Di Bandara Internasional Toluca, Meksiko, pemandangan menyedihkan tampak jelas dengan keberadaan 22 pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) yang terparkir tanpa tujuan. Pesawat-pesawat buatan Rusia ini telah berada di sana sejak tahun 2020, berubah dari aset utama maskapai menjadi bangkai logam yang membusuk di bawah terik matahari dan cuaca ekstrem.
Kisah tragis ini bermula pada tahun 2011 ketika Interjet, maskapai terbesar ketiga di Meksiko saat itu, memutuskan untuk membeli 30 unit SSJ100. Keputusan ini menjadikan Interjet satu-satunya operator pesawat tersebut di benua Amerika, dengan alasan efisiensi biaya yang ditawarkan sekitar 15% lebih murah dibandingkan pesawat Barat sekelasnya.
Namun, masalah muncul tak lama setelah pengiriman dimulai pada Juni 2013. Interjet segera menyadari bahwa mengoperasikan pesawat Rusia di Amerika Latin tanpa infrastruktur perawatan yang memadai adalah tantangan besar. Kelangkaan suku cadang menjadi hambatan utama yang menyebabkan pesawat sering kali harus dikandangkan untuk waktu yang lama.
Situasi semakin memburuk pada tahun 2018 ketika laporan menunjukkan bahwa Interjet mulai melakukan kanibalisasi terhadap pesawat yang sudah tidak beroperasi demi menjaga unit lainnya tetap terbang. Utang yang menumpuk kepada pemasok suku cadang membuat rantai pasokan benar-benar terputus, sehingga belasan pesawat terpaksa diparkir permanen di Toluca.
Ketika pandemi COVID-19 menghantam industri penerbangan pada Maret 2020, kondisi finansial Interjet semakin kritis dan akhirnya menyebabkan maskapai tersebut berhenti beroperasi sepenuhnya pada Desember 2020. Seluruh armada Airbus mereka ditarik oleh perusahaan penyewa, meninggalkan 22 unit SSJ100 sebagai satu-satunya aset fisik yang tersisa.
Keadaan semakin rumit dengan adanya perselisihan hukum yang melibatkan mantan karyawan Interjet. Para pekerja yang tidak dibayar melakukan aksi mogok dan menduduki aset maskapai, termasuk armada Superjet tersebut, yang semakin mengikat pesawat-pesawat itu dalam sengketa hukum antara kreditur, pihak serikat pekerja, dan pemilik legal dari Rusia.
Harapan sempat muncul pada awal 2022 ketika sebuah konsorsium perbankan Rusia berencana merestorasi beberapa unit untuk dipasarkan kembali di Amerika Latin. Namun, rencana tersebut hancur seketika setelah invasi Rusia ke Ukraina yang memicu sanksi internasional berat terhadap entitas Rusia.
Sanksi tersebut mengakibatkan pemutusan kontrak kerja sama antara pihak Rusia dengan perusahaan Barat yang menyediakan komponen kunci, seperti mesin PowerJet SaM146. Tanpa dukungan teknis dari Barat, pesawat-pesawat yang berada di Meksiko tersebut kehilangan akses terhadap suku cadang vital dan bantuan ahli, membuat restorasi menjadi mustahil secara teknis maupun hukum.
Pada Juni 2023, Irkut Corporation selaku produsen akhirnya menyatakan secara resmi bahwa pemulangan pesawat tersebut ke Rusia sudah tidak mungkin dilakukan. Akibatnya, nasib akhir pesawat-pesawat tersebut kini berada di tangan kurator pengadilan Meksiko, yang berupaya melikuidasi aset dengan menjual komponen yang masih tersisa sebagai besi tua.
Nasib armada Interjet ini menjadi pelajaran berharga bagi industri penerbangan global tentang risiko geopolitik dalam pengadaan pesawat. Bergantung pada rantai pasokan yang melintasi batas-batas politik yang tidak stabil dapat berakibat fatal, meninggalkan jejak sejarah berupa deretan pesawat yang hanya bisa berkarat di bandara, menunggu untuk dihancurkan.




KOMENTAR ANDA