post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

DI alam spionase, nama samaran kerap digunakan demi melindungi identitas sang agen rahasia. Semisal nama samaran James Bond adalah nama sandi 007. Di film “A View to Kill” nama samaran James Bond adalah St. John Smythe. Bahkan di film “Octopussy”, James Bond tiga nama samara yang digunakan silih berganti sesuai kebutuhan yaitu Colonel Toro, Charles Morton, dan James Stock .

Di semesta sastra, nama samaran disebut sebagai Nama Pena yang digunakan untuk berbagai kepentingan mulai dari sekedar menyamarkan nama asli sampai ke agar bukunya makin laris dijual.

Semula saya tidak tahu bahwa nama penulis kisah Silas Marner dan Middlemarch sebenarnya bukan George Elliot yang jelas nama lelaki namun ternyata adalah Mary Ann Evans yang jelas membuktikan bahwa George Elliot sebenarnya perempuan. Mary Ann Evans menggunakan Nama Pena dengan alasan agar karyanya dianggap serius oleh kaum lelaki yang menguasai industri penerbitan buku di samping menutupi kehidupan pribadi sebagai pelakor yang kumpul kebo dengan lelaki orang.

Bronte bersaudari: Charlotte, Emily dan Anne Bronte sepakat tidak menggunakan nama Bronte tetapi Bell. Charlotte = Currer; Emily = Ellis dan Anne = Acton dengan semuanya bernama keluarga Bell. Mereka bertiga sepakat demi tidak diremehkan penerbit dan tidak dihakimi tetangga berdasar gender.

Amantine Dupin yang gemar tampil sebagai lelaki sengaja menggunakan nama lelaki George Sand agar serius dianggap sebagai penulis dan kritikus terbukti berjaya menjadi penulis paling laris di Eropa pada usia 27 tahun sebelum kembali menjadi perempuan dan meninggalkan segenap popularitas demi menjadi belahan jiwa Fryderyk Chopin di pulau Mallorca.

Sastrawan yang menggunakan Nama Pena ternyata bukan hanya perempuan tetapi juga lelaki seperti penulis hebat bernama Eric Arthur Blair memiliki Nama Pena: George Orwell yang bermahakarya abadi: “1984” dan “Animal Farm”.

Sementara Samuel Ludwige Dodgson menganggap nama dirinya terlalu panjang maka mempersingkat Nama Penanya cukup menjadi Mark Twain yang merupakan istilah sandi nakhoda kapal uap di sungai Mississippi. Mark Twain mewariskan “Tom Sayer” dan “Huckellberry Finn” kepada sastra abadi dunia.

Nama asli Lewis Carroll sebagai penulis dongeng bermain logika dan matematika “Alice in Wonderland” dan “Alice Through the Looking Glass” sebenarnya adalah Charles Lutwidge Dogson yang dosen matematika di Oxford namun tidak mau para muridnya tahu bahwa dia adalah penulis dongeng.  

Stephen King menggunakan nama baru yaitu Richard Bachman untuk mengetes apakah bukunya laku karena cerita, bukan karena nama “Stephen King”.

Demi menulis kisah detektif agar tidak dibanding-bandingkan dengan Harry Potter yang terlanjur tersohor ke seluruh dunia , maka J.K. Rowling menggunakan nama pena Robert Galbraith. Tatkala ayah Cecilia Boehl de Faber merobek karya tulis pertama putrinya dengan hardikan “Jangan ngerjain kerjaan lelaki!” maka akhirnya sastrawati Spanyol itu diam-diam menggunakan nama lelaki “Fernan Caballero”.

Sementara Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto.Ricardo diam-diam juga pakai nama pena Pablo Neruda akibat ayahnya tidak setuju dia jadi penyair yang kemudian malah diganjar Anugerah Nobel untuk Sastra 1971.

Semula saya juga tidak tahu bahwa pengarang Jawa, Any Asmara adalah  nama pena Achmad Ngubaini yang meyakini bahwa pada masa itu nama wanita lebih menarik bagi para pembaca sastra Jawa.


Membuka Pintu Sejarah Lemari

Sebelumnya

Cogito Ergo Sum Versus Sum Cogito Ergo

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana