post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Sektor industri pengolahan tumbuh 3,96% YoY, ditopang nikel dan turunannya yang melonjak 60,60% atau USD1,23 miliar. Sektor pertambangan turun 11,17% karena batubara turun 8,35%, dan pertanian turun 32,18% karena kopi anjlok. Dekomposisi harga versus volume khas: nilai ekspor nikel naik 60,60% sementara harga global hanya naik 12,8%, sehingga volume diperkirakan naik 42%, dampak nyata hilirisasi.

Sebaliknya nilai ekspor batubara turun 8,35% padahal harga batubara global naik, sehingga volume diperkirakan turun 20-26%, konsisten dengan impor batubara Tiongkok dari Indonesia yang turun 12,26% pada 2025. Indonesia bertumpu pada hilirisasi nikel, sambil kehilangan volume di batubara, pertanian, dan migas.

Ketergantungan struktural pada komoditas menjadi titik kerentanan. Empat golongan utama hasil olahan komoditas (minyak nabati, bahan bakar mineral, besi-baja, nikel) menyumbang sekitar 39% total ekspor Januari-Maret 2026.

Digabung migas, pertambangan, dan pertanian, ketergantungan ekspor pada komoditas alam dan turunannya melampaui 50%. Pangsa industri pengolahan terhadap PDB justru menyusut dari 19,25% menjadi 19,07%. Agenda hilirisasi menunjukkan hasil di subsektor nikel, tetapi hilirisasi satu komoditas bukan transformasi struktural.

Tanpa diversifikasi ke manufaktur non-komoditas seperti elektronik, mesin presisi, atau farmasi, Indonesia tetap rentan saat siklus komoditas berbalik.

Pada sisi impor, barang modal melonjak 24,02% menjadi USD12,98 miliar terutama mesin/peralatan mekanis; bahan baku/penolong naik 6,89% menjadi USD43,17 miliar. Investasi industri aktif, tetapi dibayar dengan devisa di muka sementara pemulihan ekspor butuh waktu.

Secara teori pelemahan rupiah seharusnya memperbesar surplus. Yang terjadi sebaliknya: permintaan impor Indonesia inelastis terhadap nilai tukar karena energi, barang modal, dan bahan baku tidak mudah disubstitusi jangka pendek, sementara ekspor didominasi komoditas yang harganya ditentukan pasar global. Kurs sudah membayar harga depresiasi, tetapi neraca dagang tidak mendapatkan manfaatnya.

Keenam, NPL kredit pemilikan properti naik dari 3,08% (Desember 2025) ke 3,24% (Februari 2026), sementara PDB Real Estat hanya tumbuh 3,54%, terendah di sektor jasa. Sektor properti adalah barometer kelas menengah, dan barometer ini sedang tertekan.

Lalu apa alternatifnya?

Bila tekanan kurs dan yield berlanjut, pemerintah berisiko mengaktifkan Bond Stabilization Fund (BSF) secara formal. Langkah ini berisiko ditangkap pasar sebagai pengakuan bahwa otoritas menilai pasar SBN membutuhkan intervensi setingkat krisis, terlepas dari niat preventif.

Persepsi tersebut historis cenderung memperburuk reaksi investor, sebagaimana pernyataan Menkeu Purbaya 11 Mei 2026 yang justru menahan aktivasi BSF dengan alasan pasar bond belum krisis. Alternatif yang lebih sustainable adalah memperbaiki kualitas belanja, bukan menambah amunisi stabilisasi.

Dua arah bisa ditempuh. Pertama, percepatan belanja modal yang baru terealisasi 12,5% pagu setahun di Triwulan I-2026 (Rp35,4 triliun) padahal dampaknya pada kapasitas produksi dan pertumbuhan jangka menengah lebih besar dari belanja barang yang sudah 15,7% pagu termasuk Rp54,4 triliun MBG.

Kedua, reformasi subsidi BBM yang secara nominal masih dinikmati lebih banyak oleh kelompok menengah dan atas, dengan mengalihkan sebagian alokasi ke bantuan langsung tunai untuk desil pendapatan terbawah sebagaimana preseden 2022. Dua arah ini secara politik lebih sulit dan tidak menghasilkan headline 5,61% dalam tiga bulan, tetapi keduanya menjawab pertanyaan yang sedang diabaikan: pertumbuhan yang berkualitas atau berkuantitas.

Penutup.

Jika judulnya "Ketika Angka Pertumbuhan Ekonomi Dipertanyakan", fokus seharusnya bukan pada perbandingan 5,61% dengan angka alternatif yang selisihnya tipis, melainkan pada siapa yang membayar ongkos pertumbuhan ini. Kelas menengah yang penghasilan riilnya tergerus depresiasi rupiah.

PDB per kapita dalam USD yang menjauh dari target Indonesia Emas 2045 walau headline pertumbuhan tetap di 5%. Fiskal yang defisit primernya sudah melampaui pagu tahunan dalam satu kuartal, di atas beban bunga utang yang naik 18,6% YoY pada kuartal yang sama.

Sektor properti yang NPL-nya merangkak naik. Cadangan devisa yang dikuras untuk menahan rupiah. Surplus perdagangan yang menyusut justru ketika rupiah jauh lebih lemah, dengan struktur ekspor yang masih bergantung pada komoditas dan hilirisasi tunggal di sektor nikel.

Enam vektor stres ini berjalan bersamaan, jauh lebih substantif daripada perdebatan inventori dan listrik. Pertanyaan yang sudah diangkat INDEF, LPEM FEB UI, dan CELIOS layak diperdalam, bukan dikecilkan. Substansinya adalah ongkos yang sedang dibayar berbagai kelompok masyarakat untuk mempertahankan pertumbuhan di tingkat ini.


Soal Pengusaha Simpan Uang Dalam Dollar dan Di Luar Negeri

Sebelumnya

Rupiah, Persepsi Risiko, dan Bahasa Kekuasaan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Ekbis