post image
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

SEJAK lama saya tertarik pada musik Degung dan pancanada Sunda 13467 yang luar biasa mirip pentatonik Jepang yang digunakan pada lagu Sakura. Di luar musik ternyata kebudayaan Sunda juga kaya dengan karya sastra termasuk dalam bentuk cerita rakyat yang benar-benar berjaya merakyat sampai masa kini.

Legenda Mundinglaya Dikusumah adalah satu di antara cerita rakyat Sunda yang terkenal. Ada beberapa versi legenda tersebut antara lain yang berjudul Mundinglaya Dikusumah Sajabaning Langit tentang pangeran Pajajaran, putra Prabu Siliwangi, yang budiman dan sakti mandraguna. Ia diutus mengambil pusaka Lalayang Salaka Domas di kahyangan untuk menyelamatkan kerajaan. Setelah mengalahkan raksasa Jonggrang Kalapitung dan rintangan lain, ia berhasil dan menjadi raja.

Dalam legenda, Mundinglaya Dikusumah tersohor sakti mandraguna termasuk kemampuan berkomunikasi dengan hewan dan mengendalikan alam. Mundinglaya Dikusumah telah menjadi bagian melekat pada kebudayaan Sunda sering ditampilkan dalam bentuk wayang golek, teater, dan puisi Sunda.

Loetoeng Kasaroeng adalah film pertama yang diproduksi di Indonesia (dahulu Hindia Belanda). Film bisu ini dirilis pada 1926 oleh NV Java Film Company. Disutradarai dan diproduseri oleh L. Heuveldorp, sedangkan sinematografernya adalah G. Krugers. Film ini dibintangi oleh para pemeran pribumi, menjadikannya sebagai film pertama yang menampilkan penduduk asli. Pemutaran film perdananya di kota Bandung dari tanggal 31 Desember 1926 sampai 6 Januari 1927.

Film ini dibuat berdasarkan cerita rakyat Sunda yaitu, Lutung Kasarung. bercerita tentang kakak-beradik , Purbasari dan Purbararang yang saling berkompetisi. Purbararang, sang kakak, menghina Purbasari karena mempunyai kekasih seekor lutung bernama Guru Minda. Sementara, Purbararang sendiri mempunyai kekasih seorang manusia bernama Indrajaya, yang sangat ia banggakan. Pada akhirnya, terungkap bahwa Guru Minda adalah seorang pangeran tampan titisan dewa Ambu.

Ciung Wanara adalah seorang pangeran muda dari Kerajaan Pajajaran yang memiliki kesaktian luar biasa. Dia lahir dari rahim ibunya yang ditelan oleh seekor buaya, dan kemudian diselamatkan oleh seekor burung ciung yang memeliharanya. Ciung Wanara tumbuh menjadi seorang pahlawan yang kuat dan bijak, dan dia memutuskan untuk membalas dendam kepada pamannya yang telah membunuh ayahnya.

Dengan bantuan seekor kuda ajaib, Ciung Wanara berhasil mengalahkan pamannya dan menjadi raja yang adil. Cerita Ciung Wanara menjadi simbol kekuatan, keberanian, dan keadilan dalam budaya Sunda. Dia juga dikenal sebagai pahlawan yang setia kepada rakyatnya dan selalu membela kebenaran.

Dan tentu saja masih ada kisah Sangkuriang yang membentuk gunung Tangkuban Perahu. Sangkuriang adalah anak Dayang Sumbi dan Si Tumang, anjing titisan dewa. Sangkuriang membunuh Tumang saat berburu dan memberikan hatinya pada Dayang Sumbi. Dayang Sumbi marah, memukul kening Sangkuriang hingga terluka, dan mengusirnya.

Bertahun-tahun kemudian, Sangkuriang bertemu Dayang Sumbi tanpa saling mengenali dan saling jatuh cinta. Dayang Sumbi menyadari Sangkuriang adalah anaknya saat melihat bekas luka di kepala. Ia meminta anaknya membangun bendungan Sungai Citarum dan perahu besar dalam satu malam.

Dayang Sumbi mempercepat fajar dengan memohon bantuan Dewa agar makhluk halus pembantu Sangkuriang pergi. Sangkuriang marah dan menendang perahu tersebut, yang berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Lalu masih ada hikayat Si Kabayan yang dalam hal kecerdikan setara dengan Si Kancil di cerita anak-anak sastra Melayu dan Indonesia, maupun nun jauh di mancanegara semisal Imam Hoja di Aksehir, Turkiye dan Abu Nawas di Bagdad. Irak.


Mitos Otak Kanan, Otak Kiri

Sebelumnya

Psikososiokultural Tango Argentina

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana