Maskapai penerbangan yang berbasis di Dubai, Emirates, memutuskan untuk menangguhkan layanan penerbangan ke enam destinasi internasional pada Agustus 2026. Langkah ini diambil sebagai dampak dari meningkatnya ketegangan geopolitik serta dinamika keamanan ruang udara di kawasan Timur Tengah.
Tahun 2026 menjadi periode yang sangat dinamis bagi maskapai bendera Uni Emirat Arab (UEA) tersebut. Konflik yang melibatkan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah berdampak signifikan pada ruang udara regional, sehingga memaksa Emirates untuk terus menyesuaikan dan merancang ulang peta rutenya.
Berdasarkan analisis data penjadwalan penerbangan dari perusahaan analitik penerbangan Cirium, terdapat enam rute yang sempat beroperasi pada Agustus 2025 namun tidak masuk dalam rencana jadwal terbang pada bulan yang sama tahun ini. Seluruh rute yang ditangguhkan tersebut berangkat dari hub utama maskapai di Bandara Internasional Dubai (DXB).
Salah satu rute yang terdampak adalah penerbangan menuju Bandara Internasional Baghdad (BGW) di Irak. Emirates telah menghentikan operasional reguler ke Baghdad sejak pertengahan Maret lalu akibat situasi keamanan kawasan, meski sempat melakukan beberapa penerbangan sementara pada bulan Mei.
Emirates menargetkan untuk memulihkan kembali layanan ke ibu kota Irak tersebut mulai 1 Oktober 2026. Setelah kembali beroperasi, penerbangan harian ke Baghdad akan sepenuhnya dilayani menggunakan armada Airbus A350 untuk menggantikan peran armada Boeing 777.
Sementara itu, tiga rute lainnya dijadwalkan akan diaktifkan kembali lebih awal, yakni pada awal September 2026. Pemulihan pertama menyasar rute jarak jauh ke Algiers (ALG) di Aljazair, yang akan kembali dilayani menggunakan pesawat Boeing 777-300ER mulai 1 September 2026.
Pada tanggal yang sama, 1 September 2026, Emirates juga akan membuka kembali penerbangan menuju Bandara Internasional Bahrain (BAH). Berbeda dengan operasional sebelumnya yang menggabungkan armada Boeing 777 dan Airbus A350, penerbangan pasca-penangguhan Agustus ini akan sepenuhnya menggunakan Airbus A350.
Rute selanjutnya yang dipulihkan adalah penerbangan menuju Bandara Internasional Basra (BSR) di wilayah selatan Irak. Layanan ke Basra dijadwalkan kembali beroperasi pada 2 September 2026 dengan frekuensi lima kali seminggu menggunakan armada Boeing 777-200LR dan 777-300ER.
Meski empat rute telah memiliki kepastian tanggal pemulihan, dua destinasi lainnya masih berada dalam status penangguhan tanpa batas waktu yang pasti. Salah satunya adalah Bandara Internasional Imam Khomeini Tehran (IKA) di Iran, yang belum dapat dilayani oleh maskapai asing akibat krisis politik dan keamanan yang terus berlanjut.
Destinasi terakhir yang masih dihentikan operasionalnya adalah penerbangan menuju Damaskus (DAM) di Suriah. Layanan ke Damaskus sebenarnya telah dihentikan sejak November 2025 lalu dan hingga kini belum memiliki tanggal pasti untuk diaktifkan kembali oleh pihak maskapai.



KOMENTAR ANDA