post image
Ilustrasi AI
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

NAMAKU Sadako Sasaki. Waktu bom itu jatuh di Hiroshima, umurku baru dua tahun. Aku tidak ingat cahayanya. Aku hanya ingat setelahnya : rumah-rumah hilang, air hitam, dan rambut ibuku rontok.

Aku tumbuh jadi anak yang kuat. Juara lari estafet. Sampai umur 11 tahun, tiba-tiba aku jatuh di lapangan. Dokter bilang: leukemia. Penyakit bom atom. Mereka bilang aku sakit karena "awan jamur" yang mekar di langit, 10 tahun lalu. Di rumah sakit, seorang teman datang membawa kertas emas.

Katanya, “Lipatlah seribu bangau kertas. Yang Maha Kasih akan mengabulkan satu permintaanmu.” Aku percaya. Satu-satunya permintaanku sederhana: “Aku ingin hidup.”

Sadako Sasaki berhasil melipat 644 bangau kertas sebelum tubuhnya menyerah pada 25 Oktober 1955. Usia 12 tahun. Teman-teman sekelasnya melipat sisanya sampai genap 1.000, lalu menguburnya bersama Sadako.

Bangau-bangau kertas itu tidak pernah mengabulkan permintaannya. Tapi ia mengabulkan permintaan dunia yaitu perdamaian. Hari ini, di Taman Perdamaian Hiroshima, berdiri patung Sadako. Tangannya menengadah, memegang bangau emas.

Di bawahnya tertulis: “Ini tangisan kami. Ini doa kami. Perdamaian di dunia.”  Setiap tahun, 10 juta bangau kertas dari seluruh dunia dikirim ke sana. 10 juta doa. 10 juta penyesalan yang terlambat.

Dengan penuh kerendahan hati , saya memberanikan diri untuk bertanya, dengan suara anak 12 tahun yang sedang menghitung bangau ke-645. Untuk apa Anda menyimpan 13.000 hulu ledak nuklir hari ini?

Satu hulu ledak Tsar Bomba = 3.333 kali bom Hiroshima. Anda punya 13.000. Artinya Anda menyimpan 43 juta Hiroshima di dalam gudang. Sadako mati karena satu. Anda siap membunuh Sadako 43 juta kali lagi.

Kalian bilang “deterrence”alias “penggentar”. Sadako tidak mengerti bahasa Latin. Dia hanya tahu satu kata: sakit.

Deterrence kalian dibayar dengan sumsum tulang anak-anak. Apakah itu sepadan? Kalian bilang “keseimbangan kekuatan”.

Tapi timbangan kalian taruh di atas kuburan. Satu sisi timbangan diisi uranium. Sisi satunya diisi bangau kertas. Mana yang lebih berat, menurut hati Anda?

Sadako tidak sempat membenci. Dia sibuk melipat. Dia percaya, jika bangau ke-1.000 selesai, dia hidup. Kalian, orang-orang dewasa yang hebat, percaya jika hulu ledak ke-13.001 selesai, kalian aman.

Siapa yang lebih naif?

Maka ijinkan saya melipat bangau ke-1.001. Bangau ini tidak untuk Sadako. Dia sudah pergi.

Bangau kertas ke-1.001 ini untuk Anda. Terimalah. Ia ringan. Tidak radioaktif. Ia tidak bisa meledak. Ia hanya bisa mengingatkan. Letakkan di atas meja perundingan.

Di sebelah peta. Di sebelah tombol merah. Saat jari Anda gatal ingin menekan, lihat dulu bangau kertas ini. Ia dilipat oleh tangan gemetar seorang anak yang ingin lari estafet lagi.

Jika 1.000 bangau tidak bisa menyelamatkan satu anak, mungkin 1 bangau bisa menyelamatkan 8 miliar manusia. Asal Anda mau berhenti menghitung hulu ledak, dan mulai belajar menghitung lipatan.

Perang Nuklir tidak punya pemenang. Yang ada hanya Sadako-Sadako baru, di kota yang belum Anda kenal namanya. Dan mereka semua, tanpa sempat benci, akan bertanya hal yang sama: “Untuk apa?”. Jangan jawab dengan pidato. Jawab dengan melipat. Lipat semua cetak biru senjata itu, jadi bangau. Terbangkan. Barulah dunia bisa membangun. Bukan meledakkan!

Permohonan saya ajukan dengan penuh kerendahan hati demi Sadako. Demi anak Anda. Demi anak dari musuh Anda. Karena di bawah awan jamur, kita semua satu bangsa: Bangsa Abu.


Mengenang Jorge Luis Borges

Sebelumnya

Mendambakan Diwali sebagai Hari Raya Nasional

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana