Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
DALAM berupaya mempelajari dua opus magnus Noam Chomsky yaitu “Language and Responsibily” dan “Reflections on Language” saya menemukan istilah keren menggetar sukma yakni Generative Grammar. Meski sadar bahwa diri saya hanya seorang pemelajar menulis yang sama sekali bukan linguis, saya nekad berikhtiar memahami apa sebenarnya apa yang disebut sebagai tata bahasa generatif tersebut.
Menurut tafsir subyektif saya, pada hakikatnya Noam Chomsky antusias memperkenalkan konsep "Generative Grammar" (Tatabahasa Generatif) dalam linguistik, yang berarti bahasa memiliki struktur internal yang memungkinkan penutur untuk generatif menciptakan kalimat-kalimat yang tidak pernah didengar sebelumnya, namun masih dapat dipahami oleh penutur lain.
Chomsky berargumen bahwa kemampuan ini tidak dapat dijelaskan oleh teori linguistik tradisional yang berfokus pada deskripsi struktur bahasa yang ada. Sebaliknya, ia mengusulkan bahwa bahasa memiliki sistem aturan yang dapat secara generatif digunakan untuk menciptakan kalimat-kalimat baru secara tak terbatas.
Tata Bahasa Generatif berfokus pada kemampuan penutur untuk menciptakan kalimat-kalimat yang gramatikal, yaitu kalimat yang sesuai dengan aturan-aturan bahasa. Ini berbeda dengan pendekatan linguistik tradisional yang berfokus pada deskripsi struktur bahasa yang ada.
Chomsky juga memperkenalkan konsep "Universal Grammar" (Tatabahasa Universal), yang berarti bahwa semua bahasa memiliki struktur internal yang sama, dan bahwa kemampuan bahasa adalah bawaan manusia.
Saya tidak pernah berani jumawa mengakui sepenuhnya paham dan mengerti seluruh makna yang terkandung di dalam apa yang disebut Noah Chomsky sebagai tata bahasa generatif.
Namun tanpa mengurangi rasa hormat kepada Noah Chomsky, saya memberanikan diri tidak terlalu percaya generalisasi bahwa semua bahasa memiliki struktur internal yang sama mengingat setahu saya bahasa Indonesia memiliki struktur yang tidak sama dengan bahasa Jerman apalagi China.
Namun saya percaya bahwa kemampuan bahasa adalah memang bawaan manusia mengingat langsung setelah keluar “procot” dari rahim ibunda, lazimnya setiap bayi mulai dari Greenland sampai ke Tierra del Fuego langsung berbahasa yang sama yaitu menangis oek-oek.
Mereka semua protes akibat mendadak dipaksa keluar dari rahim ibu yang nyaman untuk pindah ke alam fana nan sarat beban kemelut deru campur debu berpercik keringat, air mata dan darah.




KOMENTAR ANDA