post image
Dari kiri ke kanan: Wakasad Letjen TNI Tandyo Budi Revita, Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, dan Irjen Kemhan Letjen TNI Dr. Rui Fernando Guedes Palmeiras Duarte.
KOMENTAR

Dinamika pergantian jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) mulai menjadi sorotan. Seiring dengan masa jabatan Jenderal TNI Maruli Simanjuntak yang telah memasuki waktu lebih dari dua tahun, sejumlah Letnan Jenderal (Letjen) TNI AD kini mencuat ke permukaan dan masuk radar sebagai calon kuat suksesor pimpinan matra darat.

Pengamat Politik dan Pertahanan Keamanan dari Universitas Nasional (Unas), Selamat Ginting, menjelaskan bahwa dalam tradisi TNI, masa jabatan lebih dari dua tahun umumnya menjadi titik acuan rotasi kepemimpinan, meskipun pejabat terkait belum memasuki purna tugas.

“Presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas TNI memiliki hak prerogatif penuh. Penunjukan KSAD adalah usulan Panglima TNI yang kemudian diputuskan Presiden,” ujar Selamat Ginting.

Merujuk pada tradisi yang berlaku, posisi KSAD biasanya diisi oleh perwira tinggi bintang tiga lulusan Akademi Militer (Akmil) angkatan 1992–1993 yang memiliki rekam jejak lengkap, mulai dari pengalaman komando, staf, hingga kewilayahan.

Dari penelusuran redaksi setidaknya ada tujuh jenderal bintang tiga di TNI AD yang dinilai pantas menempati posisi KSAD menggantikan Jenderal Maruli. Namun demikian, bisa saja ada kuda hitam lain di luar daftar itu. 

Berikut adalah daftar ketujuh letnan jenderal tersebut:

1. Letjen TNI Tandyo Budi Revita (Wakasad)
Akmil: 1992 | Kecabangan: Infanteri Kostrad
Riwayat Jabatan: Wakasad, Pangdam IV/Diponegoro, Danmen Akmil, Dirjen Bela Negara Kemhan.
Nilai Plus: Sebagai orang nomor dua di Mabesad, ia dinilai paling memahami alur komando serta keberlanjutan kebijakan KSAD

2. Letjen TNI Richard Taruli Horja Tampubolon (Irjenad)
Akmil: 1992 | Kecabangan: Infanteri Kopassus
Riwayat Jabatan: Irjenad, Dankoopsus TNI, Wadanjen Kopassus, Kaskogabwilhan I, Pangdam XVI/Pattimura.
Nilai Plus: Berpengalaman luas di medan operasi, termasuk Timor Timur, Ambon, hingga pembebasan sandera Abu Sayyaf pada 2016.

3. Letjen TNI Kunto Arief Wibowo (Pangkogabwilhan I)
Akmil: 1992 | Kecabangan: Infanteri
Riwayat Jabatan: Pangkogabwilhan I, Pangdam III/Siliwangi, Pangdivif 3/Kostrad.
Nilai Plus: Putra dari mantan Wakil Presiden Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno ini merupakan perwira AD pertama yang memimpin Kogabwilhan I serta memiliki rekam jejak kuat di komando pasukan besar dan operasi gabungan.

4. Letjen TNI Iwan Setiawan (Danpussenif)
Akmil: 1992 | Kecabangan: Infanteri Kopassus
Riwayat Jabatan: Danpussenif, Danjen Kopassus (2022–2023), Pangdam XII/Tanjungpura, Danrem 173/PVB Papua.
Nilai Plus: Dikenal sebagai penakluk Gunung Everest pada 1997 dan memiliki jam terbang operasi lapangan langsung di wilayah Papua.

Letjen TNI Dr. Rui Fernando Guedes Palmeiras Duarte (Irjen Kemhan)
Akmil: 1993 | Kecabangan: Infanteri Kopassus
Riwayat Jabatan: Irjen Kemhan, Kasatwas Unhan, Karo TU Kemhan, Athan RI di Washington D.C. & London, mantan Sat 81 Gultor.
Nilai Plus: Satu-satunya kandidat dari lingkungan Kementerian Pertahanan yang berlatar belakang intelijen, diplomasi pertahanan, dan pengawasan. Berasal dari Timor Leste, keberadaannya juga dipandang sebagai simbol kuat integrasi NKRI.

6. Letjen TNI Agung Setiawan (Pangkogabwilhan II)
Akmil: 1992 | Kecabangan: Infanteri
Riwayat Jabatan: Pangkogabwilhan II, Pangdam V/Brawijaya, Pangdam XIV/Hasanuddin, Danpaspampres.
Nilai Plus: Memiliki pengalaman ekstensif dalam pengamanan VVIP serta kepemimpinan di dua Kodam strategis di Jawa dan Sulawesi.

Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa (Pangkostrad)
Akmil: 1993 | Kecabangan: Infanteri Kostrad
Riwayat Jabatan: Pangkostrad, Pangdam IX/Udayana, Danpaspampres.
Nilai Plus: Memimpin satuan tempur strategis terbesar di TNI AD. Kostrad secara historis sering menjadi kawah candradimuka bagi calon pemimpin tertinggi Angkatan Darat.

Dalam menentukan figur KSAD yang baru, Istana diprediksi mempertimbangkan lima kriteria utama, yakni senioritas yang berarti lulusan Akmil tahun 1992 atau 1993. Juga pengalaman komando, yang berarti pernah menjabat posisi strategis seperti Pangdam, Pangkostrad, atau Pangkogabwilhan.

Calon KSAD juga diharapkan memiliki rekam jejak kepemimpinan di Mabesad, Kemhan, maupun Itjenad, serta rekam jejak operasi di lapangan di Kopassus, Kostrad, penanganan konflik, serta wilayah Papua.

Selain itu, tentu saja integritas menjadi hal yang tidak dapat diabaikan. Calon KSAD harus memiliki rekam jejak profesionalitas yang bersih.

Proses pengangkatan KSAD dilakukan melalui pengusulan beberapa nama perwira tinggi oleh Panglima TNI kepada Presiden. Selanjutnya, Presiden menentukan pilihan dan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres), sebelum dilanjutkan dengan Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) di Mabesad.

 


Pertama dalam 78 Tahun, Angkatan Udara AS Hanya Punya 4.900 Armada Aktif

Sebelumnya

Proyek F-47 Akhiri Dominasi Lockheed Martin

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer