post image
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

LAIN padang, lain belalang. Lain bangsa, lain dapur. Maka beda dapur Jepang beda dari dapur Jerman yang juga beda dari dapur Indonesia. Bahkan dapur Sunda beda dari dapur Jawa apalagi dapur Aceh dan dapur Papua.

Dapur Sabang beda dari dapur Merauke. Bau dapur juga saling beda satu dengan lain-lainnya. Dapur India bau kari, dapur Jerman bau sauerkraut. Zao Chen adalah Dewa Dapur China.

Pada hakikatnya, dapur bukan sekedar tempat masak namun altar kebudayaan. Orang kaya, lazimnya punya dua dapur yaitu dapur kotor dan dapur bersih.  Mari kita telah peralatan dapur tradisional Indonesia:

1. Pisau: tajam ke luar, tumpul ke dalam agar jangan sampai melukai tangan pengguna namun saat mengupas bawang merah tetap bikin sang pengupas nangis
2. Wajan: untuk menggoreng tiada lawan
3. Sutil: siap berkorban masuk ke minyak mendidih demi menggarap hidangan
4. Cobek: tanpa alat dapur tradisional ini, Nusantara tidak punya sambal
5. Dandang: mandraguna untuk menanak nasi
6. Saringan: mencegah hal-hal tidak diinginkan masuk ke dalam hidangan

Sementara peralatan dapur modern antara lain adalah:

1. Rice cooker: lazim untuk setiap dapur modern masyarakat pemakan nasi
2. Microwave: ideal mempercepat pemanasan makanan tapi kurang ideal untuk bikin kalio atau gulai apalagi rendang
3. Kompor listerik: menggantikan kompor api
4. Presto Cooker: Semarang tersohor dengan Bandeng Presto yang durinya lunak akibat dimasak dengqan tekanan. Hati-hati harus punya ventil penyelamat agar cooker tidak meledak sesuai hukum Boyle.
5. Oven: ideal untuk bikin roti dan sejenisnya
6. Mixer: ketimbang capek mengocok telur lebih ideal pakai mixer yang sibuk bekerja sementara kita sibuk main hape.
7. Kukusan: alternatif dandang untuk mengukus bolu kukus dan bakpao
8. Kulkas menyimpan makanan segar agar awet maupun makanan basi yang dibuang sayang

Dapur Jepang tersohor dengan teppanyaki. Dapur Swiss tersohor dengan fondue sementara dapur China termashur dengan hot pot yang kembarannya di dapur Jepang disebut sebagai Shabu-Shabu.

Eropa dan Amerika Serikat kreatif bikin barbeque siap digunakan di alam terbuka. India punya martabak sama sekali beda dari martabak Indonesia. Pasta memang penemuan asli koki Italia tetapi sebenarnya apa yang disebut sebagai pizza bukan berasal dari Italia namun Amerika Serikat. 

Sama halnya fortune-cookies dan dim-sum berasal dari restoran diaspora Chinese di luar daratan China. Terutama San Fransisko di pesisir California, Amerika Serikat. Kini ekonomi kreatif dalam bentuk kuliner China lebih berkembang di Vancouver, Kanada ketimbang Hongkong yang kini sudah dikembalikan oleh Inggris ke China.

Akibat didukung penuh oleh pemerintah Thailand, kini restoran Thailand mulai menggeser restoran China di mancanegara. Di Bath, Inggris, saya sempat makan rendang terlezat di sebuah restoran Thailand, tetangga Museum Jane Austen di Bath, Inggris.

Di Johannesburg, Afrika Selatan saya lebih mudah menemukan restoran Thailand ketimbang China apalagi Indonesia. Restoran Korea dan Drama Korea merajalela ke seluruh pelosok dunia sebagai komoditas ekspor ekonomi kreatif utama Korea Selatan. Korea Utara lebih sibuk bikin peluru kendali moncong nuklir ketimbang bikin restoran.

Sementara di Seoul, saya bingung memilih restoran Korea yang jumlahnya berlimpah ruah, di Pyongyang saya sibuk mencari restoran Korea yang jumlahnya sangat terbatas.

Pendek kata: lain padang lain belalang, lain bangsa lain dapur bahkan lain daerah juga lain dapur. Belum terhitung dapur dadakan yang mengemban tugas mulia bikin Makanan Bergizi Gratis tanpa meracuni anak-anak.

Para korban malapetaka gempa seperti tsunami di Aceh serta banjir di Sumatera Utara yang kehilangan dapur pribadi masing-masing tetap bisa makan dan minum di dapur umum darurat sesuai sila ke dua Pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

 


Imam Hoja Bermain Logika

Sebelumnya

Kritik Terhadap Teori Empat Temperamen

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana