post image
Ilustrasi AI
KOMENTAR

Tanpa sikap kritis, kita sebenarnya sedang menggelar karpet merah bagi kembalinya gaya kepemimpinan Jokowi jilid berikutnya.

Oleh: Edy Mulyadi, Wartawan Senior

DINAMIKA politik kita hari-hari ini menyuguhkan sebuah anomali yang menarik. Kita tahu, berlangsung hiruk-pikuk serangan hoaks dan pelintiran narasi yang menerjang Jusuf Kalla (JK). Tapi, tiba-tiba muncul pernyataan dari Wapres Gibran Rakabuming Raka yang cukup menyentak publik. "Pak JK idola saya, teladan kita semua," ujarnya.

Bagi mata awam, ini mungkin sekadar sanjungan junior kepada senior. Namun, dalam ekosistem politik yang sarat dengan simbol dan sandi, pernyataan ini adalah sebuah manuver catur yang diletakkan dengan sangat presisi.
Ada aroma rekonsiliasi yang kuat. Tapi di baliknya tersimpan jejak kalkulasi yang sangat dingin. Kita perlu melihat ini lebih dari sekadar basa-basi protokol politik. Tak bisa tidak, ini sebagai bagian dari strategi besar yang sedang dimainkan.

Beberapa waktu lalu, publik sempat mencatat adanya ketegangan tersirat antara JK dan Gibran. Diksi yang digunakan Gibran saat menanggapi usulan JK terkait kenaikan harga BBM dianggap sebagian kalangan sebagai sindiran tajam yang kurang perlu.

"Pemerintah bertekad melakukan efisiensi dan refocusing anggaran untuk melindungi masyarakat lapisan bawah agar tidak terbebani efek berantai dari kenaikan harga BBM seperti kenaikan harga bahan pokok, biaya transportasi, dll," kata Gibran. 

Demage control dan momentum yang pas

Bagi banyak pihak, sikap itu dianggap kurang elok bagi seorang politisi muda terhadap sosok sekaliber JK. Maka, pujian "Idola" yang meluncur baru-baru ini tak pelak adalah sebuah bentuk damage control yang sengaja diproduksi.

Dalam budaya politik kita yang masih paternalistik, penghormatan kepada senior adalah modal sosial yang mahal. Dengan menyebut JK sebagai teladan, Gibran sedang melakukan proses "pendinginan" suasana yang sempat memanas di ruang publik.

Dia mencoba menghapus citra konfrontatif. Gibran langsung menggantinya dengan narasi "anak muda yang tahu tata krama". Namun, yang tak kalah krusial untuk dicermati adalah, momentum saat pernyataan tersebut sengaja dilemparkan ke media.

Saat ini, JK tengah berada dalam pusaran serangan isu miring, termasuk pelintiran video ceramah di masjid UGM. Di sinilah letak kecerdikan taktis seorang Gibran dalam memanfaatkan situasi sulit yang sedang dialami oleh sang senior.

Dengan memuji JK secara terbuka, Gibran seolah memasang "perisai politik" bagi dirinya sendiri. Ia menarik garis tegas bahwa dirinya tidak ingin dikaitkan dengan upaya delegitimasi terhadap JK. Apalagi, serangan itu dilakukan cara-cara kotor oleh pihak lain.

Targetnya jelas: Gibran ingin tampil sebagai sosok yang mampu melampaui konflik personal ayahnya dengan JK. Dia sedang membangun "jembatan" sendiri sebagai bentuk investasi politik jangka panjang yang sangat pragmatis.

Evolusi sang pewaris

Kita sedang melihat evolusi seorang pemain baru yang mulai mahir menggunakan pernyataan bersayap. Manuver ini menunjukkan adanya akselerasi pembelajaran politik yang luar biasa. Mengubah pujian menjadi jaring untuk melucuti lawan secara elegan.

Namun, di balik segala kecanggihan manajerial komunikasi tersebut, publik tetap perlu memasang radar kewaspadaan yang tinggi. Kita tidak boleh lupa bahwa Gibran, dalam segala manuver "santunnya", tetaplah pewaris utama Jokowi. Menyebut nama bekas tukang mebel asal Solo itu, memori publik diingatkan kembali pada sebuah rezim yang selama satu dekade terakhir meninggalkan banyak catatan merah.

Memuji-muji langkah taktis Gibran tanpa mengkritisi fondasi kekuasaannya adalah sebuah kenaifan. Sebab, di balik diksi yang tertata, ada bayang-bayang Jokowi yang masih sangat pekat. Jangan lupa, Jokowi adalah penguasa yang oleh banyak pihak dituding telah melakukan banyak "dosa" politik terhadap rakyat dan negara. Mulai dari pelemahan demokrasi hingga penguatan cengkeraman oligarki.

Membiarkan diri terbuai oleh "politik pujian" ini sama saja dengan memberi legitimasi bagi berlanjutnya kekuasaan lama. Bedanya, kini dengan wajah yang lebih muda. Gibran bukanlah entitas yang berdiri sendiri. Dia adalah perpanjangan tangan dari sebuah sistem yang telah mapan selama sepuluh tahun terakhir.

Tanpa sikap kritis, kita sebenarnya sedang menggelar karpet merah bagi kembalinya gaya kepemimpinan Jokowi jilid berikutnya. Saat itu kepentingan rakyat seringkali harus takluk di bawah meja kompromi para elit. 

Kita harus waspada, jangan sampai kedaulatan negara tergadaikan hanya karena terpesona oleh kemasan "murid yang sopan".  


KOMENTAR ANDA

Baca Juga