Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
FILSAFAT Yunani kuno memiliki teori tentang temperamen manusia yang dikenal sebagai "Teori Empat Temperamen". Teori ini digagas oleh Hippocrates (460-370 SM) dan kemudian dikembangkan oleh Claudius Galenus (129-216 M). Menurut teori ini, ada empat jenis temperamen manusia, yaitu:
1. Sanguin (Sanguine): orang yang optimis, ramah, dan impulsif.
2. Kolerik (Choleric): orang yang percaya diri, kuat, dan agresif.
3. Melankolik (Melancholic): orang yang introvert, analitis, maka pesimis.
4. Flegmatik (Phlegmatic): orang yang tenang, stabil, maka kurang dinamis.
Teori ini didasarkan pada konsep empat unsur alam (tanah, air, udara, dan api) dan empat cairan tubuh (darah, lendir, empedu kuning, dan empedu hitam). Percaya atau tidak, sebagai pendiri Pusat Studi Humorologi saya menemukan data sejarah kebudayaan bahwa semula istilah humor berasal dari empat jenis cairan tubuh yang sama sekali tidak bersuasana jenaka maka beda dari makna humor di masa kini.
Menurut pendapat subyektif saya pribadi yang sangat terbuka untuk dikritik, Teori Empat Temperamen memiliki kelemahan, yaitu terlalu kaku, beku, baku serta teguh batu karang, tanpa berani mengakui realita kompleksitas emosi manusia.
Pada hakikatnya, manusia memang dapat memiliki sifat yang berubah secara berkelanjutan tergantung pada situasi-kondisi ruang dan waktu di mana teori suasana perasaan lebih dapat menjelaskan fenomena ini.
Berdasar teori suasana perasaan yang lebih konteksual ketimbang konsepsual, manusia dapat memiliki sifat sanguinik saat sedang bahagia, melankolik saat sedang sedih, kolerik saat sedang tegang menghadapi tantangan, maupun flegmatik saat sedang santai.
Kontekstual tergantung apa yang sedang dilakukan seperti seorang petinju dalam kehidupan sehari-hari mungkin terkesan sanguinik bahkan melankolik tetapi di atas ring tinju mendadak berubah menjadi hiper kolerik demi agresif menyerang dan merobohkan lawan!
Pendidikan militer cenderung menyeragamkan karakter manusia menjadi satu sifat yaitu disiplin dan patuh pada instruksi atasan tanpa syarat.
Mr Hyde & Dr Jeckyll mahakarya Robert Louis Stevenson berkisah seorang dokter yang budiman pada siang hari namun mendadak di malam hari menjadi monster pembunuh yang bengis!
Secara politis, temperamen ambigu semisal Sengkuni yang dianggap penasihat paling bijak dan setia oleh Kurawa namun oleh Pandawa dihujat sebagai seorang penghasut keji dan durjana memicu Bharatayudha. Seorang politikus sejati berperan adaptif sebagai bunglon di mana tidak ada kawan dan lawan abadi. Kemarin kawan hari ini lawan esok hari entah apa.
Segenap indikasi tersebut menyadarkan kita semua bahwa pada hakikatnya sifat emosi manusia terlalu multi kompleks untuk begitu saja digerus lalu diramu menjadi satu senyawa kemudian diseragamkan seperti yang dilakukan oleh Sigmund Freud atau Adam Smith sehingga terpaksa curang dibalut dalih cetirus paribus.
Manusia bukan mesin atau robot yang tidak punya perasaan maka memiliki sifat statis dalam arti tetap begini ini maupun begitu itu. Justru komputer yang kini disebut sebagai Kecerdasan Buatan sengaja diprogram oleh manusia sedemikian rupa untuk mampu fleksibel menyesuaikan diri dengan kepribadian kawan berbincang.
Pada hakikatnya selama masih hidup, perasaan manusia dinamis dalam arti tidak kaku, tidak beku, tidak statis kecuali sudah menghembuskan nafas terakhir demi meninggalkan dunia fana ini.




KOMENTAR ANDA