post image
KOMENTAR

Oleh: Luhut Parlinggoman Siahaan

DI TENGAH kemajuan teknologi yang bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk beradaptasi, pendidikan menghadapi ujian yang tidak ringan. Kita hidup pada masa ketika kecerdasan intelektual semakin mudah dibentuk, tetapi karakter justru semakin sulit dipertahankan.

Nilai akademik menjadi ukuran keberhasilan, sementara kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan ketangguhan sering kali tersisih dari perhatian. Padahal, sejarah bangsa ini membuktikan bahwa peradaban tidak dibangun oleh manusia yang sekadar cerdas, melainkan oleh mereka yang memiliki ilmu sekaligus akhlak.

Di tengah realitas itulah, pesantren modern kembali menemukan relevansinya sebagai ruang pendidikan yang berusaha menjaga keseimbangan antara pengetahuan, karakter, dan spiritualitas.

Salah satu ikhtiar itu dapat dilihat di Pondok Modern An-Nur Darunnajah 8 Cidokom, Gunungsindur, Kabupaten Bogor. Berdiri pada 2006 sebagai cabang kedelapan jaringan Darunnajah, pesantren ini berkembang dari beberapa santri menjadi komunitas pendidikan dengan sekitar seribu santri di atas kawasan seluas kurang lebih 13,5 hektare.

Sistem Tarbiyatul Mu'allimin Al-Islamiyah (TMI) yang diterapkan memadukan pendidikan agama, kurikulum nasional, penguasaan bahasa Arab dan Inggris, kepemimpinan, serta pembinaan karakter dalam kehidupan berasrama selama dua puluh empat jam.

Pendidikan tidak dipahami sebagai aktivitas yang berhenti ketika bel sekolah berbunyi, melainkan sebagai proses yang berlangsung dalam setiap kebiasaan, interaksi, dan keteladanan yang dialami santri setiap hari.

Yang menarik, kekuatan An-Nur Darunnajah 8 tidak semata-mata terletak pada sistemnya, melainkan pada budaya pendidikannya. Disiplin dibangun tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.

Para ustaz, musyrif, dan pengasuh hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing yang mendampingi proses pendewasaan santri. Pendekatan inilah yang memungkinkan pendidikan karakter tumbuh secara alami melalui pembiasaan ibadah, latihan pidato, organisasi santri, kepramukaan, olahraga, hingga pengembangan minat dan bakat.

Tidak mengherankan apabila santrinya mampu meraih berbagai prestasi dalam kompetisi kebahasaan, pencak silat, kepramukaan, dan beragam perlombaan lainnya. Lebih penting lagi, sejumlah alumninya berhasil menunjukkan kapasitas di ruang publik, termasuk meraih prestasi akademik pada Pendidikan Pembentukan Bintara SPN Polda Jawa Barat.

Prestasi semacam itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada piala yang dipajang, melainkan tampak pada kualitas manusia yang dihasilkan.

Namun, ukuran keberhasilan sebuah pesantren sesungguhnya tidak hanya terletak pada prestasi atau kelengkapan fasilitas. Yang jauh lebih penting ialah kemampuannya membangun kepercayaan. Dalam hal ini, An-Nur Darunnajah 8 menunjukkan ikhtiar yang patut diapresiasi melalui komunikasi yang terbuka dengan para wali santri.

Di bawah kepemimpinan para masyayikh dan Wakil Pengasuh Ustaz Rifdy Izdihar Sofwan, Lc., M.A., semangat "Mohon Doa dan Prasangka Baiknya" mencerminkan kesadaran bahwa pendidikan merupakan kerja bersama antara keluarga dan lembaga pendidikan. Ketika rumah dan pesantren saling menguatkan, pendidikan tidak lagi sekadar memindahkan ilmu, tetapi membentuk watak dan kepribadian yang akan dibawa anak sepanjang hidupnya.

Pada akhirnya, tidak ada lembaga pendidikan yang dapat mengklaim dirinya paling sempurna. Setiap anak memiliki potensi, karakter, dan kebutuhan yang berbeda.

Namun, di tengah kecenderungan dunia pendidikan yang semakin berorientasi pada hasil instan dan kompetisi semata, An-Nur Darunnajah 8 Cidokom menghadirkan sebuah pengingat bahwa tujuan pendidikan yang paling hakiki bukanlah sekadar mencetak lulusan, melainkan membentuk manusia yang utuh.

Ketika ilmu pengetahuan dipertemukan dengan akhlak, disiplin dijalankan bersama keteladanan, dan prestasi dibangun di atas fondasi integritas, pendidikan tidak hanya melahirkan generasi yang siap menghadapi masa depan, tetapi juga generasi yang mampu memberi arah bagi masa depan bangsa.

Dalam konteks itulah, An-Nur Darunnajah 8 Cidokom layak dibaca bukan semata sebagai sebuah pesantren, melainkan sebagai salah satu ikhtiar yang patut dicermati dalam upaya menemukan kembali ruh pendidikan Indonesia.


Komitmen Prabowo Perkuat Ekonomi Kerakyatan dan Ketahanan Pangan Kembali Diapresiasi

Sebelumnya

SPEDA: RUU Perampasan Aset Harus Masuk Prioritas Prolegnas 2026

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional