post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Maskapai nasional Polandia, LOT Polish Airlines, resmi membawa raksasa produsen pesawat asal Amerika Serikat, Boeing, ke meja hijau. Meskipun saat ini masih mengoperasikan puluhan unit Boeing 737 MAX, LOT memilih jalur hukum untuk membongkar apa yang mereka sebut sebagai praktik penipuan dan penyembunyian informasi keselamatan yang sengaja dilakukan oleh pihak pabrikan.

Kasus ini berakar pada masa kelam Boeing antara tahun 2018 dan 2019, ketika dua kecelakaan fatal yang melibatkan maskapai Lion Air dan Ethiopian Airlines terjadi. Insiden tersebut mengakibatkan pelarangan terbang (grounding) global bagi armada 737 MAX selama 20 bulan. LOT mengeklaim bahwa Boeing secara sadar menyembunyikan cacat desain pada sistem Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) demi menjaga target penjualan jet lorong tunggal tersebut.

Bagi LOT Polish Airlines, kehadiran Boeing 737 MAX awalnya diproyeksikan sebagai kunci pemulihan finansial perusahaan pada akhir dekade 2010-an. Dengan efisiensi bahan bakar yang unggul, jet ini diharapkan mampu menekan biaya operasional. Namun, keputusan grounding yang berkepanjangan justru menyebabkan kerugian pendapatan yang masif bagi maskapai, yang kemudian diperparah oleh hantaman pandemi COVID-19 pada tahun 2020.

Dalam persidangan, kuasa hukum LOT, Anthony Battista, menyatakan bahwa kasus ini adalah tentang "kebohongan dan tipu daya Boeing" yang menyebabkan kerugian finansial yang sangat merusak. Mantan eksekutif LOT, Maciej Wilk, juga bersaksi di depan juri bahwa janji utama Boeing adalah kemudahan transisi pilot dari tipe 737NG ke 737 MAX tanpa memerlukan pelatihan ulang yang ekstensif—sebuah strategi pemasaran yang akhirnya menjadi bumerang bagi keselamatan penerbangan.

Di sisi lain, tim hukum Boeing menanggapi gugatan tersebut dengan nada agresif. Mereka menuduh LOT bersikap munafik karena menuntut ganti rugi atas dasar penipuan, namun di saat yang sama masih terus mengandalkan dan menerbangkan pesawat 737 MAX sebagai tulang punggung armada mereka. Boeing berpendapat bahwa jika maskapai benar-benar merasa tertipu oleh produk tersebut, mereka tidak akan terus mengoperasikannya secara aktif.

Berdasarkan data terbaru dari ch-aviation, LOT memang masih sangat bergantung pada jenis pesawat ini. Saat ini, maskapai tersebut mengoperasikan 26 unit Boeing 737 MAX 8 dengan rata-rata usia pesawat 3,8 tahun. Bahkan, LOT masih memiliki pesanan empat unit tambahan, yang jika seluruhnya terkirim, akan membuat total armada 737 MAX mereka mencapai 30 unit di masa depan.

Pertarungan hukum ini menjadi sangat unik karena dilakukan secara terbuka, berbeda dengan banyak maskapai lain yang memilih penyelesaian di luar pengadilan melalui kompensasi rahasia dari Boeing. Hasil dari persidangan ini akan dipantau ketat oleh industri penerbangan global sebagai tolok ukur pertanggungjawaban pabrikan pesawat terhadap transparansi data keselamatan kepada para operatornya.


Ke Mana Larinya Aluminium Sisa Kecelakaan Pesawat?

Sebelumnya

Pesawat Turkish Airlines Terbakar di Kathmandu, 288 Orang Dievakuasi Darurat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel AviaNews