post image
KOMENTAR

"Apakah Anda pernah tahu gerbang yang khas Singapura itu?"

"Tidak pernah tahu. Tidak pernah mendengar," jawabnya.

"Bisakah dicarikan tahu di mana lokasi gerbang itu sekarang?"

Ia sibuk bertanya ke AI. Lalu datanglah jawabnya: di lokasi itu sekarang sudah berdiri gedung megah menjulang tinggi. Orang Suzhou menyebutnya "Gedung Celana Panjang".

Lalu ditunjukkanlah kepada saya foto gedung itu. Sudah menjadi ikon baru Suzhou. Sudah tidak ada bau Singapura sedikit pun. 

Saya lantas minta diantar ke si Celana Panjang itu. "Dekat. Hanya lima menit," katanya.

Kami pun ke sana. Melewati pinggir danau yang dipercantik. Dari jauh pun segera terlihat Gedung Celana Panjang itu. Betul. Mirip sekali bentuk celana panjang. Tapi celana panjangnya orang yang pakai egrang. Kakinya terlalu panjang untuk pantat tepos seperti pantat saya.

Begitu sampai di bawahnya terasalah betapa tinggi dan besar gedung itu. Di bagian bawah selangkangan gedung itu adalah plasa. Plasa luas. ''Selangkangan'' itu ternyata sekaligus difungsikan sebagai gerbang ke mal di belakangnya.

Banyak sekali pengunjung plasa ini. Kami turun ke lantai bawah melalui eskalator. Di situ ada stasiun kereta bawah tanah. Setelah menyusuri lobi stasiun itu kami naik ke plasa yang di pinggir danau. Lalu kembali menatap ke atas. Ke puncak gedung Celana Panjang. 

Saya pun mengamati sekitar plasa. Siapa tahu ada bekas-bekas gerbang Singapura II. Tidak ada. Yang ada sebaris patung singa kecil-kecil di pinggir pagar. Saya pun pura-pura bertanya ke dalam diri sendiri: sudah begitu kecilnyakah Singapura di mata kota Suzhou sekarang.

Saya tidak punya waktu memikirkan jawabnya. Harus kembali ke hotel. Acara berikutnya sudah menanti.

Ternyata proyek Singapura II itu dianggap gagal –oleh kedua belah pihak. Tiongkok kecewa karena Singapura menjual lahan kawasan industri itu terlalu mahal. Itu dianggap tidak bisa mendorong pertumbuhan ekonomi Suzhou. 

Kekecewaan itu diwujudkan dalam tindakan nyata: Pemda Suzhou membangun kawasan industri sendiri. Lebih besar. Lebih murah. Lokasinya? Jangan kaget: persis di sebelah Singapura II. Sama modernnya. Sama infrastrukturnya. Sama lebar-lebar jalannya. 

Seberapa lebih murah dari Singapura II? Separo harga.

Singapura pun protes ke pemerintah. Sampai ke pemerintah pusat. Jawab yang di pusat: itu urusan pemerintah daerah.

Akhirnya Singapura menyerah. Saham mayoritasnya dijual ke Suzhou. Singapura tinggal minoritas. Lalu pemegang saham mayoritas melebur Singapura II ke Suzhou Industrial Estate. 

Nama Singapura pun tenggelam. Pun gerbang dan patung besar Merlionnya.


Tamparan Mojtaba

Sebelumnya

Fir’aun Baik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway