post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budawayan dan Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

PARA ahli biologi sepakat: di dunia ini ada Homo sapiens, Homo erectus, dan berbagai subspesies manusia lainnya. Tapi mereka lupa satu spesies paling produktif abad 21: Homo hoaxiensis.

Spesies ini unik. Ia satu-satunya makhluk hidup yang secara sadar menciptakan kenyataan palsu, menyebarkannya dengan bangga, lalu marah-marah kalau ada yang membantah. Mamalia lain menipu untuk bertahan hidup. Homo hoaxiensis menipu untuk mendapatkan 200 likes.

Homo hoaxiensis tidak punya sarang. Habitatnya adalah grup WhatsApp keluarga, kolom komentar Facebook, dan linimasa X pukul 2 pagi. Ciri fisiknya tak kasatmata. Yang terlihat hanya jempol kanan yang sangat aktif menekan tombol forward tanpa membaca.

Ia berkembang biak dengan cara copy-paste. Satu hoax lahir, dalam 3 menit sudah punya 50 keturunan. Mutasinya cepat: “Vaksin bikin mandul” berevolusi jadi “Vaksin bikin bisa ngomong sama 5G”.

Seleksi alam? Tidak ada. Yang penting viral. 

Evolusi paling mutakhir dari spesies ini adalah munculnya Homo hoaxiensis mercenarius—produsen hoax berbayar. Mereka tidak bikin hoax untuk seru-seruan. Mereka dibayar.

Tugasnya jelas: membunuh karakter pihak tertentu, menjatuhkan lawan politik, atau menggoreng isu agar publik lupa pada masalah yang lebih besar.

Bedanya dengan Homo hoaxiensis amatir, versi berbayar ini bekerja sistematis. Ada riset audiens, ada testing A/B judul, ada buzzer yang siap memviralkan. Hoax bukan lagi “salah kirim”, tapi produk industri. Dan korbannya bukan cuma satu orang, tapi reputasi, demokrasi, bahkan kepercayaan publik.

Makanan utama Homo hoaxiensis adalah kemarahan dan ketakutan. Semakin sensitif isu, semakin lahap ia melahapnya. Ia tidak butuh fakta. Fakta itu asam, bikin kembung.

Saat disodori sumber kredibel, ia akan menjawab, “Ini kan konspirasi media!” Saat ketahuan salah, ia akan bilang, “Kan saya cuma share, bukan bikin.” 

Saat ditanya kenapa share, ia akan menghilang dan muncul lagi dengan hoax baru.

Secara ekologis, Homo hoaxiensis tidak memberi manfaat. Ia tidak menyerbuki bunga, tidak mengurai sampah. Tapi ia jadi indikator: kalau jumlahnya naik, berarti literasi digital kita bermasalah.

Ironisnya, spesies ini hanya bisa bertahan karena ditoleransi Homo sapiens yang malas verifikasi. Tanpa audiens, Homo hoaxiensis punah. Ia butuh panggung. Dan panggung itu kita berikan gratis tiap hari.

Masa depan spesies ini ada di tangan kita. Mau berevolusi jadi Homo factcheckiens yang cek sumber dulu, atau membiarkan Homo hoaxiensis mercenarius makin merajalela sampai kebenaran jadi fosil?

Jika besok ada pesan berantai “Jangan buka kulkas malam hari, nanti ketemu pejabat jujur”, tarik napas dulu. Itu bukan sains. Itu Homo hoaxiensis lagi cari makan—kadang makanannya sudah dibayar orang.

Mari lawan bukan dengan marah, tapi dengan satu senjata mematikan: tanya sumbernya. Karena satu-satunya cara membuat Homo hoaxiensis punah adalah berhenti jadi habitatnya.


KOMENTAR ANDA

Baca Juga