post image
Peluncuran buku "Menggugat Republik" karya Syahganda Nainggolan.
KOMENTAR

Interupsi Mahasiswa

Salah satu momen paling menarik justru datang dari mahasiswa. Menjelang sesi akhir, tiga perwakilan mahasiswa ITB meminta waktu berbicara. Panitia akhirnya memberi mereka kesempatan. Salah satu yang naik ke panggung adalah Presiden Mahasiswa ITB, Farel Faiz Firmansyah.

“Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” katanya. “Rakyat merasakan derita ekonomi, sementara institusi yang seharusnya melindungi justru sering bertindak represif.”  Ia juga menyinggung kebijakan lingkungan dan pertambangan. “Setiap kali ada bencana kita selalu menyalahkan alam. Tapi siapa yang memberi izin tambang di daerah kritis?” katanya.

Pernyataan itu membuat ruangan kembali riuh. Sebagian hadirin mengangguk, sebagian lain tampak berpikir.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, dalam sambutannya menyebut Syahganda sebagai sosok yang berpengaruh dalam perjalanan politiknya. “Ada satu orang dalam hidup saya yang berhasil memprovokasi saya menjadi politisi,” katanya sambil tersenyum.

Menurut Hetifah, judul buku “Menggugat Republik” sangat mencerminkan karakter Syahganda. “Dia penggugat yang tidak pernah lelah menggugat dan mengubah arah sejarah.”  Ia menyebut beberapa nama lain yang menurutnya konsisten menjaga tradisi kritik publik. “Syahganda, Rocky Gerung, Jumhur—mereka sedikit dari kita yang terus menggugat negeri ini sebagai tanda cinta.”

Tak lama kemudian azan magrib berkumandang dari Masjid Salman, masjid terkenal yang berlokasi di sekitar kampus ITB. Hadirin pun berbuka puasa bersama dan melanjutkan percakapan di berbagai sudut aula.

Diskusi mungkin telah selesai, tetapi perdebatan tentang masa depan republik—dan tentang apa yang disebut Prabowonomics—tampaknya baru saja dimulai.


Prabowo Tekankan Persatuan dan Kesatuan di Tengah Tantangan Global

Sebelumnya

Try Sutrisno Meninggal Dunia, Karier Militer dan Hubungannya dengan Pak Harto

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Indonesiana