post image
Dahlan Iskan mengamati foto-foto perjalanan Soetjipto Nagaria, pendiri Summarecon./Disway
KOMENTAR

Oleh: Dahlan Iskan, Wartawan Senior 

SEKOLAH penting, tapi ke Discovery juga bisa mendapatkan inspirasi: Summarecon Discovery. Lokasinya di Kelapa Gading, Jakarta.

Saya ke sana kemarin siang. Gratis. Siapa pun boleh masuk. Summarecon Discovery dibangun untuk menandai usia 50 tahun Kota Terpadu Kelapa Gading –sekaligus 50 tahun usia perusahaan pengembang Summarecon.

Kala itu Kelapa Gading masih rawa. Soetjipto Nagaria masih muda. Tapi ia sudah berpengalaman membangun perumahan kecil-kecilan bersama teman-temannya. Lalu memiliki ide membangun perumahan yang luas. Bukan lagi perumahan, tapi satu kawasan kota yang terpadu: semua kebutuhan dasar penghuninya terpenuhi di satu lokasi. Langkah pertamanya di rawa-rawa Kelapa Gading.

Discovery semacam museum tapi bukan museum. Ini visualisasi perjalanan 50 tahun Summarecon. Semacam bentuk rasa syukur dan laporan pertanggungjawaban selama masa kerja 50 tahun.

Saya ditemani Presiden Direktur Summarecon Adrianto P. Adhi –dan sejumlah Summareconer, sebutan untuk awak perusahaan itu. Tidak terlihat pendiri dan pemilik Summarecon: Soetjipto Nagaria dan istri, Liliawati Rahardjo.

Ulang tahun ke-50 itu memang juga diwarnai dengan pergantian generasi. Dari Soetjipto ke generasi kedua: Soegianto Nagaria dan Herman Nagaria. Hanya dua orang itu anaknya. Merekalah yang kini secara penuh mengendalikan perusahaan.

Soetjipto, 86 tahun, masih sehat. Ketika ke Summarecon Bekasi kapan itu, saya ketemu Pak Soetjipto, istri, dan anak-anaknya. Soetjipto sendiri setelah regenerasi ini hanya ke kantor sekali dalam dua minggu.

Sebenarnya ''kaderisasi kepemimpinan'' generasi kedua itu sudah berlangsung sejak 10 tahun lalu: 2015. Selama 10 tahun itu kiprah sang anak dimonitor dari dekat oleh orang tua. Mulus. Lancar. Tidak ada gejolak. Bahkan terjadi akselerasi. Lebih dinamis. Begitulah anak muda –kalau diberi kepercayaan.

"Sejak tahun 1975, sampai tahun 2015, selama 40 tahun, Summarecon hanya punya tiga proyek. Kelapa Gading, Bekasi, Serpong," ujar Adhi yang alumnus SMAN 1 Solo dan Universitas Diponegoro, Semarang.

"Hanya dalam 10 tahun terakhir bertambah enam proyek. Bandung, Bogor, Bali, Karawang, Makassar, dan Crown Gading," ujar Adhi.

Rupanya Kelapa Gading, Bekasi, dan Serpong adalah fondasi yang kuat bagi perkembangan cepat selanjutnya. Berarti Summarecon cukup sabar: perkokoh dulu tiga fondasi itu. Biar benar-benar kuat. Sampai tunggu selama 40 tahun. Agar bisa dipakai lompatan tinggi oleh generasi kedua.

Discovery terdiri dari 12 ruang pajang. Belum termasuk cafe dan toko suvenir. Salah satu ruangan penting bagi saya adalah: dipajangnya prestasi-prestasi Summareconers di situ. Prestasi itu terkait dengan peningkatan kualitas hunian. Semuanya berupa teknologi terapan. Tepat guna. Sekaligus solusi bagi masalah yang dihadapi sehari-hari di lapangan.

Misalnya: alat pengecek apakah lantai rumah di Summarecon dipasang dengan benar atau tidak. Summareconers menemukan alat seperti mainan anak-anak masa lalu: tongkat beroda. Roda itu menggerakkan alat pemukul berupa bola golf. Di mainan anak-anak yang dipukul adalah gendang mini di atas roda. Di Summarecon, pemukul itu memukul keramik di lantai.


Dahlan Iskan mencoba alat pengetes keramik buatan Summareconers.--

Maka petugas cukup mendorong tongkat beroda itu keliling lantai rumah baru. Pukulan yang digerakkan roda itu menimbulkan suara. Dari suara keramik bisa diketahui apakah di bawahnya ada rongga. Rongga itu akan menyebabkan keramik pecah di masa depan.

"Kami mendapat 15 hak paten," ujar Adhi. Sertifikat patennya juga dipajang di situ.

Di Summarecon rupanya bekerja pun harus sambil berpikir. Itu pula yang pernah saya sampaikan waktu berkunjung ke proyek jalan tol tersulit di Indonesia: Semarang-Sayung –arah Demak. Melihat tingkat kesulitannya rasanya lima doktor bisa lahir dari proyek itu. Juga beberapa hak paten.

Mereka harus terus melakukan penelitian atas tingkat kesulitan yang begitu tinggi: di bawah lokasi proyek itu seperti tidak ada dasar. Hanya air dan lumpur. Sedalam apa pun. Lokasi itu seperti sudah menjadi perluasan laut Jawa ke arah selatan. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan fondasi bambu yang diapungkan.

Tentu penggarapannya akan sangat lama. Mungkin karena tidak sabar kemarin beredar video seolah jalan tol Semarang-Sayung-Demak sudah bisa dilewati. Di video itu terlihat mulusnya. Juga indah pinggir lautnya. Memang akan seperti itu kalau jadi. Kelak.

Di ruang lain Discovery ditampilkan perjalanan hidup sang pendiri. Tapi Soetjipto dikenal sebagai orang yang sangat low profile. Anda sudah tahu: nama Soetjipno jarang dikibar-kibarkan. Hanya sesekali muncul di daftar salah satu dari 50 orang terkaya Indonesia.

Tapi perancang Discovery tidak habis akal. Diciptakanlah sosok Soetjipto dan istri lewat artificial intelligence. Lalu dibuatkan videonya. Misalnya saat Soetjipto-AI main tenis dan berenang. Begitulah AI bisa menggambarkan perjalanan hidupnya secara lengkap.

"Apakah beliau pernah berkunjung ke sini?"

"Tentu pernah. Beberapa kali. Sering juga membawa tamu ke sini," ujar Adhi.


VVIP Selamanya?

Sebelumnya

Langit Sumur

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway