post image
Ilustrasi AI
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

CATUR merupakan satu di antara permainan papan tertua dan paling populer di dunia. Perjalanan panjangnya membentang lebih dari 1.500 tahun, dengan akar kebudayaan yang kaya dan evolusi aturan yang terus berkembang.

Catur dipercaya berasal dari India Utara pada masa Kekaisaran Gupta (sekitar abad ke-6 M).. Nama aslinya Chaturanga (Sanskrit: “empat divisi”), mencerminkan empat cabang pasukan militer: Pejuang (Prajurit)  sekarang  Pion; Gajah sekarang Gajah (Bishop); Kuda sekarang Kuda (Knight); Kereta sekarang Benteng (Rook); Raja tetap Raja (Shah). 

Catur masuk ke Persia sekitar abad ke-7 dan disebut sebagai Shatranj. Istilah “Shah” (Raja) menjadi “Shah”, “Check” dan “Shāh Māt” menjadi “Checkmate” (Raja mati).

Setelah masa Al-Hikmah, Shatranj menyebar ke Timur Tengah dan Afrika Utara. Para sarjana Muslim mengembangkan teori awal, termasuk Mansuba (problem catur) dan pembukaan (opening).

Catur masuk ke Eropa melalui Semenanjung Iberia (Andalusia Spanyol) dan Italia Selatan (Sicilia). Pada abad ke-12, catur sudah populer di kalangan bangsawan Eropa, namun:

  • Gerakan  Gajah dan Ratu (Queen) masih terbatas.
  • Rokade (castling) belum ada.
  • Pion hanya bisa maju 1 kotak  (langkah pertama belum boleh 2 kotak).

Pada akhir abad ke-15, aturan baru diperkenalkan:

  • Ratu menjadi paling kuat (bergerak lurus maupun diagonal).
  • Gajah bergerak diagonal tanpa batas.
  • Rokade dan promosi pion (menjadi ratu) diperkenalkan.
  • Perubahan ini mempercepat permainan dan meningkatkan kompleksitas taktik.

Café de la Régence (Paris) menjadi pusat catur dunia (abad ke-18). Philidor (Prancis) menulis Analyse du jeu des Échecs (1749), karya teoretis catur pertama.

Para Pecatur Legendaris mulai bermunculan semisal: Paul Morphy (AS) mendominasi Eropa (1850-an) dan Wilhelm Steinitz (Austria) menjadi juara dunia pertama (1886).

Federasi Internasional (FIDE) didirikan pada 1924 di Paris mengatur Kejuaraan Dunia resmi sejak 1948 dijuarai Mikhail Botvinnik. 

Dominasi pecatur Uni Soviet misalnya: Botvinnik, Smyslov, Tal, Petrosian, Spassky, Karpov, Kasparov. Boris Spassky dikalahkan Bobby Fisher melalui Perang Urat Syaraf di luar papan catur.

Sementara Anatoly Kasparov menang WO menjadi Juara Dunia akibat Bobby Fisher ngambek syaratnya tidak dipenuhi panitya Eslandia karena dianggap tidak adil terhadap Kasparov. Peristiwa itu membingungkan maka banyak pihak menyangka Kasparov mengungguli Fisher, atau sebaliknya. Padahal tidak satu bidak pun sempat digerakkan oleh mereka berdua.

Komputer “Deep Blue” (IBM) mengalahkan Garry Kasparov (1997). Mesin catur seperti Stockfish, AlphaZero mendominasi analisis dan permainan. Catur di Era Digital (abad ke-21) memunculkan Platform Online dan situs seperti Lichess, Chess24 dengan jutaan pemain aktif.

Turnamen online (misalnya: Taimanov Rapid, Chess960). Format catur-cepat Bullet (1 menit), Blitz (3–5 menit), Rapid (10–60 menit) semakin populer. Catur menjadi olahraga intelektual yang diakui IOC (Komite Olimpiade Internasional).

Lain jaman, lain masalah: 

Kasus skandal Hans Niemann vs Magnus Carlsen 2022 meledak justru karena tuduhan curang pakai bantuan mesin KB (Kecerdasan Buatan), FIDE bikin Anti-Cheating Commission.

Catur masuk ke Indonesia pada awal abad ke-20 (masa kolonial). Federasi Catur Indonesia (anggota FIDE sejak 1950-an) dengan para tokoh legendaris semisal GM Herman Suradiraja (GM pertama Indonesia); GM Utut Widyanto yang pertama mendirikan Sekolah Catur; GM Irine Kharisma Sukandar (beberapa kali juara perempuan Asia). Turnamen nasional, sekolah catur, dan komunitas online berkembang pesat di Indonesia.

Chaturanga dari India hingga catur digital masa kini, permainan papan ini telah mengalami transformasi luar biasa, baik dalam aturan, teknologi, maupun kebudayaan. Olah Otak dalam bentuk pertandingan catur tetap relevan sampai masa kini karena menggabungkan unsur strategi, seni, logika, emosi dan sains.

 


Manusia Pertama Dibunuh Robot

Sebelumnya

Prinsip Antropik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana