post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

RENE Descartes mengatakan “Cogito, ergo sum” (Saya berpikir, maka saya ada), yang berarti bahwa satu-satunya hal yang pasti adalah bahwa saya sedang berpikir, dan dari situ saya dapat menyimpulkan bahwa saya ada.

Namun mohon dimaafkan, saya “agak laen” sebab berpikir bahwa saya harus ada dulu, baru saya berpikir. Sebab mustahil saya berpikir sementara saya belum atau apalagi tidak ada.

Urutan logika saya bertolak belakang dengan urutan logika Descrates. Berarti susunan sintaksa yang beda serta merta menghadirkan semantika yang beda pula.

“Sum cogito ergo” memang tidak sama dengan “Cogito ergo sum”. Namun, perlu diingat bahwa logika pemikiran Descartes lebih tentang mencari kepastian dan fondasi pilar-pilar pengetahuan, bukan tentang urutan logika yang baku dan beku.

Saya boleh saja memiliki interpretasi sendiri tentang ujar-ujar Descartes, dan itu bisa menjadi diskursus berkelanjutan tanpa akhir selama hayat dikandung badan alias apa yang disebut sebagai ada.  

Syukur Alhamdullilah, ternyata Jean Paul Sartre sepaham dengan saya dalam tidak  setuju “Cogito, ergo sum” karena percaya bahwa kesadaran (atau pikiran) tidak dapat menjadi dasar untuk memahami eksistensi manusia.

Sartre lebih percaya bahwa “eksistensi mendahului esensi”, yang berarti bahwa manusia ada terlebih dahulu, lalu kemudian menciptakan makna dan tujuan hidupnya sendiri melalui pilihan-pilihannya.

Jadi, bagi Sartre, “Saya ada” lebih fundamental daripada “Saya berpikir”.

Sartre juga menekankan kebebasan manusia untuk memilih dan menciptakan dirinya sendiri, yang berbeda dengan pandangan Descartes yang lebih fokus pada kesadaran sebagai dasar pengetahuan.

Sebenarnya, ada beberapa filsuf memiliki pandangan mirip dengan Sartre dan saya, satu di antara yang paling dekat adalah Martin Heidegger. Heidegger percaya bahwa “Dasein” (keberadaan) adalah fundamental, dan kesadaran (atau pikiran) adalah salah satu aspek dari keberadaan itu.

Heidegger menegaskan bahwa “Saya ada di dunia, maka saya memahami dan berpikir tentang dunia” berarti pada hakikatnya dapat diringkas menjadi bukan “Saya berpikir maka saya ada“ namun justru sebaliknya “Saya ada maka saya berpikir” selaras keyakinan saya.

Lalu masih ada Markus Gabriel sebagai seorang pemikir kontemporer dari Universitas Bonn, Jerman yang memiliki perspektif unik tentang ontologi dan epistemologi tertuang di dalam buku berjudul prookatif memelintir otak “Warum es Die Welt nicht gibt” (Mengapa Dunia Tidak Ada). 

Masih ada beberapa pemikir lain yang memiliki pandangan seiring-sejalan “Saya ada, maka saya berpikir”, semisal Emmanuel Levinas  percaya bahwa keberadaan (eksistensi) adalah fundamental, dan kesadaran (pikiran) adalah respons terhadap keberadaan itu.

Gilles Deleuze memiliki pandangan tentang “keberadaan sebagai proses”, mirip Sartre, dan percaya bahwa kesadaran adalah bagian dari proses itu. Slavoj Žižek memiliki pandangan tentang “keberadaan sebagai kegantian” dan percaya bahwa kesadaran adalah bagian dari proses itu.

Namun, setiap pemikir memiliki perspektif unik dan tafsir yang berbeda-beda, sehingga pemikiran mereka mustahil sama persis. Pemikiran memang nisbi maka lebih kontekstual ketimbang konsepsual akibat sangat terkait dengan persepsi, pengalaman, latar belakang, lingkungan kebudayaan, dan nilai-nilai individu, sehingga serta merta bersifat subyektif.

Tafsir subyektif justru potensial membebaskan pemikiran menjadi lebih merdeka dan beragam, namun juga rawan mendistorsi komunikasi sehingga pemahaman apalagi kesepakatan menjadi lebih ruwet maka lebih sulit bahkan lsbih mustahil dicapai.  


Menelaah Tata Bahasa Generatif

Sebelumnya

Yerba Mate, Jamu Guarani

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana