan menara, aula, relief Ramayana, Mahabharata. Semua dipahat dari satu bongkah batu dari atas ke bawah.

Empat abad kemudian, Raja Lalibela dari dinasti Zagwe melakukan hal serupa di Ethiopia. Ia memahat 11 gereja dari bukit vulkanik merah. Gereja Bete Giyorgis bentuk salib Yunani sempurna, 15 meter ke bawah tanah. Tujuannya jelas: menciptakan “Yerusalem Baru” agar umat Kristen Ethiopia bisa ziarah tanpa bahaya Perang Salib.

Tekniknya identik. Arsitek mulai dari atap. Mereka menggali parit di sekeliling bukit, lalu memahat ke bawah. Ini kebalikan logika membangun biasa. Sekali salah pahat, tidak bisa diperbaiki. Dua-duanya butuh iman lebih besar dari palu.

Kailasa adalah kosmologi Hindu yang dipadatkan. Dindingnya penuh dewa menari, apsara terbang, raksasa Ravana mengguncang gunung Kailash. Tujuannya: membuat surga Siwa turun ke bumi agar manusia bisa menyentuhnya.

Lalibela adalah teologi Nasrani yang disederhanakan. Tidak ada patung manusia atau hewan. Dindingnya polos, jendelanya salib, lorongnya gelap seperti gua pertapaan. Tujuannya: membuat Yerusalem turun ke Afrika agar umat bisa bertemu Tuhan tanpa perantara.

Satu memuliakan banyak rupa Tuhan. Satu menyembah Tuhan yang tidak berwujud. Tapi dua-duanya menolak gagasan bahwa Tuhan hanya tinggal di langit. Gunung dipilih karena gunung selalu jadi tempat pertemuan langit dan bumi. 

Kailasa dan Lalibela bukan sekadar warisan UNESCO. Keduanya membuktikan 3 hal tentang manusia:

Pertama, teknologi lahir dari iman. Tanpa teori fisika, tukang batu abad 8 dan 12 mampu menghitung beban, drainase, akustik, dan cahaya. Saluran air Lalibela masih mengalirkan hujan sampai hari ini.

Kedua, arsitektur adalah identitas. India menegaskan dirinya lewat mitos dan ukiran. Ethiopia menegaskan dirinya lewat salib dan kesederhanaan. Batu menjadi KTP budaya.

Ketiga, manusia selalu ingin “mendekatkan surga”. Entah lewat pahatan dewa atau lorong gereja bawah tanah, upayanya sama: membuat yang ilahi jadi bisa dijamah.

Kailasa berbisik: “Dewa menari di gunung ini”. Lalibela menjawab: “Tuhan hadir di batu ini”. Dua bahasa berbeda, satu doa yang sama. Dan sampai hari ini, Kailasa dan Lalibela masih berdoa.


Nurani dan Naluri

Sebelumnya

Terbiasanisme

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana