post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping  diperkirakan juga akan berdampak pada ketegangan yang sedang terjadi di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, kepada redaksi mengatakan, setidaknya ada lima skenario yang perlu diperhatikan. 

Skenario pertama adalah de-eskalasi taktis lewat China sebagai penengah. China menawarkan kerangka negosiasi nuklir baru bagi Iran.

“Trump menerima skenario ini bila dapat dijual sebagai keunggulan dirinya dari Joe Biden yang gagal membawa Iran kembali kepada kesepatan nuklir semacam JCPOA tahun 2015. Walaupun kita semua ingat, Trump lah yang menarik diri dari JCPOA 2015,” ujar Teguh.

Skenario kedua, AS mengalihkan fokus bila pertemuan Trump dan Xi menghasilkan kesepakatan dagang. Bila AS memalingkan wajah, Iran akan memanfaatkan ruang kosong dengan meningkatkan aksi lewat proksi untuk menekan Israel. Bila itu yang terjadi, AS akan merespons dengan serangan terbatas dan menghindari perang besar.

Skenario ketiga, AS melanjutkan tekanan pada Iran dan China memberikan dukungan terbatas pada hal itu. Skenario ini didasarkan pada kalkulasi bahwa China tidak mau perang terbuka mengganggu Selat Hormuz dan membuat harga minyak menjadi semakin tidak terkendali. 

“AS kembali memberikan sanksi keras diikuti blokade laut terbatas. Adapun Iran akan bertahan dengan menjual minyak lewat jalur gelap ke China,” sambungnya..

Skenario keempat, AS dan China sepakat mengorbankan Iran. Ini bisa terjadi bila Trump dan Xi deal soal Taiwan dan perdagangan. 

“Di belakang layar China tidak akan menghalangi tekanan AS ke Iran. Hasilnya, Iran tentu saja terisolasi dan risiko konfrontasi langsung naik karena Teheran merasa tidak punya pilihan selain unjuk kekuatan,” masih ujar Teguh.

Adapun skenario kelima, menurutnya, adalah yang paling mungkin terjadi, yakni status quo dengan retorika tinggi. Perang kata-kata berlanjut, serangan siber, insiden kecil di laut. Namun tidak ada ledakan besar.

Selain menguraikan kelima skenario itu, alumni Universitas Padjadjaran (Unpad) yang juga mengajar Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) mengatakan ada tiga faktor utama yang menjadi penentu. 

Pertama, harga minyak. Bila harga minyak tidak terkendali dan naik tajam, semua pihak akan menahan diri.  Kedua, bila Iran dalam program nuklir yang mereka kembangkan mencapai tingkat pengayaan lebih dari 60 persen, tentu AS akan kembali memberi respons keras. Dan sebaliknya, bila Iran menggunakan nuklir untuk tujuan damai seperti sebelumnya, AS tidak akan memberikan tekanan.

Pemilu sela di AS bulan November 2026 mendatang juga merupakan faktor penting yang harus diperhatikan. Trump mungkin sekali akan mengurangi hingga menghentikan aksi di kawasan Teluk sebelum pemilu berikutnya.

Namun Teguh juga mengatakan, pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping sebenarnya tidak terkait langsung dengan ketegangan antara AS dan Iran. 

“Singkatnya, China bisa jadi rem atau katalis  yang meredakan ketegangan. Tapi keputusan akhir tetap ada di atas meja perundingan Donald Trump dan Mojtaba Khamenei,” demikian Teguh.


Timur Tengah Masih Membara: Ambisi “Board of Peace” AS Persulit Kemerdekaan Palestina

Sebelumnya

GREAT Institute: Ketegangan Timur Tengah Mengancam, Mitigasi ASEAN Diapresiasi Matang

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia