Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
MASYARAKAT Islam di Indonesia merayakan malam terakhir Bulan Suci Ramadhan dengan menyelenggarakan Malam Takbiran. Masyarakat Hindu Bali merayakan hari terakhir menjelang hari raya Nyepi dengan menyelenggarakan parade Ogoh-Ogoh.
Tradisi Ogoh-Ogoh menjelang Hari Raya Nyepi di Bali memiliki makna filsafat yang sangat dalam. Ogoh-Ogoh adalah patung raksasa yang dibuat dari bambu, kertas, dan bahan lainnya, yang menggambarkan Bhuta Kala, yaitu kekuatan negatif yang harus dinetralisir.
Tradisi ini bertujuan untuk mengusir energi negatif dan membersihkan lingkungan sebelum memasuki Hari Raya Nyepi,didedikasikan untuk introspeksi, keheningan, dan keseimbangan alam.
Secara historiografis formal, tradisi Ogoh-Ogoh di Bali diperkirakan dimulai pada tahun 1980-an, ketika Hari Raya Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional. Namun, akar ritualnya terkait erat dengan upacara purifikasi dalam ajaran Hindu Bali yang sudah ada sejak berabad-abad lalu.
Ogoh-Ogoh awalnya digunakan sebagai bagian dari ritual Bhuta Yajna, yaitu upacara pengusiran roh-roh jahat atau energi negatif dari lingkungan sekitar. Tradisi Ogoh-Ogoh juga memiliki makna filosofis yang mendalam, yaitu tentang keseimbangan dan transformasi diri. Parade Ogoh-Ogoh melambangkan upaya manusia untuk menghadapi dan menaklukkan kekuatan negatif yang ada di sekitar maupun dalam dirinya sendiri.
Pembakaran Ogoh-Ogoh di akhir parade melambangkan pemurnian diri, di mana sifat-sifat negatif diharapkan lenyap bersama api yang membakar patung tersebut.
Parade Ogoh-Ogoh biasanya menampilkan patung-patung yang melambangkan kekuatan negatif, seperti Rahwana, Sarpakanaka, Betari Durga, Batara Kala, Dursasana, dan para dedemit. Namun, ada contoh unik di mana patung Donald Trump digunakan sebagai simbol kritik terhadap kapitalisme global dalam sebuah demonstrasi buruh di Jakarta pada Mei 2025.
Dalam demonstrasi tersebut, massa buruh membawa patung Ogoh-Ogoh berwajah Donald Trump sebagai simbol protes terhadap kebijakan ketenagakerjaan pemerintah.
Memang terkesan humoristis melihat patung Ogoh-Ogoh Donald Trump dibawa lalu dibakar oleh massa buruh dalam demonstrasi di depan Gedung DPR Jakarta. Patung tersebut digunakan sebagai simbol kritik terhadap kapitalisme global dan tuntutan mencabut UU Cipta Kerja.
Ogoh-Ogoh an sich adalah tradisi Bali yang diadakan menjelang Hari Raya Nyepi, di mana patung-patung raksasa dibuat dan dibakar untuk mengusir energi negatif. Namun, dalam kasus ini, patung Ogoh-Ogoh Donald Trump digotong dan dibakar sebagai media ekspresi politik dan sosial.



KOMENTAR ANDA