Pada 7 April 2026, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu yang mengakhiri serangan kedua belah pihak dan membuka kembali Selat Hormuz. Kini pembicaraan damai di antara kedua negara sedang berlangsung dengan Pakistan sebagai mediator.
Gencatan senjata tersebut disambut beragam sikap oleh tokoh-tokoh dunia. Secara umum ada yang optimistis dan yakin gencatan senjata akan berlangsung dengan baik dan sebagian lain meragukan efektifitasnya.
Presiden AS Donald Trump termasuk dalam pihak yanhg optimis. Dia menilai proposal 10-poin dari Iran sebagai "workable basis on which to negotiate". Walau mengancam serangan "bigger, better, and stronger" jika Iran melanggar, tapi Trump juga membuka opsi "joint venture" dengan Iran soal Selat Hormuz.
Wapres JD Vance, yang memimpin delegasi AS dalam pembicaraan di Islamabad, mendorong Iran agar tidak membiarkan "legitimate misunderstanding" soal Lebanon merusak kesepakatan. Dia bilang kesepakatan ini dasar bagi "fragile truce" di mana AS dan sekutu setuju berhenti menyerang.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyambut gencatan senjata sebagai "moment of relief to the region and the world" dan mendorong agar diubah jadi "lasting agreement".
Adapun Menlu Jerman Johann Wadephul mengatakan, “Keputusan gencatan senjata harus jadi langkah pertama menuju pasifikasi yang langgeng.”.
Sementara Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, gencatan senjata ini "much-needed de-escalation" dan negosiasi lanjutan yang krusial.
Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas juga buka suara. Menurutnya, ini “step back from the brink" yang menciptakan ruang untuk diplomasi.
PM Pakistan Shehbaz Sharif: Turut mengumumkan gencatan senjata dan mendesak semua pihak "exercise restraint". Pakistan juga disebut salah satu negara pendukung utama dorongan gencatan senjata bersama China, Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Qatar.
Menlu Italia Antonio Tajani mengatakan, gencatan senjata ini "Very positive development" yang menggerakkan ke arah perjanjian damai.
India pun menyambut gencatan senjata dan berharap jadi "lasting peace in West Asia", sambil menekankan diplomasi.
Pemimpin Katolik dunia Paus Leo XIV menyambut pengumuman gencatan senjata, menekankan pentingnya dialog dan rekonsiliasi. Sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan mendukungan proposal gencatan senjata.
Selain kubu yang percaya gencatan senjata sebagai sebuah kondisi yang menjanjikan, ada juga yang meragukan itu. Iran sendiri masuk dalam kelompok ini.
Mohsen Rezaee, eks-komandan IRGC: Menuduh AS melanggar gencatan senjata karena tidak bisa mengendalikan “anjing rabies-nya", merujuk ke Israel.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengklaim 3 dari 10 poin proposal sudah dilanggar: serangan Israel ke Lebanon, drone masuk wilayah Iran, dan Iran diblokir memperkaya uranium. Dia bilang negosiasi jadi "unreasonable" kalau dasar kesepakatan sudah dilanggar. Dia juga menegaskan pembicaraan di Islamabad tak akan mulai sebelum AS penuhi janji buka blokir aset Iran dan gencatan senjata di Lebanon.
Posisi Iran mengeras. Garda Revolusi "tidak akan menerima gencatan senjata atau pembicaraan diplomatik" karena kehilangan kontrol Selat Hormuz berarti kalah perang.
Di AS sendiri sejumlah Anggota juga bersuara sumbang. Kongres Sen. Ed Markey (D), misalnya, mengatakan "Saya senang ada gencatan senjata, tapi kita seharusnya tidak berada dalam perang ilegal ini sejak awal".
"Saya senang Trump mundur dan mati-matian cari jalan keluar dari gertakan konyolnya,” ujar Sen. Chuck Schumer (D).
“Trump membawa dunia ke tepi jurang. Tanpa tujuan yang jelas,” kata Rep. Shontel Brown (D).
Dalam editorialnya, USA Today menulis gencatan senjata Trump sebagai “jalan ke mana-mana” dan Iran tahu itu. Vance dan Kushner juga dinilai sebagai “orang yang salah” untuk negosiasi karena ini bukan kesepakatan bisnis.
Dari Eropa, PM Spanyol Pedro Sanchez menyebut gencatan senjata dua “minggu itu sebagai berita yang dapat diterima, tapi mengingatkan “momentary relief must not make us forget the chaos”.
“Pemerintah Spanyol tidak akan tepuk tangan untuk mereka yang membakar dunia lalu datang bawa ember,” kata Sanchez.
Titik Rawan Utama: Lebanon
Perselisihan terbesar sepanjang gencatan senjata sejauh ini adalah: apakah Lebanon masuk gencatan senjata?




KOMENTAR ANDA