"Apakah setuju dengan penggambaran dirinya lewat AI itu?"
"Beliau tidak ada komentar. Hanya senyum-senyum," katanya.
Dari Discovery ini saya baru tahu bahwa sejarah Soetjipto sudah amat sangat panjang di republik ini. Ia sudah keturunan ke-22 yang lahir di Indonesia –sejak nama itu belum ada. Kakek buyutnya adalah salah seorang pendiri ITB.
Soetjipto sendiri alumnus teknik kimia ITB. Ia berbuat banyak untuk almamaternya itu. Satu hektare tanah di Summarecon Bandung dijadikan pusat inovasi ITB. ITN Innovation Park Bandung Technopolis.
Pun sebagai alumnus SMA Pahoa, Jakarta. Soetjipto juga menyisihkan tanah untuk menghidupkan kembali sekolahnya yang sudah lama mati –lebih tepatnya dimatikan di tahun 1966.
Pahoa adalah sekolah Tionghoa yang sangat terkenal. Larisnya maupun mutunya. Kata ''Pa'' diambil dari nama jalan di depan sekolah itu: Jalan Patekoan. Kata ''Hoa'' dari Tionghoa. Lokasinya di Jakarta Kota. Jalan Patekoan kini bernama Jalan Perniagaan. Ketika Orde Baru menutup Pahoa, gedung sekolahnya untuk SMAN 19 Jakarta. Sampai sekarang.
Pahoa didirikan di tahun 1900. Pernah dimatikan oleh Jepang: saat Jepang menjajah Indonesia.
Tapi Pahoa hanya dua tahun mati. Jepang mengizinkan lagi asal ada pelajaran bahasa Jepang.
Tapi peristiwa tahun 1966 membuat Pahoa mati panjang: mati 40 tahun.
Baru di tahun 2008, para alumnus Pahoa mendirikan sekolah itu di Summarecon, Serpong. Kembali menjadi sekolah unggulan. Sekolah tiga bahasa: Indonesia, Inggris, Mandarin. Soetjipto jadi tokoh sentralnya.
Dari 12 ruang di Discovery yang paling menitikkan air liur adalah ruang terakhir. Temanya: Sejuta Kuliner di Kelapa Gading. Anda rasakan sendiri aneka menu menggiurkan di situ. Menu imitasi yang untuk merasakan senyatanya Anda tinggal ke resto di sekelilingnya.




KOMENTAR ANDA